Stagnasi: Tambah Luka, Tambah Derita, Sialnya Tambah Cinta

Malam itu saya meluangkan waktu untuk membaca buku Stagnasi. Buku yang ternyata amat menyiksa orang-orang patah hati. Walau begitu, saya tetap memberanikan diri membaca, berharap apa yang saya rasakan sesuai tertuang dalam buku ini.

Dari judul buku, saya ataupun kalian pasti dibuat penasaran. Stagnasi, merupakan sebuah keadaan di mana kita terhenti, tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa menyerah dalam keadaan. Buku berisikan sekelumit hal tentang patah hati, kegagalan mendapatkan pasangan, sampai pada akhirnya pembaca dituntun untuk diam ditempat mengalami patah hati terdalam.

Ada dua hal sebenarnya kenapa saya tertarik membaca buku Stagnasi. Pertama,saya kenal penulisnya, Ia adalah Imelda Yusuf yang kebetulan aktif menjabat sebagai anggota baru Komunitas Baca Tangerang. Alasan kedua, saya rasa buku ini mungkin cocok untuk menikmati luka yang masih baru membekas dari patah hati.

Benar saja, membaca halaman pertama pada buku ini sudah dibuat pusing. Puisi pertama yang tersaji cukup memberikan efek kejut bagi saya. Naas, secara kebetulan atau tidak, kata-kata yang dibuat dirasa persis dengan apa yang saya alami. Meski begitu, saya tetap memberanikan diri, terus membaca kelanjutannya.

Baca Juga : Dampak Positif Keberadaan Polisi Virtual Di Media Sosial

Sialnya, tidak bertahan lama, baru membaca 10 halaman, hati dipaksa menyerah pada buku ini. Bukan karena membosankan, atau puisinya yang tidak berima. Tapi, kalimat demi kalimat berhasil menyayat hati tanpa ampun. Akhirnya pada malam itu saya menyerah, menunda bacaan, tidak ingin hati ini terobek semakin lebar.

Pada saat itu juga, saya segera mengirim pesan via Whatsapp kepada penulisnya, Imelda. “ Mel, baru halaman 10 saja saya sudah tidak sanggup membacanya. Stagnasi memang brengsek!” Lalu dia hanya tertawa dengan rasa puas, bahwa ternyata buku yang ditulis mampu menggoreskan luka kepada pembacanya. Kemudian saya berjanji, esok hari harus bisa menyelesaikan buku ini tanpa ampun. Sebagai seorang lelaki sejati, janji harus bisa ditepati.

Sebab, apa lagi yang bisa dipegang seorang laki-laki kalau bukan ucapannya, bukan? Saya memberanikan diri untuk membaca buku ini kembali. Alhasil, sudah diduga, karangan puisi dan kumpulan cerita yang disajikan buku Stagnasi selalu mengapit pada realita yang lagi-lagi kerap seusai dengan perjalanan cinta saya.

Dengan rasa penasaran, timbul pertanyaan di benak, dimana kah asal pengambilan cerita isi buku tersebut, kok, bisa sampai dekat sekali dengan kehidupan saya? Imelda sendiri membocorkan, bahwa rahasia dari buku Stagnasi sebagian besar berasal dari pengalaman pribadi, sebagian lagi adalah curhatan teman-temannya.

Kalian akan menemui curahan hati seorang perempuan yang ditinggal oleh kekasihnya, yang lebih memilih perempuan lain sebagai tambatan hati. Meski begitu dia masih tetap menyimpan perasaan terhadap laki-laki tersebut.

Puisi-puisi pendek ini menggambarkan suasana hati dari perempuan tersebut. Mengingat-ngingat, setumpuk luka dan kenangan yang ditinggalkan. Rasa ingin melupakan pasti ada, tapi sayangnya tidak semudah membalik kedua telapak tangan, tidak mudah merelakan dia bersama orang lain. Tambah luka, tambah derita, dan sialnya tambah cinta.

Secara keseluruhan, bagi saya buku ini dalam pemilihan kata tidak begitu nggejelimet, mudah dipahami dan dirasakan oleh pembaca. Dengan tebal buku berisikan 150 halaman, menuntaskan buku ini sebetulnya tidak butuh waktu lama, sehari penuh saja pun bisa.

Baca Juga :  Lima Penulis Muda Indonesia Yang Karyanya Harus Kamu Baca

Saya sarankan, membaca buku ini baiknya sekali habis. Karena kalian akan terhanyut, menikmati kata-kata indah nan menyakitkan yang dipersembahkan Imelda Yusuf. Dengan catatan, harus kuat dan berpegang hati dengan kalimat-kalimat brengsek kisah percintaan yang sering dialami oleh Generasi Z. Siapkan tisu-tisu sebanyak-banyaknya kalau tidak mau pipi bergelimang air mata.

Membaca buku ini, kalian harus punya mental kuat, apalagi bagi yang baru putus cinta, ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Tetapi, bagi saya buku ini sangat cocok untuk seseorang yang ingin menari di atas penderitaan, yang sedang dirasakan. Selamat menikmati luka!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *