Tidak Ada Sirna Pada Karya Walau Raga Telah Tiada

“Walau raga telah tiada, namun tidak ada sirna pada karya. Ia terus mengukir sepanjang jalan”

Begitu kiranya perumpamaan yang pantas disematkan kepada seseorang yang berhasil membuahkan karya, terlebih karya-karya tersebut telah terkenal dimana-mana serta sepak terjang yang jauh hingga menembus kancah internasional. Bisa karya dalam hal apa saja, berbentuk fisik atau suatu pemikiran sekalipun.

Karya fisik yang dapat diciptakan bisa berupa buku, tulisan, gambar, dan lain sebagainya. Untuk mengenal karya-karya, kita tidak perlu jauh-jauh kenal orang luar. Di tanah air banyak deretan nama orang-orang yang telah sukses menghasilkan beragam karya. Salah satunya ialah NH Dini dalam karya-karya sastranya.

Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin atau biasa akrab disapa dengan nama NH Dini punya banyak karya dan kisah menarik selama karirnya. Lahir di Semarang, 29 Februari 1936 dari pasangan Saljowidjojo dan Kusaminah, NH Dini adalah seorang yang sangat keras kepala semasa kecilnya. Di lain hal, sifat tempramen  dulu yang ia miliki itu ternyata mengarahkan kepada sisi positif, yakni di bidang menulis. Ketertarikan NH Dini terhadap dunia tulis telah nampak sejak ia duduk di bangku sekolah dasar. Sampai-sampai buku pelajarannya dulu penuh dengan tulisan yang merupakan buah pikiran dan perasaannya sendiri. NH Dini mengatakan bahwa itu adalah segenap bentuk pelampiasan hati.

Ketika beranjak dewasa, NH Dini dulunya bercita-cita sebagai sopir lokomotif atau masinis harus mengandaskan apa yang ia obsesikan, kemudian di sekolah menengah NH Dini lebih fokus dalam hal penulisan. Berbekal kepercayaan dan keahliannya itu, NH Dini seringkali mengirimkan sajak dan cerpen di mading sekolahnya. Di usia 15 tahun keberanian NH Dini menjadi bertambah, NH Dini sangat rajin menulis sajak dan prosa berirama dan membacakannya sendiri di RRI Semarang.

Hal itulah yang memotivasi HN Dini untuk mencari uang dari menulis dan menghasilkan karya hingga akhirnya dikenal banyak orang. Dikutip dari laman Liputan6.com bahwa “Kalau saya terkenal itu bukan suatu kehebatan. Itu biasa saja, karena saya bekerja keras, saya berusaha, dan banyak teman yang membantu, maka saya terkenal. Jadi, tidak ada kebanggaan, wah, atau istimewa, itu tidak ada”.

Selain sisi rendah hati yang NH Dini miliki, ia adalah wanita yang mandiri. Tidak ingin merepotkan banyak orang namun tetap berpikir bagaimana usaha dan karyanya dapat bermanfaat bagi semua. Berkat prinsip itulah, walau NH Dini tinggal di wisma lansia, beliau berhasil mendirikan pondok baca yang kini berada di Semarang dan Yogyakarta.

Kali ini kita tidak dapat melihat beliau kembali untuk menebarkan virus baca dan tulis kepada anak-anak, juga mendirikan pondok baca. Sebab kemarin, 4 Desember, kita patut berduka atas kepulangan beliau di sisi-Nya.

NH Dini meninggal akibat kecelakaan mobil, di ruas tol KM 10 Semarang. Kronologinya bermula ketika NH Dini pulang dari terapi tusuk jarum, mobilnya menabrak sebuah truk yang mundur secara tiba-tiba dan tidak terarah.

Novelis, sastrawan dan sekaligus perempuan feminis ini akhirnya tutup usia di umur 82 tahun. Beliau telah membukakan mata kita bahwa tulisan sebenarnya bisa menyertakan kebaikan.  Atas kerja kerasnya selama ini, banyak yang mengagumi karya-karya NH Dini. Beberapa buku-buku karya klasik dan novel berhasil ia terbitkan dan mendapat banyak penghargaan. Karya Nh Dini yang terkenal di antaranya Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975) atau Namaku Hiroko (1977), Orang-orang Tran(1983), Pertemuan Dua Hati (1986), Hati yang Damai(1998), Dari Parangakik ke Kamboja (2003), dan karya-karya lain dalam bentuk kumpulan cerpen, novelet, atau cerita kenangan.

Beliau juga banyak menulis tentang keluarganya sendiri, yang kini kedua anaknya telah berhasil menapaki karir di mancanegara. Anak pertamanya yang bernama Pierre Louis Padang, meniti karir di Perancis, mendalami tentang dunia pendidikan. Kemudian adiknya yang bernama Marie-Claire Lintang, bekerja sebagai seorang sutradara di dunia perfilman. Jika kita tahu film animasi Minions, itu adalah hasil garapan dari putra NH Dini.

Selamat Jalan NH Dini, karya dan kebaikanmu tidak akan pernah luput dari ingatan kami, bahwa engkau telah berjasa banyak untuk dunia sastra dan segalanya.

 

Komentar

Benci feodal namun juga bukan patriotik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *