TUHAN PUN BERPUASA: KONSEPSI PEMIKIRAN CAK NUN TERHADAP MAKNA PUASA

“Puasa adalah pekerjaan menahan di tengah kebiasaan menumpahkan, atau mengendalikan di tengah tradisi melampiaskan. Pada skala yang besar nanti kita bertemu dengan tesis ini: ekonomi-industri-konsumsi itu mengajak manusia untuk melampiaskan, sementara agama mengajak manusia untuk menahan dan mengendalikan.Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Buku Tuhan Pun Berpuasa merupakan perkenalan pertama saya dengan pemikiran Cak Nun. Sebelumnya, saya hanya mengenal beliau di beberapa platform, baik Youtube ataupun Instagram lewat acara Kenduri Cinta yang biasa beliau selenggarakan. Adapun yang biasa para jamaah (maiyah) nya sering sukai, begitu juga saya, kadang beliau kerap menyelipkan quotes yang menyentuh hati tentang sebuah kehidupan.

Cak Nun sendiri memiliki sebutan kiai mbeling. Saya baru ngeh bahwa beliau memang benar-benar mbeling, dalam artian, mempunyai pemikiran yang mbeling/nakal alias out of the box atau bahkan sebenarnya without the box. Sebab menurut saya, yang menjadi khas dari pemikiran-pemikiran Cak Nun adalah bagaimana beliau memandang dengan jernih manusia beserta problematika kehidupannya secara holistik, dan konsistensi beliau ‘menggembalakan’ (ng-angon) kepada banyak orang, agar supaya mampu lebih jeli menyikapi realitas sehari-hari, tidak terjebak pada kemasan/citra di depan mata, sehingga yang tampak adalah bentangan padang-padang rumput Kesejatian.

Istilah Tuhan pun Berpuasa adalah gambaran Cak Nun selaku penulis di buku ini yang menggambarkan bagaimana Allah SWT begitu sabar terhadap manusia. Allah selalu menahan diri dari segala sesuatu yang sebenarnya mungkin bisa Dia lakukan.

Seperti tulisan Cak Nun lainnya, buku Tuhan pun Berpuasa juga mengalami perombakan dari pertama kali diterbitkannya pada tahun 1996 oleh penerbit Zaituna, Yogyakarta.

Buku ini terdiri dari empat bab, dimana di dalamnya terdapat banyak sub-sub bab. Bab pertama membahas tentang Asas Maslahat Muddarat. Bab kedua membahas tentang Takabur dan Uswatun Hasanah. Kemudian, bab ketiga membahas mengenai Dunia Akhirat. Dan terakhir, bab empat membahas tentang Penyucian Rohani.

Di buku ini juga menjelaskan akan sebuah pemaknaan bahwa aspek puasa tidak hanya sebatas puasa yang diwajibkan, seperti di bulan suci Ramadhan ataupun puasa-puasa sunnah lainnya, tetapi menyusup dalam segala sendi kehidupan manusia. Puasa bisa hadir tanpa terikat. Kapanpun, di manapun, siapapun kita, bisa menjelma menjadi ‘Makhluk Puasa’, yaitu makhluk yang bersedia memasangpagar makna puasa(ketidak kekurangan dan ketidak berlebihan) pada dirinya sendiri.

Maka, puasa yang dimaksud adalah tidak sekedar menahan lapar,haus dan marah, melainkan ‘Puasa Sejati’; yaitu mengambil jarak dari nafsu yang senantiasa menghendaki asupan-asupan palsuSaking istimewanya perihal puasa ini, Tuhan pun bahkan ‘turun tangan’ memberikan contoh-contoh dahsyat bagaimana Ia ‘berpuasa’.

Kita akan menyadari bahwa begitu krusial dan revolusionernya fungsi puasa dalam kehidupan, terutama dalam perjalanan menuju pada ‘Yang Sejati’. Maka, menangislah penuh kekecewaan, bagaimana bisa sebelum ini hati kita teramat buta, sehingga telah melewatkan banyak kesempatan Puasa Sejati yang seharusnya bisa melejitkan kedekatan kita kepadaNya.

Disamping itu, wawasan dan cara pandang kita akan terbuka jernih mengenai berpuasa, apabila telah usai membaca buku ini. Karena sejatinya masih banyak orang mengenal berpuasa yang sebatas menarik esensi bahwa cukup menahan rasa haus dan lapar saja. Bahwa sebenarnya puasa memiliki konteks dan pemaknaan yang sangat luas. Dan dengan hadirnya buku ini, diharapkan manusia lebih mengenal dan memahami eksistensi puasa sesungguhnya.

 

 

Judul buku: Tuhan pun “Berpuasa”

Penulis: Emha Ainun Nadjib

Penerbit: Kompas, Juni 2012

Tebal buku: 236 Halaman

ISBN: 978-979-709-656-4

 

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *