Upaya Negara Membasmi Rambut Gondrong


Praktik kekuasaan pada masa orde baru terhadap anak muda dapat dilihat dari pemaknaan negara atas rambut yang gondrong. Pada masa itu, selain komunisme, rambut gondrong adalah hantu yang menjadi masalah bagi pemerintah. Bagi mereka, rambut gondrong adalah standar dari orang-orang yang bergelut di persoalan kriminal.

Persoalan rambut gondrong ini sekilas terlihat sepele, meski pada kenyataannya menyita cukup banyak perhatian dari penguasa. Demi terciptanya stabilitas dan ‘keamanan’ yang diidamkan negara, mereka berusaha meredam juga ‘membersihkan’ segala hal yang dianggap mengancam. Dan rambut gondrong menjadi sasaran tembak agar masyarakat terjebak pada sindrom ‘keamanan’ yang dibuat negara.

Bagi rezim orde baru, orang yang memiliki rambut gondrong adalah cikal bakal pelaku kriminal. Mereka kotor, tidak bertanggungjawab, dan dianggap tidak mencerminkan kepribadian bangsa. Karena itu: rambut gondrong adalah hal yang dilarang negara.

Perlakuan diskriminatif pun dilaksanakan di banyak tempat. Mereka yang berambut gondrong tidak bisa mengurus administrasi kemasyarakatan. Buat Kartu Tanda Penduduk tidak boleh, izin mengemudi susah, bahkan para mahasiswa dipaksa untuk memotong rambutnya agar bisa mengikuti ujian jika ingin lulus.

Dalam sebuah kesempatan, Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban Jendral Soemitro menegaskan bahwa rambut gondrong bukanlah jati diri bangsa Indonesia. Walau dianggap bersifat personal, tapi rambut gondrong dirasa perlu untuk dicampuri negara karena rezim membayangkan bangsa ini sebagai satu keluarga besar. Karenanya, para pemuda yang dianggap anak oleh para bapak penguasa harus menuruti kemauan ‘orang tua’.

Mungkin karena anggapan semacam inilah kebiasaan menganggap rambut gondrong sebagai sumber masalah masih terbawa hingga sekarang. Pada saat sekolah dulu, saya selalu kena razia rambut. Rambut menutupi telinga sedikit saja langsung potong oleh guru. Padahal ya cuma sedikit. Itu pun baru perkara di sekolah. Di rumah, saya harus kembali berurusan dengan omelan orang tua jika punya sedikit saja niat memanjangkan rambut.

Ketika masuk dunia mahasiswa, stigma buruk rambut gondrong masih saja dipelihara. Jika ada mahasiswa berambut gondrong, langsung dianggap sebagai berandalan. Tidak baik, cikal bakal pemberontak. Padahal ya tidak ada hubungannya rambut gondrong dengan persoalan kriminal.

Begitulah kiranya nasib kita seperti yang digambarkan dalam buku Dilarang Gondrong terbitan Marjin Kiri ini. Penulis mencoba memperlihatkan bahwa perwujudan atas kekuasaan masuk ke berbagai wilayah, termasuk tubuh pria. Pemaknaan atas rambut tidak lagi oleh si pemilik, tetapi oleh penguasa. Bukan tidak mungkin praktik ini masih terjadi hingga saat ini, lewat berbagai bentuk praktik kekuasaan bermunculan.

Memang buku ini sangat bagus di baca untuk semua kalangan. Agar pengetahuan sejarah kita bertambah. Alur cerita yang dibawakan Aria Wiratma sangat mengasikan. Sehingga kita tahu jelas bagaimana praktik kekuasaan orde baru terhadap anak muda sampai persoalan rambut yang menjadi masalah buat pemerintahan. Dan terakhir, tentu apresiasi yang tinggi perlu disampaikan kepada Marjin Kiri yang mau menerbitkan buku bagus semacam ini.

Komentar

Banyak buku, sedikit nyender, tapi tidak oleng.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *