Tempat Terbaik di Dunia: Melihat dari Sudut Pandang Berbeda

Apa yang ada di benak kamu apabila ada seorang yang menyebut “Tempat Terbaik di Dunia”? Menara Eiffel di Paris dengan sejuta romantisme? Pantai indah dengan sunset nan damai di Bali? atau berburu pizza di Roma, Italia? Begitu pula yang ada dalam bayangan Roanne Van Voorst ketika ada seseorang yang mengajak ia menuju tempat tersebut. Walaupun dengan penuh keraguan di dalam benaknya.

Mau ikut?” teriak seorang pemuda ke arah saya, di atas kebisingan deru mesin bus kota yang saya tumpangi. “Ke tempat terbaik di Indonesia. O tidak, ke tempat terbaik di dunia! Apa saja yang ingin kamu lakukan, bisa di sana, dan apa saja yang ingin kamu punya, ada di sana.”

Namun sayangnya, tempat yang disebutkan diatas bukanlah tempat yang dibahas pada buku ini. Alih-alih membawa Roanne ke tempat yang indah, pemuda tersebut malah membawanya ke salah satu kampung kumuh termiskin di Jakarta. Tempat yang paling dijauhi orang-orang kebanyakan. Disamping itu pula, dari segi cover buku pun sudah mewakili, mendeskripsikan bahwa tempat nya adalah yang semacam itu.

Buku Tempat Terbaik di Dunia membahas tentang kemiskinan dengan sudut pandang yang berbeda. Mungkin pemerintah, bahkan kita sendiri pun sering beranggapan bahwa kemiskinan itu identik dengan pemalas dan kriminal. Akan tetapi, buku ini memberikan pandangan jauh drastis terbalik dan mampu membuka mata untuk melihat perspektif kemiskinan dari kacamata berbeda.

Baca Juga:  3 Hal Yang Perlu Diperhatikan Agar Tidak Lelah Membaca

Kemudian, buku Tempat Terbaik di Dunia juga bercerita mengenai perjuangan warga untuk bertahan hidup yang dibalut dengan isak tangis, kesedihan serta tawa lepas bahagia. Walau kadang kerap dihadapkan dengan berbagai permasalahan pelik urusan politik, namun hal itu tak luput dari bentuk sesama warga nya yang terus menjunjung tinggi nilai-nilai solidaritas dan persaudaraan.

Masalah yang diangkat pada buku ini yaitu: banjir yang tak kunjung usai, korupsi, pungli aparat dan petugas negara, prostitusi, penggusuran, jaminan kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat. Permasalahan-permasalahan tersebut nyatanya ada di sekeliling dan jadi pekerjaan rumah yang besar kita sebagai warga Indonesia. Bagi saya, dengan hadirnya buku ini setidaknya dapat mengangkat sudut pandang lebih jauh lagi mengenai permasalahan di Indonesia yang kompleks dan kasusnya itu-itu lagi.

Saya kira buku ini memang bertujuan untuk mengkritik pemerintah dan berbicara di hadapan dunia bahwa masih ada masyarakat yang hidup jauh dari kata “nyaman”. Saya takjub dengan keberanian dan kepedulian Rooane untuk menjalani penelitian ini. Datang jauh dari Belanda. Tinggal di tengah masyarakat kampung kumuh yang sesak dan kotor. Pasti sulit baginya untuk beradaptasi.

Terlihat di beberapa kesempatan pun ia bercerita mengenai kebiasaan warga sekitar yang menggangu kesehariannya. Mulai dari kebiasaan berkumpul yang membuatnya kehilangan privasi. Hingga budaya “uang pelicin” yang terjadi sehari-hari. Hal tersebut jarang, bahkan tidak ia temukan di Belanda.

Alhasil, setelah berjuang untuk terbiasa dan fokus pada penelitiannya Akhirnya ia pun sanggup dan berhasil menyelesaikan penelitiannya. Membantu masyarakat Bantaran Kali untuk bersuara di hadapan dunia. Ini sungguh hebat sekali. Saya takjub dengan kegigihan wanita seperti Roanne.

Bagian yang paling saya suka dari buku ini yaitu ketika status sosial bisa terangkat apabila salah seorang warga bisa memiliki semacam alat untuk mengetahui kapan datangnya banjir (Portofon). Singkat cerita alat ini terbilang mahal oleh warga sekitar Bantaran Kali. Dan ada salah satu warga bersusah payah menabung, bertahun-tahun untuk bisa membeli alat tersebut demi menjadi “pahlawan” bagi masyarakat.

Baca Juga: GELIAT LITERASI KITA

Sungguh perbuatan mulia. Uang tabungan yang seharusnya bisa membeli barang-barang kebutuhan yang lebih penting, ia justru gunakan untuk membeli Portofon agar bisa mengabdi kepada masyarakat. Perjuangan tidak hanya sampai mengumpulkan uang. Karena setelah warga tersebut memiliki Portofon, ia harus mengemban amanah yang berat yaitu memantau kabar banjir setiap saat dengan alat itu. Bahkan hingga pekerjaan sehari-harinya terganggu.

Saya mendapatkan pengalaman berharga dari buku ini. Bahwa tidak selamanya tempat terbaik diidentikan dengan kata indah dan mewah. Terkadang, sesuatu yang sederhana pun bisa memberikan kesan dan membuat kita bahagia.

Terima kasih Nyonya Roanne Van Voorst telah menciptakan karya yang luar biasa ini. Juga pada Ibu Martha Dwi Susilowati yang telah menerjemahkan buku ini ke dalam Bahasa Indonesia. Saya harap dengan ini, kita sebagai bangsa Indonesia bisa lebih peka dengan masalah-masalah sosial yang ada di sekitar.

Judul               : Tempat Terbaik di Dunia: Pengalaman Seorang Antropolog Tinggal di Kawasan Kumuh Jakarta

Penulis            : Roanne van Voorst

Penerjemah    : Martha Dwi Susilowati

ISBN                : 978-979-1260-79-4

Penerbit          : Marjin Kiri

Tebal buku      : vi+192 halaman

 

Komentar
Arianto Darma Putra

Gua kece dari lahir, ya beginilah sudah takdir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *