Widodo Cahyono Putro, Harapan Baru Pendekar Cisadane

Mundurnya Widodo Cahyono Putro dari kursi kepelatihan Bali United memantik reaksi amarah dari para pendukung klub berjuluk Laskar Tridatu tersebut. Ekspresi tersebut benar-benar ditunjukkan oleh para Pendukung Bali United saat pertandingan melawan Persija Jakarta di Stadion Kapten I Wayan Dipta Gianyar, awal Desember 2018 lalu.

Kontroversi memang menyelimuti keputusan Widodo Cahyono Putro untuk hengkang dari Bali United. Langkah tersebut dianggap misterius, karena sejatinya ia hanya menyisakan dua pertandingan saja di Liga 1 musim lalu. Banyaknya anggapan miring yang menyebutkan bahwa pria asal Jawa Tengah itu diminta untuk tak serius menghadapi Persija yang tengah dalam momentum positif menuju juara.

Segala anggapan tersebut saya kubur dalam-dalam agar tak menjadi prasangka buruk bagi Widodo Cahyono Putro. Meski demikian, protes besar-besaran yang dilakukan Fans Bali United kepada pihak manajemen membuktikan betapa dicintainya juru taktik berusia 48 tahun tersebut.


Pada bulan Agustus 2018 lalu saya berkesempatan mendatangi cafe milik Widodo Cahyono Putro di bilangan Gresik Kota Baru, Jawa Timur. Sebuah tempat yang ia peruntukkan untuk pecinta nongkrong dan bola di kawasan Kota Santri tersebut. Di Lantai pertama, tempat itu seperti café pada umumnya, tapi jika anda naik satu lantai ke atas, maka nama besar Widodo Cahyono Putro memang tak bisa diragukan.

Di lantai dua café tersebut ia pasang berbagai fotonya saat masih aktif mengolah si kulit bundar. Ragam kolase tersebut dilengkapi dengan beberapa seragam klub sepak bola yang pernah diperkuat oleh Widodo Cahyono Putro, mulai dari Petrokimia Putra Gresik hingga Timnas Indonesia.

Sejak era Sucipto Suntoro hingga Evan Dimas, saya menarik kesimpulan bahwa Widodo Cahyono Putro merupakan salah satu pemain terbaik di Indonesia. Soal prestasi tak perlu diragukan lagi, sebagai pemain ia pernah tercatat sebagai pencetak gol terbaik pada Piala Asia 1996 lalu. Dalam urusan trofi, ia mencatatkan sejarah menjuarai Liga Indonesia 2002 bersama Petrokimia Putra Gresik, dan tak tanggung-tanggung penghargaan pemain terbaik selama semusim juga ia sabet.

Layaknya pesepak bola lainnya, umur kemudian membatasinya untuk tetap bergerak lincah di lapangan hijau. 2004 lalu Widodo Cahyono Putro kemudian gantung sepatu di klub yang sangat ia cintai, Petrokimia Putra Gresik. Karier kepelatihan kemudian ia tempuh, dan menyisakan pertanyaan, akankah ia sesukses dahulu?

Alfred Riedl bisa dikatakan menjadi orang yang berjasa dalam kehidupan baru Widodo Cahyono Putro di dunia kepelatihan. Pria yang pernah memperkuat Persija itu dipercaya menjadi asistennya saat menangani Timnas Indonesia pada tahun 2010 hingga 2011. Sayangnya hanya medali perak yang terpasang di lehernya setelah Merah Putih dikalahkan Timnas Malaysia di final Piala AFF 2010 silam.

Widodo Cahyono Putro tak kapok, ia kemudian diangkat menjadi Pelatih Timnas U-21 Indonesia (2012), Asisten Pelatih Timnas U-23 Indonesia mendampingi bekas rekan setimnya dulu, Aji Santoso (2012), Pelatih Gresik United (2013), Madura United (2015), Sriwijaya FC (2016-17), hingga berlabuh di Pulau Dewata.

Memang, patut diakui bahwa langkah Widodo Cahyono Putro tak segemilang saat ia bermain. Tapi kariernya di Bali United cukup untuk melambungkan namanya di jajaran pelatih top tanah air. Pria yang kini membidik lisensi AFC A Pro itu juga masuk dalam bursa calon pengganti Luis Milla sebagai Pelatih Timnas Indonesia.

Usai hijrah dari Bali United, Widodo Cahyono Putro di awal 2019 ini mengambil langkah tak populis. Dia memutuskan untuk menangani klub yang musim lalu hampir promosi ke Liga 1, Persita Tangerang. Cukup aneh memang mengingat dirinya punya kapasitas untuk menangani kesebelasan di kasta tertinggi sepak bola tanah air.

Tentu keputusan Widodo Cahyono Putro itu menjadi kabar baik bagi para La Viola atau Ultras Persita. Kini bersama pria yang mengawali karier sepak bola bersama Galatama, Warna Agung itu, mimpi mereka untuk menyaksikan Pendekar Cisadane bertarung di Liga 1 musim depan kembali tumbuh setelah hancur lebur di Stadion Pakansari Bogor, Desember 2018 lalu.

Di sisi lain klub legendaris macam Persita memang sudah tepat untuk berani mengambil Widodo Cahyono Putro. Bisa dihitung, sudah berapa lama klub yang pernah bermarkas di Stadion Benteng itu tak lagi menjadi sorotan nasional. Tentu sebuah kerugian bagi mereka, terlebih banyak talenta berbakat yang pernah berseragam ungu.

Bersama Widodo Cahyono Putro, bisa dibayangkan Persita meniadi klub yang kembali menelurkan bintang baru di dunia sepak bola tanah air. Kecintaannya terhadap pemain muda saat masih menangani Bali United, akan mempermudah talenta-talenta Tangerang untuk menjadi The Next Ilham Jaya Kesuma.

Semoga sukses Widodo Cahyono Putro! Bawa Pendekar Cisadane kembali bersinar!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *