Tachiyomi: Kultur Membaca Di Jepang

Ada beberapa hal yang selalu melekat di ingatan kita ketika mendengar nama Jepang. Penjajahan, anime, pemboman kota Hiroshima dan Nagasaki. Setuju soal ini? Jikapun tidak, tentu tidak apa-apa. Tapi, ada satu hal yang membuat saya kagum dengan negara yang punya julukan negeri ‘Sakura’ ini: Minat membacanya.

Ya, sudah bukan rahasia lagi nampaknya jika masyarakat Jepang selalu lekat dekat membaca dan menjadi bagian yang tak terpisahkan. Mungkin memang disana, membaca sudah menjadi gaya hidup. Jika kita mau mengulik lebih dalam, minat baca di Jepang menjadi salah satu yang tertinggi di dunia. Menurut sebuah laman harian nasional di Jepang, Yoshiko Shimbun, kebiasaan itu dimulai dari sekolah. Guru-guru disana, mewajibkan siswa untuk membaca dengan kurun waktu 10 menit sebelum kegiatan belajar mengajar dilakukan. Luar biasa bukan? Berbanding terbalik mungkin dengan Indonesia. Mungkin Indonesia bisa belajar dari hal itu.

Pembiasaan seperti ini sangat efektif. Bagaimanapun, membentuk kebiasaan itu memang harus dimulai sejak dini. Setelahnya, ada Tachiyomi. Terdengar asing?

Berasal dari dua kata Tachimasu yang artinya berdiri dan Yomimasu yang artinya membaca sehingga Tachiyomi diartikan sebagai membaca sambil berdiri. Kebiasaan ini untuk anak muda maupun yang sudah usia lanjut untuk memanfaatkan waktu senggang dengan membaca di depan toko buku. Buku yang dibaca tentu beragam, mulai dari majalah, komik, buku pelajaran, dan buku-buku lainnya. Toko buku di sana memang menjamur. Pemilik toko buku biasanya menyediakan buku yang masih tersegel untuk dibaca. Para Tachiyomiers, Tachiyomi-holic, Ultras Tachiyomi, atau apalah sebutan untuk mereka, tentu sangat nyaman karena pemilik toko tidak melarang. Lagipula, pemilik toko tidak merugi, semakin banyak orang yang mampir untuk membaca, semakin terlihat ramai toko dan meningkatkan promosi. Jika pembaca tertarik, mereka akan membeli: saling menguntungkan. Sebuah simbiosis yang asyik~

Lalu, apa toko buku di Indonesia tidak menyediakan itu? Loh, menyediakan juga. Tapi, kenapa jarang sekali sepertinya melihat penampakan orang berdiri sambil membaca, ya? Mau alasan anak-anak milenial tergerus teknologi? Loh, memangnya Jepang teknologinya tidak maju? Ya jelas maju! Bahkan mungkin lebih maju dari seluruh negara di dunia. Tapi nyatanya hal itu tidak menggerus minat baca masyarakatnya. Sekali lagi, ada kebiasaan yang dibangun sejak dini, lalu dampaknya sangat positif dan memiliki jangka panjang. Bahkan, salah satu stasiun TV di sana punya acara shopping dan yang dipromosikan adalah buku. Dalam acara ini, para artis mempresentasikan referensi suatu buku. Jangan bandingkan dengan acara TV yang ada di Indonesia, ya. Saya tak kuat menulisnya.

Lebih lagi, ada ruang baca publik yang umumnya dibuat untuk orang yang ingin membaca. Termasuk dalam transportasi. Tak heran jika di sana banyak sekali kita temui orang-orang yang membaca buku di kereta, bis atau transportasi lainnya.

Lewat uraian yang ada di atas, tentu ada hal yang bisa kita lakukan jika berkaca dengan keadaan yang ada di sana. Bagaimana cara membentuk anak agar berteman dengan buku, membiasakannya, hingga lingkungan yang dibentuk nyaman dan didukung oleh elemen lainnya, seperti pemerintah atau para pemilik toko buku. Minat baca memang berbeda, tapi peningkatan minat baca ini tentu tugas semua elemen. Tentu akan sangat indah jika melihat banyak toko buku tersebar, melihat banyak orang-orang meluangkan waktu membaca, dan tersedianya ruang bacaan di depan publik. Minat baca bangsa indonesia bisa tinggi asalkan kepedulian bangsanya juga tinggi.

Komentar

Nggak bisa tidur kalau belum diucapin selamat malam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *