teriak prokes

Yang Kaya Teriak Prokes, Yang Miskin Teriak Lapar

Kondisi pandemi yang semakin tidak menentu ini, membuat orang-orang semakin geram. Satu tahun lebih pandemi Covid-19 di Indonesia. Satu tahun juga masyarakat Indonesia dibuat sengsara. Ya setidaknya ini yang dirasakan banyak masyarkat Indonesia saat ini. Mulai dari si kaya dan si miskin semuanya terkena dampak pandemi Covid-19 yang menyebalkan ini.

Terlebih pemerintah yang nampak tidak serius menangani pandemi di Indonesia sendiri justru semakin membuat kita sengsara. Ya sejak kapan juga sih pemerintah kita serius, kalau urusan cuan baru serius. Iya serius membuat kebijakan seenaknya, berdalih demi kepentingan masyarakat, tapi enggak tau masyarakat yang mana.

Beberpa kebijakan yang keluar seperti PSBB, PSBB Total, PPKM,PPKM Darurat, PPKM level 3 dan 4 sebentar lagi ada level 5 kayaknya mau keluar. Kalau makan ayam Richeese itu udah tingkatan paling pedes dan paling menyiksa. Ya kaya pemerintah kita, bikin kebijakan ko banyak menyiksa masyarakat sih.

Nyatanya juga beberapa kebijakan tersebut enggak berdampak banget tuh dengan virus corona yang justru malah semakin masif tersebar. Protokol kesehatan yang sudah dibuat itu sebenarnya untuk siapa sih? Loh kok penertibanya masih tebang pilih sih. Ya saya juga jadi bingung, ini prokes kayanya punya standar gandar yang kita tidak tahu deh.

Baca Juga: Dampak Positif Keberadaan Polisi Virtual Di Media Sosial

Belakangan ini banyak kejadian mengharukan atau bahkan lebih tepatnya menjengkelkan yang dilakukan oleh aparat. Masih ingat kasus ibu-ibu hamil yang dipukul oleh Satpol PP di Gowa? Itu adalah satu dari sekian banyaknya kasus betapa seenak jidatnya aparat kita menindak orang-orang miskin.

Memang betul, mereka ditugaskan untuk menertibkan keadaaan di masa PPKM. Namun ya tidak main fisik juga dong. Memangnya mereka siapa? Ko bisa sih seenaknya mukulin orang. Tindakan koersif seperti itu memang banyak kita temukan di beberapa daerah atau bahkan kota-kota besar.

Kita faham bapak dan ibu aparat sedang menjalankan tugas. Namun mereka juga sedang menjalankan kewajibanya sebagai umat manusia dan tulang punggung keluarga. Sama seperti bapak dan ibu aparat yang harus mencari nafkah demi keberlangsungan hidup. Ya bapak dan ibu enak, nertibin orang di pinggir jalan dapat gaji. Mereka, kalau tidak seperti itu mana bisa dapat uang.

Mereka bukannya tidak mau menaati prokes, namun jika mereka tidak berjualan bagaimana perut bisa terisi? Memangnya pemerintah mau menjamin kesejahteraan rakyatnya? Ya kan engga toh. Lalu pada siapa lagi mereka bergantung? Banyak masyarakat teriak kelaparan di masa pandemi eh bansos malah dikorupsi.

Di masa yang serba sulit ini, masyarakat miskin justru semakin sulit keadaanya. Mereka yang mencari nafkah dijalan, entah itu berdagang, memulung atau mengamen sekalipun yang berjuang untuk kesejahteraan dirinya. Namun dibuat sulit oleh aturan pemerintah, ladang mereka mencari uang dibatasi. Lalu harus mencari uang kemana lagi?

Mereka yang kaya enak, melihat masyarakat miskin ditindas bilangnya seperti ini “ Ya suruh siapa tidak mematuhi protokol kesehatan yang ada. Ga boleh jualan malah maksa jualan” Kayanya orang yang berkomentar seperti ini tidak pernah merasakan mau mandi tapi shampo habis, terus kita masukin air agar busanya tetep keluar agar kita bisa tetap shampoan deh.

Geram saja melihatnya, bapak dan ibu yang kaya enak tinggal teriak-teriak prokes di Rumah. Uang tetap mengalir di kantung rekening. Bukan rahasia umum juga, selain banyak yang dirugikan, banyak juga yang diuntungkan di masa pandemi seperti ini. Bukan mau suudzon sih, tapi kita bisa melihat beberapa fakta di lapangan yah.

Salah memang jika mereka tidak menaati prokes, tapi salah juga pemerintah kalau tidak memikirkan kesejahteraan rakyatnya. Mereka seolah memaksa si miskin mati perlahan dengan kebijakan-kebijakan barunya yang semakin tidak masuk akal. Apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk masyarakat yang kurang mampu? Memberikan bantuan dana bansos 600rb? Itu pun kalau tidak dikorupsi.

600rb untuk berjuang hidup sebulan saja sepertinya tidak cukup pak. Mungkin hanya cukup untuk biaya makan seminggu dua minggu. Lalu bagaimana mereka memikirkan biaya sekolah anak? Listrik habis di Rumah? Cicilan? Gas habis? Kebutuhan Rumah habis? Pemerintah kan tidak menanggung itu semua. Makanya mereka harus tetap bekerja.

Ada baiknya kita harus sama-sama prihatin dengan kondisi seperti ini. Saya sangat mendukung apapun kebijakan pemerintah untuk menghentikan pandemi Covid-19 di Indonesia. Namun pemerintah juga harus lebih bijak dan lebih bertanggung jawab atas semua kebijakan yang dikeluarkan.

Baca Juga: Tips Bagi Orang Tua Dampingi Anak Saat KBM Daring

Untuk masyarakat yang harus tetap berjuang mencari nafkah di jalan, tetap menaati protokol kesehatan dan menjalani vaksinisasi 2 tahap agar tetap aman yah. Untuk yang memiiliki rezeki lebih mari saling bantu agar semua bisa merasakan hidup nyaman. Pemerintah tidak mau membantu rakyatnya, apa lagi yang bisa kita lakukan selain rakyat bantu rakyat bukan? Panjang umur hal-hal baik.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *