Radikalisme

DERADIKALISASI: UPAYA PREVENTIF LEWAT KACAMATA LITERASI

Indonesia saat ini bisa dikatakan dalam kondisi darurat akan radikalisme dan ekstrimisme. Keduanya tentunya merupakan ancaman besar dalam kehidupan bermasyarakat—sebagai perusak harapan banyak orang untuk hidup tentram dan damai.

Kedua paham tersebut dapat dengan mudah memasuki pola pikir beberapa orang melalui banyak cara. Yang paling ampuh dan sering digunakan biasanya melalui diskusi-diskusi. Melalui pertemuan langsung, orang akan dengan mudahnya terpengaruh dan merasa harus berpikir dan bersikap yang sama.

Namun kini cara yang dianggap lebih efektif bagi penyebar paham tersebut ialah melalui media sosial. Nyatanya data memang menunjukan hampir setengah penduduk di Indonesia menggunakan media sosial. Sasarannya jelas yaitu anak-anak muda—paham yang diberikan biasanya akan mudah diterima oleh mereka.

Berkaca dari kondisi sekarang, pasca pesta besar demokrasi negara ini. Kenyataan eksistensi kedua paham tersebut makin terpampang dengan jelas dan nyata. Radikalisme secara positif sebenarnya bisa bersifat reformis, bahkan memang sejatinya lebih pragmatis dan terbuka terhadap penalaran kritis, namun yang terjadi justru semua hal tadi dikesampingkan. Hingga memang harus kita akui bahwa perbedaan pandangan, pemahaman, bahkan pilihan membuat kita menjadi intoleran. Kita terpecah belah, satu pihak merasa menang, satu pihak lainnya tak terima dan merasa mutlak butuh sebuah perubahan, hingga akhirnya berujung pada advokasi yang ekstrimis.

Contoh kasusnya terjadi di lini terkecil lingkungan tempat saya tinggal. Atas efek kekalahan hasil dari pengumuman penghitungan suara Pilpres kemarin, banyak upaya yang dilancarkan agar mendapat respon, dari mulai mengklaim ingin diadakannya pemilihan ulang hingga strategi turun ke jalan untuk memprovokasi warga. Bahkan terparahnya lagi, di beberapa media sosial sangat masif sekali pernyataan intoleran yang mengecam kubu pemenang. Sampai-sampai banyak yang beranggapan bahwa konteks pernyataan tersebut kurang bernalar. Akibatnya mau tidak mau, harus berurusan dengan aparat penegak hukum. Karena dinilai provokatif dan melanggar Undang-Undang ITE. Dan yang paling menyedihkan adalah hal tersebut pun terjadi pada adik pertama saya, secara terpaksa harus dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan terkait status facebooknya yang berbau hate speech dan provokatif.

Deradikalisasi sebenarnya bisa menjadi formula dalam menangkal radikalisme yang tengah marak di Indonesia. Meski sejatinya deradikalisasi ditujukan khusus kepada para teroris untuk kembali pada pemikiran yang lebih moderat. Akan tetapi, deradikalisasi bisa diupayakan lewat cara literasi.

Kita bisa memulainya di ranah media sosial terlebih dahulu, sepatutnya kita harus selektif memilih informasi, memilah yang kiranya informasi tersebut benar-benar faktual. Kita pun wajib punya daya sikap kritis, mempertanyakan valitidas baik konten maupun sumber informasi yang keluar. Jangan mudah menelan mentah-mentah isu informasi yang didapat baik secara berita ataupun lewat lingkup obrolan. Untuk itu gunanya literasi bermedia sosial harus turut serta dilibatkan. Tak hanya berliterasi dengan berselancar di jejaring media sosial saja, bijak memahami keadaan dan saling mengingatkan satu sama lain, baik dari orangtua ke anak ataupun anak kepada orangtua, bahkan dalam ranah persekawanan sekalipun sepatutnya perlu.

Selisih paham dan perbedaan adalah suatu hal yang wajar biasa terjadi dalam kehidupan bermasyarakat. Tentu, tidak ada yang menginginkan perdamaian dengan cara kekerasan. Untuk itu, sepatutnya kita sebagai warga negara Indonesia juga turut berperan aktif menyebarluaskan paham berliterasi dalam upaya deradikalisasi. Karena sesungguhnya tak ada hal lain di dunia ini yang seharga dengan sebuah perdamaian.

Baca juga: Program Membagikan Buku Untuk Pemudik Adalah Sebuah Kesia-Siaan

Komentar

Benci feodal namun juga bukan patriotik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *