Sudah Adilkah Semua Kalangan Mendapat Hak Untuk Membaca?

Ilmu pengetahuan adalah hal yang tak bisa dilepaskan dari peradaban. Segala yang ada dan sekarang kita bisa nikmati, ada karena ilmu pengetahuan, semuanya, tanpa terkecuali. Lihat baju yang kalian pakai, ada peran serta ilmu pengetahuan disana. Kalau kalian sedang memegang sesuatu, coba lihat, pasti ada peran serta ilmu pengetahuan juga di benda itu. Intinya, peradaban dibangun dari ilmu pengetahuan.

Lalu, sepenting apa ilmu pengetahuan untuk bisa dijangkau seluruh manusia? Tentu seperti udara yang kita hirup saat ini, sebegitu pentingnya. Ilmu pengetahuan jangan sampai berjarak dengan manusia. Ada banyak sarana untuk kita bisa mendapatkan ilmu pengetahuan, dan yang kali ini kita akan bahas tentu adalah tentang bagaimana ilmu pengetahuan bisa didapatkan dari apa yang kita baca, yaitu buku.

Membaca adalah sarana efektif kita untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Lewat tulisan yang dirangkum berlembar-lembar, kita bisa mengetahui sejarah yang mungkin terjadi beratus-ratus tahun dari saat ini. Membaca juga membuat kita tahu tentang apa yang ada di pikiran sang penulis tentang banyak hal. Buku adalah jendela dunia, dan membaca adalah cara kita menikmati keindahan menatap dunia dari jendela itu.

Baca Juga:  86: Saat Uang Memperlancar Segala Urusan

Tetapi, apakah semua orang bisa menjangkau jendela itu? Apakah semua orang bisa melihat dengan jelas dunia dari jendela itu? Sebaiknya iya. Seperti yang sudah dikatakan tadi, mestinya ilmu pengetahuan bisa dijangkau oleh siapapun, tanpa terkecuali.

Namun, beberapa orang mengalami hambatan untuk bisa menikmati memandang dunia dari jendela itu. Teman-teman penyandang disabilitas, dalam hal ini adalah tuna netra tak bisa menjangkaunya dengan mudah. Begini, kita mungkin bisa dengan mudah menikmati buku-buku yang ada kini tanpa musti ada kesulitan. Ataupun kalau kita tak memiliki uang untuk membeli buku, kita bisa mendatangi ke sebuah toko buku.

Lalu, bagaimana dengan mereka? Sebetulnya ada teknologi yang bisa membantu mereka untuk menikmati fasilitas buku yang ada. Ada jenis buku braile yang membantu mereka untuk bisa membaca. Apakah masalah sudah selesai? Tentu belum. Faktanya kini ketersedian buku braile untuk bisa dinikmati mereka masih minim.

Data yang dihimpun dari Yayasan Mitra Netra Indonesia, ada 10.000 buku yang diproduksi dalam satu tahun, namun hanya 3 persen saja yang diterjemahkan menjadi buku braille. Itupun kebanyakan besar buku yang diterjemahkan adalah buku pelajaran sekolah. Sangat minim buku umum yang dialihbahasakan menjadi buku braille. Bukankah itu fakta yang ironis?

Ada banyak faktor mengapa produksi buku braile di Indonesia mengalami hambatan. Salah satu faktornya adalah mahalnya alat produksi dan pembuatan buku braile. Kalau dalam buku biasa 1 lembar, maka kalau dialihbahasakan ke buku braile bisa menjadi 3 lembar. Adapun hambatan lainnya adalah rumitnya proses alih bahasa.

Seharunya ini menjadi tugas pemerintah untuk menjamin bahwa ilmu pengetahuan bisa dijangkau oleh siapapun, itupun kalau pemerintah benar-benar serius. Nyatanya kini sampai saat ini belum terlihat keseriusan pemerintah. Perpustakaan kota yang harusnya menjadi tempat penyedia buku, hanya menyediakan buku umum saja, masih minim perpustakaan yang menyediakan buku braile.

Adapun biaya untuk membeli buku braile itu sangat mahal, bisa berkali-kali lipat harganya dari buku biasa. Lantas, dimanakah letak keadilan hak untuk membaca?

Kami sebagai komunitas literasi di Tangerang merasa sangat miris dengan fakta yang terjadi saat ini. Selain memang negara belum begitu ramah soal penyediaan fasilitas publik untuk penyandang disabilitas, ternyata negara juga tak mampu untuk menjamin hak mendapatkan ilmu pengetahuan secara luas.

Dan ini adalah artikel pembuka untuk kemudian selanjutnya kami sebagai komunitas literasi membahas tentang ketersedian buku untuk teman-teman penyandang disabilitas, khususnya bagi tunanetra. Bahwa maksud dan tujuan kami jelas, dimana harusnya sebuah ilmu pengetahuan tak boleh berjarak dengan manusia. Dengan ini, kami harap bisa memangkas jarak tersebut, hingga akhirnya semua bisa menikmati membaca buku, tanpa terkecuali.

Sudah jelas seharunya peran negara adalah menjamin hak setiap orang agar memperoleh kemudahan dan perlakuan khusus untuk kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan.

Baca Juga: BUKU-BUKU UNTUK KAMU YANG SEDANG BERSEDIH

 

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *