Warga Tangerang Lebih Butuh KRL Ketimbang Kereta Bandara

Selain menjadi mahluk Sosial, manusia adalah mahluk yang berkebutuhan tinggi. Agar semua kebutuhannya terpenuhi, segala aktivitas dilakukan. Mulai dari bekerja, sekolah, ataupun yang lainnya. Aktivitas yang perlu ini kemudian menyebabkan orang-orang harus berlalu-lalang di jalan demi mempertahankan hidupnya.

Hal ini kemudian menyebabkan kepadatan di  jalan, terutama di kota yang padat penduduk seperti Tangerang. Tentunya, kepadatan tersebut menjadi salah satu timbulnya kemacetan. Oleh karena itu, Transportasi publik dianggap menjadi solusi untuk mengurangi padatnya kendaraan di jalan.

Kini, banyak masyarakat kota beralih menggunakan transportasi publik. Salah satunya, Kereta Rel Listrik (KRL). Mereka beralasan bahwa menggunakan KRL bisa mengefisiensi waktu dan biaya.

Di tengah ketergantungan masyarakat terhadap transportasi ini, PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) justru mengeluarkan kebijakan mengurangi jumlah perjalanan KRL dari Duri-Tangerang dan sebaliknya. Kebijakan ini berlaku mulai tanggal 29 Maret 2018.

Pengurangan jumlah perjalanan tersebut disebabkan karena pengoperasian Kereta Bandara Soekarno-Hatta yang dimulai pada akhir tahun 2017. Dalihnya, menyesuaikan perjalanan dengan Kereta Bandara yang ditimbang dari penyesuaian keberangkatan pesawat. Makanya, menggunakan Kereta Bandara menuju ke Bandara Soekaro-Hatta dapat lebih cepat.

Pengurangan perjalanan KRL yang semula 90 menjadi 80 perjalanan per hari. Hal itu memberi dampak kepada para penumpang yang harus menunggu dua kali lipat lebih lama daripada sebelumnya. Awalnya, penumpah hanya menunggu KRL sekitar 15 sampai 20 menit. Sekarang, dengan pengurangan tersebut menjadi 30 menit.

Lalu, apa kabar dengan penumpang setia KRL?

Awal berlakunya kebijakan ini, banyak penumpang setia KRL yang merasa kecewa. Salah satu teman saya yang menjadi penumpang setia KRL mengeluhkan pengurangan jadwal ini. Menurut dia, KRL tidak menjadi kereta cepat lagi. Dia menghabiskan banyak waktu hanya untuk menunggu datangnya kereta. Selain itu, pengurangan jadwal KRL menyebabkan penumpang menjadi menumpuk di beberapa stasiun-stasiun antara Duri sampai Tangerang.

Bayangkan, keberangkatan awal dari stasiun Tangerang saja sudah lumayan ramai. Apalagi sudah memasuki Stasiun Tanah Tinggi dan Batu Ceper, akan semakin padat pastinya. Dan ditambah dengan Stasiun Poris yang notabenenya sebagai stasiun dengan penumpang yang terbilang cukup padat.

Akibatnya, banyak penumpang yang terlantar di stasiun. Mereka mengantri dan menunggu dengan waktu yang cukup lama hingga rela berdesak-desakan. Tengok saja di Stasiun duri pada tanggal 29-31 Maret lalu. Para penumpang cukup membeludak dan terlantar. Mereka sampai menggunakan eskalator asal-asalan. Eskalator yang digunakan untuk turun malah digunakan untuk naik.

Pengurangan jadwal KRL tentu sangat merugikan penumpang. Mulai dari waktu yang terbuang cukup lama, kenyamanan hingga keselamatan. Bahkan ada penumpang yang jatuh pingsan akibat berdesak-desakan dengan penumpang lain. Hal ini menjadi permasalahan cukup serius yang harus diselesaikan secepatnya mengingat banyak masyarakat yang sudah bergantung dengan KRL.

Hadirnya Kereta Bandara memang memudahkan pengguna Bandara Soekarno-Hatta. Tapi, dampak dari hadirnya Kereta Bandara ini merugikan pengguna KRL, khususnya pengguna dari Tangerang. Bagaimana tidak, karena kereta yang katanya berkelas premium kereta kelas ekonomi (KRL) menjadi disampingkan. Selain itu, yang saya herankan, Kereta Bandara kok masih numpang di jalur KRL Duri-Tangerang. Padahal Kereta Bandara itu termasuk proyek nasional yang pastinya ini adalah proyek besar. Masa tidak punya alur khusus?

Seharusnya, Kereta Bandara punya jalur khusus agar tidak menggangu jadwal KRL. Atau kalau memang belum ada, dari pengelola KRL menambah jumlah gerbong dalam setiap pemberangkatan KRL. Hal ini untuk menghindari penumpukan penumpang di stasiun-stasiun Duri-Tangerang. Semoga saja solusi untuk pengguna KRL ini segera diselesaikan melihat pengguna transportasi ini semakin hari semakin banyak.

Atau jika memang kereta bandara hanya bisa merugikan warga Tangerang, ada baiknya pemerintah daerah segera menghentikan operasionalnya. Sepertinya lebih baik begitu.

Komentar

Benci feodal namun juga bukan patriotik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *