Tentang Pungli dan Hilangnya Nurani di Masa Pandemi

Tuhan mengatakan bahwa manusia adalah makhluk paling sempurna di muka bumi ini. Namun, dalam beberapa peristiwa justru manusia menunjukan sifat yang lebih buruk dari seekor kecoa di parit atau bahkan lebih buruk dari parit itu sendiri.

Saya agak bingung untuk menyebut Juliari Batubara, mantan Menteri Sosial, sebagai ‘Si Kecoa’ atau ‘Si Parit’. Karena jujur saja, sepertinya dua julukan tersebut masih terlalu ‘baik’. Atas perilaku korupsinya pada bantuan sosial yang disalurkan untuk masyarakat, mungkin kita harus berunding untuk menentukan apa julukan buruk untuknya.

Jelas saja, saat masa pandemi ini, ada banyak masyarakat yang merasakan terpuruk, menjerit, bingung, bahkan beberapa orang berada pada titik kesedihan paling dalam. Sebagian besar masyarakat benar-benar merasa kesulitan untuk mencari nafkah dan sebagian lainnya merasakan kehilangan ditinggal orang terkasih.

Baca Juga: Sudahkah Sistem Belajar Daring Efektif Atau Sebatas Sarana Alternatif?

Keadaan ekonomi makin sulit, ditambah lagi kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah masih jauh dari kata solutif. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) hingga PPKM Level 4, dan mungkin akan ada banyak sebutan-sebutan baru di kemudian hari. Rasanya, yang bisa dilakukan kini hanya mampu berserah diri pada situasi. Bukannya tidak mau percaya pada kebijakan pemerintah, tapi, memang tak ada yang bisa dipercaya lagi.

Beruntungnya pemerintah kita mau memberikan bantuan sosial untuk masyarakat-masyarakat yang membutuhkan. Tapi sialnya, ada saja orang-orang berengsek yang masih kepikiran untuk ‘nilep’. Manusia seperti itu mungkin nuraninya sudah dibuang ke selokan.

Juliari Batubara, dan beberapa kasus korupsi bansos lainnya adalah yang tampak ke permukaan. Kita tak bisa memungkiri bahwa bisa saja masih ada kasus-kasus lain yang belum terungkap.

Baru-baru ini, muncul kasus serupa di Tangerang. Kasus tersebut terungkap saat adanya kunjungan dari Risma selaku Menteri Sosial ke wilayah Karang Tengah. Adanya aduan dari salah seorang masyarakat bahwa terjadi pungli yang dilakukan oleh penyalur dari Program Keluarga Harapan (PKH).

Baca Juga: Yang Kaya Teriak Prokes, Yang Miskin Teriak Lapar

Sampai saat ini, menurut laporan Polres Metro Tangerang Kota bahwa aduan masyarakat terhadap terjadinya pungli terus bertambah. Beberapa saksi dalam kasus ini juga sudah dimintai keterangan. Penyelidikan masih terus dilanjutkan untuk mengungkap dan menangkap para pelakunya. Pihak kepolisian juga mengimbau kepada masyarakat yang mengetahui kasus pungli atau sejenisnya agar melapor atau membuat aduan. Atas nama kemanusiaan, kita patut mengutuk segala perilaku semacam itu.

Saat kita tahu bahwa berharap dari pemerintah sangat meletihkan, melihat aksi represif aparat saat menertibkan itu menjengkelkan, perilaku atau ocehan pejabat yang di luar akal sehat, dan lain-lainnya. Situasi sulit seperti sekarang harusnya dihadapi dengan solidaritas, rakyat bantu rakyat. Sebab, hanya itu yang kita bisa, hanya itu yang paling mungkin dilakukan.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *