TBM Omah Buku: Kisah Sukses Menggerakan Literasi Masyarkat

Dalam kurun tiga tahun terakhir, ada banyak sekali gerakan masyarakat dalam mendorong majunya literasi.  Para pegiat literasi di berbagai daerah membawa harapan yang sama, menyadarkan masyarakat bahwa budaya membaca dan menulis penting untuk terus dilakukan. Seiring berjalannya waktu, tak jarang gerakan literasi masyarakat mengalami pasang surut dinamika internal maupun eksternal. Hingga menyisakan segelintir yang tetap eksis dan konsisten pada roda organisasi terkait literasi.

Blondo, sebuah desa di Kabupaten Magelang terdapat Taman Baca Masyarakat (TBM) Omah Buku yang sejauh ini terus hidup dan mampu bertahan dari berbagai macam terpaaan. Tak sekadar itu saja perjalanannya pun menuai banyak sisi menarik dan mungkin mampu memotivasi para pegiat literasi lain.

Dulunya TBM ini tidak sebagus dan sebesar sekarang. Bermula pada tahun 2015 bertempat di pos kamling disediakan beberapa buku supaya warga yang nongkrong bisa sembari asyik membaca. Hal tersebut ada karena inisiasi oleh seorang warga bernama Budi Susilo, tokoh masyarakat asli Randugunting Desa Blondo, Magelang. Ia percaya bahwa desanya tersebut punya ketertarikan lebih seputar dunia literasi.

Siapa sangka, kegigihannya menyediakan bahan bacaan ternyata disambut positif oleh setiap lapisan masyarakat Desa Blondo. Mereka pun turut mendukung bahwa programnya ini bakal terus berjalan, dikelola secara swadaya tanpa perlu berpangku tangan pada bantuan pemerintah.

Berkat konsistensi bersama warga setempat, pos baca tersebut berhasil menjuarai lomba Pos Kamling Tingkat Polres Kabupaten Magelang tahun 2016. Dari prestasi tersebut, aparatur desa memberi penawaran untuk dipindah ke tempat yang lebih nyaman. Di tahun 2017 akhirnya resmi pindah ke gedung Balai Desa Lama, secara bersamaan pula resmi dinamakan Taman Baca Masyarakat Omah Buku. Pemberian nama Omah Buku diambil dari istilah bahasa Jawa yang berarti Rumah Buku. Perlahan warga mulai sadar bahwa kerjasama dari semua pihak perlu dilibatkan, terutama pada aparatur desa.

Sampai pada akhirnya TBM Omah Buku mendapat suntikan dana untuk berbagai macam kebutuhan demi dapat menunjang sarana dan memfasilitasi pembaca. Dana tersebut tidak lain digunakan untuk merenovasi bangunan, keperluan fasilitas dan pengadaan bahan pustaka. Dari situ dampaknya juga bisa dirasakan pada penambahan kuantitas buku. Sudah ada kurang lebih 3500 koleksi buku yang dimiliki TBM Omah Buku. Bangunan yang hanya berdiri satu lantai saja nantinya akan disulap menjadi dua lantai yang dimana lantai bawah difungsikan sebagai ruang sekretariat serta sarana ruang pendukung dan lantai atas untuk ruang baca dan kegiatan literasi.

Dilansir dari Pustaka Bergerak bahwa ternyata TBM Omah Buku punya segudang fasilitas yang mumpuni. Saat ini beberapa fasilitas penunjang yang ada di TBM Omah Buku meliputi ruang baca, dapur, ruang rapat, mushola, dan kamar mandi/WC. Fasilitas bangunannya juga dilengkapi dengan satu unit komputer, sound system, pesawat televisi, juga peta & globe. Tak ketinggalan pula koleksi khusus perpustakaan berupa 122 keping VCD dan DVD interaktif, alat-alat permainan tradisional, dan juga buku-buku berhuruf Braille serta kamus bahasa isyarat.

Walau jumlah anggotanya tidak begitu banyak, keterlibatan beberapa relawan dari remaja dan pegiat literasi di lingkungan TBM yang mau membantu secara sukarela, membuat warga setempat antusias hingga TBM Omah Buku terlihat begitu hidup. Para anggota pun tak sebatas mengajak warga untuk gemar membaca buku saja. Banyak kegiatan sering digelar seperti bedah buku, workshop menulis, jelajah sejarah desa & percandian, workshop batik & kerajinan sering terlibat di beberapa event besar. Ibadah tiap minggu juga mereka laksanakan, yaitu gelaran buku di car free day Magelang.

Kiprah Omah Buku sampai hari ini terus berlanjut bahkan menuai progres yang signifikan, tahun lalu telah sukses membawa Taman Baca Masyarakat (TBM) Omah Buku meraih juara 1 lomba TBM tingkat Kabupaten Magelang. Selepas dari situ mereka menargetkan dari sebelumnya mewujudkan gemar membaca dan tujuan selanjutnya adalah menularkan semangat membaca ke ruang lingkup yang lebih besar dan luas.

TBM Omah Buku telah jadi contoh sukses berdirinya sebuah gerakan yang mulanya biasa saja kini menjadi sebuah gerakan literasi masyarakat yang luar biasa, didukung, dikelola dan diinovasikan sedemikian rupa oleh para anggotanya. Sebab tak mungkin ada gerakan literasi masyarakat yang hidup dan berdiri sendiri, setidaknya uluran bantuan bakal mungkin ada meski itu hanya sebatas donasi buku.

Komentar
Dhani Arief Wicaksono

Benci feodal namun juga bukan patriotik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *