Sudut Pandang Identitias Pegiat Literasi Di Mata Masyarakat

Hadirnya pegiat literasi di sekelililing kita bukanlah sebatas soal jadi panutan. Lebih dari itu mereka harus terus bisa membangun gerakan solidaritas yang saling menguatkan, sambil memperluas kerjasama dengan berbagai pihak.

Sebagian dari kalian mungkin masih ingat dengan aktifnya para pegiat literasi yang biasa menggelar lapak baca buku gratis. Yap, di masing-masing daerah kegiatan ini seringkali dilangsungkan oleh mereka, bahkan dipandang sebagai ibadah penting yang wajib ditunaikan.

Kegiatan semacam ini ada untuk menjawab persoalan akan minimnya akses bacaan serta tingkat literasi masyarakat Indonesia yang rendah. Maka dari  itu disediakanlah bahan buku bacaan, membangun taman baca serta mengadakan acara-acara yang mampu menyalakan semangat literasi, seperti mendongeng, berdiskusi dan lain sebagainya.

Mengemban tugas sebagai pegiat literasi juga bukanlah hal mudah. Walau antusiasme positif sering ditonjolkan oleh banyak masyarakat, namun sebaliknya tak jarang ada yang berpandangan buruk terhadap pegiat literasi. Bahkan ada juga yang seringkali melihat dari segi penampilan para anggotanya.

Baca juga : Kreatifitas Dan Solidaritas Membangun Gerakan Literasi Versi Nirwan Arsuka

Kalau saya boleh berkomentar, jika bukan mereka, siapa lagi yang mau dengan senang hati bersedia meluangkan waktunya, demi bisa melihat raut wajah ceria dari setiap orang yang mendapatkan akses buku bacaan, ataupun menyelenggarakan agenda yang berbau literasi.

Lagipula, mau sampai kapan kita sibuk mengurusi gaya berpakaian seseorang. Tidak selamanya kebaikan seseorang diukur dari segi penampilan. Lalu juga berharap penuh pada pemerintah pun omong kosong belaka.

Mungkin mereka sudah kenyang  menanggung kekecewaan atas program distribusi buku kemarin yang aksesnya telah dibatasi dan diatur oleh negara. Sebagai masyarakat yang perduli akan masa depan bangsanya, kita harus bisa mendukung penuh kegiatan-kegiatan literasi yang diadakan demi mendorong minat berliterasi pada masyarakat.

Belum usai disitu, muncul lagi pokok persoalan lain akan adanya perspektif masyarakat yang beredar dan mungkin bagi sebagian pegiat literasi pernah mengalaminya. Pegiat literasi diwajibkan banyak baca buku, paham dengan isu-isu nasional bahkan sampai dengan dunia perbukuan.

Seolah-olah mereka dicitrakan sebagai sosok yang serba tau. Secara, dari mereka di pandang sangat jeli dalam menggali informasinya dan khatam dengan segala persoalan yang ada.

Saya sedikit sepakat dengan perspektif semacam ini. Mau bagaimanapun juga pegiat literasi adalah sosok garda terdepan yang mau secara sukarela membangun budaya literasi, setidaknya lebih dulu jadi cerminan.

Mesikpun kita sama-sama tahu, tidak semua pegiat literasi mampu menjawab persepektif dari masyarakat. Menjadi garda terdepan dalam membangun budaya literasi dan mampu mengkaji sebuah isu-isu nasional dengan baik.

Sisanya, mereka masih menjalaninya dengan setengah-setengah atau kalaupun ada, sedang dalam fase belajar untuk bisa melakukan kewajiban semacam itu.

Bukan bermaksud sok paling benar atau apapun itu, saya bawa fakta ini karena telah mengalaminya sendiri, sebagai anggota yang sampai saat ini bergelut di gerakan literasi.

Lagia pula setiap orang punya tingkat ketertarikan dan pemahaman berbeda-beda. Artinya belum bisa dikatakan sepenuhnya bahwa orang yang terjun atau bergerak di bidang literasi harus sudah pasti bisa atau paham melakukan hal-hal tersebut.

Jika disandingkan, sama hal nya dengan kalian yang punya tingkat minat berbeda-beda pada buku bacaan. Pasti haruslah dirangsang untuk tertarik atau dibiasakan secara rutin.

Daripada menjustifikasi individualnya, lebih baik lihat dari sisi lain atas inisiasi, niat serta kebaikan yang mereka sebar ke setiap lapisan masyarakat, sampai bahkan ada pegiat literasi yang rela terjun ke pelosok desa, dengan berbagai macam konsep gerakannya yang mulia.

Jadi, kini sudah saatnya kita meluruskan pandangan akan arti pegiat literasi. Jangan lagi anggap pegiat literasi hanya dari covernya saja, ataupun anggotanya yang belum mampu menjalankan hal-hal semacam tadi.

Faktanya, pada agenda-agenda yang dijalankan, sejauh ini pegiat literasi masih terus berjuang demi bisa memeluk hati masyarakat, bekerjasama dengan segala pihak agar bisa menularkan virus berliterasi.

Ya, paling tidak dengan sepenggal kalimat positif yang disampaikan dan terus memberi apresiasi, itu akan membuka jalan semangat bagi mereka agar terus hidup dalam membangun gerakan literasi di nusantara.

Komentar
Dhani Arief Wicaksono

Benci feodal namun juga bukan patriotik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *