Upaya Pemerintah Daerah Membangun Perpustakaan Daerah

Indonesia dengan negara kepulauan yang besar masih memiliki satu permasalahan ulung, salah satunya adalah minat literasi masyarakat kita yang masih rendah. Bisa kita tengok hasil dari survei UNESCO yang mengatakan bahwa tingkat membaca masyarakat Indonesia itu sangat rendah.

Hasil survei ini seakan menjadi tamparan bagi kita semua, mengingat bahwa membaca merupakan suatu kegiatan yang sangat penting bagi kita semua. Oleh sebab itu, untuk membuat minat membaca semakin tinggi, maka suatu gerakan harus dimulai. Tidak harus dari yang besar, mulailah dari yang kecil-kecil terlebih dahulu yang nantinya akan membuat perubahan besar.

Pernahkah kalian mengunjungi perpustakaan yang terdapat di desa kalian masing-masing?

Kini pemerintah sudah mewajibkan setiap desa setidaknya memiliki satu perpustakaan. Keberadaan perpustakaan ini bertujuan untuk mendekatkan masyarakat pada minat literasi dan menumbuhkan budaya membaca sedini mungkin. Dengan berbekal UU nomor 43 tahun 2007 pemerintah terus menggencarkan membangun perpustakaan di tingkat desa. Tentunya dengan sistem pengelolaan yang baik dan tidak menyulitkan warga untuk mengaksesnya.

Kemudian, kita juga perlu melakukan inovasi dalam mendekatkan budaya literasi kepada masyarakat. Kini sudah tidak bisa lagi dengan hanya berbekal tumpukan buku di rak-rak dengan susunan meja-meja yang saling berhadapan dan dibatasi dengan tembok. Para pembaca perlu suasana yang nyaman dan kekinian untuk bisa membaca buku dan bergairah saat mengunjungi perpustakaan.

Jaman telah berubah, kini perpustakaan juga harus merubah tampilannya agar menarik minat para milenial. Menjadikan perpustakaan menjadi tempat favorit dengan segala sudut yang Instagramable dan tentunya buku-buku bacaan yang terus diperbarui menjadi hal penting. Tata kelola juga diubah dengan terus mengikuti jaman, memberikan kemudahan untuk para milenial meminjam dan diberikan satu ruang ‘Working Place’ untuk para pelajar yang hendak mengerjakan tugas.

Bukankah selama ini kita selalu melihat diberbagai media sosial mulai dari google, facebook, instagram, twitter, dan lain sebagainya bahwa perpustakaan yang berbeda sendiri dan mempunyai ciri khas selalu menjadi topik menarik. Hal-hal menarik itulah yang selalu menjadi perbincangan anak-anak muda saat ingin mengunjungi perpustakaan.

Bekerja sama dengan komunitas yang aktif di bidang literasi juga bisa menjadi jalan lain untuk pemerintah dalam meningkatkan minat literasi masyarakat di Indonesia. Komunitas-komunitas kecil yang langsung bersentuhan dengan masyarakat ini bisa menjadi pilihan lain dalam mengenalkan literasi kepada masyarakat. Komunitas-komunitas ini sudah tahu medan apa yang akan dihadapi dan bagaimana menyiasatinya.

Terdapat Perpustakaan di daerah dekat tempat saya tinggal, Karawaci Kota Tangerang. Perpustakaan dengan wujud fisiknya memang ada, akan tetapi yang paling disayangkan adalah tidak ada sistem pengelolaan yang jelas. Tidak adanya  sistem pendataan buku yang jelas, jam operasional yang tidak pasti ditambah sang penjaga yang bukan pegawai negeri sipil semakin menjadikan perpustakaan ini seperti seonggok gedung yang berisi buku tanpa ada pengunjung rutin.

Meningkatkan minat membaca tidak hanya bisa dilakukan oleh satu elemen masyarakat saja, semuanya harus juga harus berkontribusi. Dengan terlibatnya seluruh elemen masyarakat semakin membuka celah agar budaya membaca dapat lebih ditingkatkan, sehingga tidak ada lagi survei yang menunjukkan bahwa angka dalam minat membaca masyarakat Indonesia itu rendah.

Oleh sebab itu, pemerintah harus lebih memperhatikan keadaan perpustakaan yang terdapat disetiap desa dan lebih terpentingnya lagi pada bagian pengelolaan perpustakaan itu sendiri. Jangan sampai dengan adanya perpustakaan tersebut, malah menjadikan masyarakatnya menjadi malas untuk membaca.

Komentar

Penyuka karya Dewi Lestari dan berhasrat ingin bertemu sang Supernova

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *