The Catcher in the Rye: Novel yang Disukai Para Pembunuh

The Dakota 8 Desember 1980 John Lennon tewas dibunuh oleh penggemarnya sendiri, Mark David Chapman. Mark menembak Lennon dengan lima kali tembakan, empat tembakan tepat mengenai Lennon, sedang tembakan kelima meleset tidak megenai tubuhnya. Lennon terkapar, lalu Mark menjatuhkan pistolnya dan lanjut membaca novel. Novel yang Ia baca saat itu berjudul The Catcher in the Rye. Dari peristiwa itu saya penasaran dengan doktrin yang terdapat di dalam novel yang menjadi salah satu novel terlarang di Amerika.

Tidak seperti pada novel biasannya, pada bagian belakang novel ini tidak ada sinopsis, yang ada hanya kalimat “Mengapa novel ini disukai para pembunuh?”. Hal Ini membuat saya semakin penasaran untuk membacanya.

Novel ini bercerita tentang kegelisahan hidup yang dijalani Holden Caulfield. sosoknya terlihat bahwa Holden adalah bocah dibawah umur yang selalu gelisah dan terjebak di dalam sistem hidup yang sangat bertolak belakang dengannya. Saya membayangkan bahwa Holden adalah bocah yang terasing, begajulan, kasar, dan tidak peduli dengan apapun sekalipun itu mengancam nyawanya. Ia suka melakukan kebiasaan negatif yang seharusnya tidak dilakukan oleh bocah dibawah umur, seperti merokok, minum alkohol, berbicara kasar, bercanda yang kelewatan sampai berkelahi, dan membayangkan berhubungan seks dengan seorang wanita.

Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya D.B seorang penulis yang kini tinggal di Hollywood. Ia pernah menyebut bahwa D.B adalah seorang pelacur karena sudah menulis hanya demi uang semata. Entahlah apa penyebab Holden bisa berbicara sekasar itu kepada kakaknya. Mungkin karena Holden benci film keluaran Hollywood. Adiknya bernama Phobe. Holden sangat menyukai Phobe. Holden selalu memuji Phobe, karena Ia gadis yang cantik jelita.

Ada dua kisah yang saya suka dari novel ini.  Pertama, saat Holden datang ke rumah Pak Antolini. Satu-satunya guru yang Holden sukai. Holden hanya bisa menerima saran dan nasehat dari Pak Antolini

“Mereka yang belum dewasa adalah yang bersedia mati demi memperjuangkan satu hal, sementara mereka yang dewasa justru bersedia hidup dengan rendah hati memperjuangkan hal itu”

Dari kalimat itu saya simpulkan apabila kita sudah dewasa, kita harus berjuang untuk menerima hal-hal yang kurang kita sukai demi mendapatkan hal yang kita sukai. Mungkin lebih tepatnya menahan ego.

Cerita kedua yaitu saat Holden bertemu dengan adiknya, Phobe. Disini saya bisa melihat sisi lain dari Holden yang begitu sangat penyayang, peduli, dan rindu dengan adiknya itu. Pada kisah ini terlihat Holden sangat riang dan gembira saat bermain bersama Phobe.

Novel The Catcher in the Rye berakhir begitu saja tanpa ada kejelasan. Apakah Holden akan dimarahi oleh orang tuanya setelah mereka tahu bahwa lagi-lagi Holden dikeluarkan dari sekolah? Apakah Holden akan kembali sekolah lagi? semua masih menjadi misteri. Di penutup kalimat, Holden hanya memberikan saran kepada pembaca bahwa jangan pernah bercerita apa-apa kepada orang lain. Begitu kalian bercerita, kalian akan mulai merasa merindukan orang lain.

Sejujurnya saya juga masih merasa bingung kenapa novel ini menjadi pemicu kasus pembunuhan, terutama kasus tertembaknya John Lennon pentolan band The Beatles, karena sama sekali tidak ada adegan pembunuhan di dalam novel ini.

Saya tidak menyarankan novel The Catcher in the Rye untuk kamu yang berhati lembut, santun, dan berada di zona nyaman. Karena novel ini penuh dengan perkataan kasar, kegelisahan, keterpurukan, dan hanya diperuntukan kepada orang-orang yang memiliki daya juang.

Judul              : The Catcher in the Rye

Penulis          : J. D. Salinger

Penerjemah  : Gita Widya Laksmini

Penerbit         : Banana

Terbit              : Cetakan ketiga, Juni 2015

Tebal              : 296 halaman

Komentar
Arianto Darma Putra

Gua kece dari lahir, ya beginilah sudah takdir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *