Xenoglosofilia:  Membiasakan Untuk Berbahasa Indonesia

Ivan Lanin, pertama kali saya mendengar nama itu dari mojok.co. Di situs itu ada sebuah rubrik yang bernama Movi: Mojok Video. Dimana pada saat itu penulis idola saya, Agus Mulyadi, sedang memandu acara Movi ditemani oleh Iqbal Aji Daryono yang juga penulis di mojok.co.

Saya sangat terkagum dengan kecakapan berbahasa Ivan Lanin saat berbincang bersama Agus dan Iqbal. Dalam video tersebut, sesekali ucapan yang dilontarkan oleh Iqbal dikoreksi oleh Ivan Lanin. Misalnya Tweet War. Ivan Lanin mengoreksinya menjadi Perang Tweet.

Rasa keingintahuan saya pada Ivan Lanin semakin bertambah ketika mengetahui akun twitter beliau: @ivanlanin. Saya mencoba telusuri timeline Ivan Lanin di twitter. Ada apa di sana?

Yang saya dapatkan kala itu, banyak warganet bertanya ke Ivan Lanin mengenai padanan kata. Melihat hal itu saya menjadi pengikutnya (Follower) Ivan Lanin di twitter. Sesekali saya juga bertanya mengenai padanan kata kepada Ivan Lanin melalui twitter.

Saya terus memantau cuitan-cuitan Ivan Lanin di twitter. Terkadang dia berusaha melucu, terkadang juga dia mengomentari penggunaan kata yang tidak efektif pada media arus utama. Waktu terus berjalan sampai tiba di satu waktu, saya menemukan unggahan di twitter mengenai buku Xenoglosofilia yang ditulis oleh Ivan Lanin.

Agaknya masih belum lengkap jika saya merasa kagum tapi belum membaca bukunya Ivan Lanin. Xenoglosofilia: Kenapa Harus Nginggris?

Sampulnya yang berwarna merah menyala dan judul buku yang berwarna kuning–putih, nampaknya sangat terlihat mencolok dari kejauhan. Melihat hal itu, saya merasa ungkapan jangan menilai buku dari sampulnya tak berlaku dalam hal penjualan buku. Tentu, seorang disainer harus pandai membuat desain sampul yang menarik hati pembeli.

Buku ini berisi kumpulan tulisan Ivan Lanin tentang bahasa indonesia yang digunakan sehari-hari. Oh ya, Ivan Lanin ini seorang Wikipediawan pecinta bahasa Indonesia, loh… Dan dia bukan seorang yang berlatar belakang pendidikan linguistik. Melainkan lulusan S-1 Teknik Kimia ITB dan S-2 Teknologi Informasi UI. Sejak tahun 2006, ia giat mengampanyekan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar melalui jaringan sosial seperti blog, twitter dan facebook.

Ada tiga bagian dalam buku ini. Bagian pertama: Xenoglosofilia, membahas kata-kata yang ada bahasa Indonesianya tetapi orang-orang lebih suka menggunakan bahasa asingnya. Misalnya, Nara blog yang berarti blogger. Tetikus yang berarti mouse pada komputer. Lahan Yasa yang berarti Real estate dalam bahasa inggris.

Bagian yang kedua berjudul: Tanja, membahas tentang hal-hal yang sering ditanyakan dalam penggunana bahasa indonesia. Saya sendiri suka bingung dalam menggunakan kata Misalnya dan Misalkan. Padahal ini adalah kata yang sering digunakan sehari-hari. Hanya saja saya kadang merasa tidak tepat saat menggunakannya.

Dalam bagian kedua ini saya menemukan titik terang bahwa kata Misalnya dan Misalkan merupakan dua makna yang berbeda. Kata Misalnya dipakai untuk menyebutkan contoh, sedangkan kata Misalkan untuk pengandaian

Dalam bagian ini juga menjelaskan Kaidah KPST, kaidah peluluhan atau penghilangan dalam fonem kata dasar tersaji dalam bab ini. Pada Bagian Ketiga yang berjudul: Mana Bentuk Yang Tepat? membahas kata-kata apa yang tepat untuk digunakan. Pencinta atau pecinta, provinsi atau propinsi, ke luar atau keluar dan masih banyak lainnya kata-kata umum yang acapkali tidak tepat kita gunakan.

Membaca buku ini mengingatkan saya kembali pada pelajaran bahasa Indonesia ketika sekolah. Buku ini semakin menarik ketika membuka dari halaman satu ke halaman lainnya, karena buku ini dicetak dengan desain warna-warni yang cukup menyegarkan jika dibuka kembali.

Banyak orang menjadi salah kaprah ketika menggunakan kata atau istilah dalam berbahasa. Sering kali kita jumpai istilah-istilah yang keminggris di sekitar kita. Tanpa kita sadari seakan istilah itu sudah menjadi paten. Misalnya: Security, Online, email, bill, meeting dan masih banyak lainnya.

Perlahan kita mengalami gejala xenoglosofilia, yaitu suatu kecenderungan menggunakan kata-kata yang aneh atau asing terutama dengan cara yang tidak wajar. Padahal dalam KBBI Istilah-istilah asing seperti itu sudah ada padanan katanya. Hanya saja kita seolah lebih suka menggunakan dalam istilah asing.

Mungkin ini faktor kebiasaan atau memang karena kita merasa lebih keren jika menggunakan istilah yang keminggris. Saya jadi teringat pribahasa sunda yang tempo hari disampaikan oleh Ivan Lanin, Cikaracak ninggang batu laun-laun jadi legok. Mari kita kembali utamakan bahasa Indonesia dengan merubah kebiasaan-kebiasaan keminggris itu. Bukankah kita bisa karena terbiasa?

 

Komentar
Allan Maullana

Suka terbangun pada pukul 04:12am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *