Stadion Benteng dan Kisah Masa Lalu

Stadion Benteng adalah satu nama yang akrab bagi masyarakat pencinta sepakbola di Tangerang. Di tempat ini, dulu dua klub kebanggaan masyarakat Tangerang melakoni laga kandang. Setiap laga digelar, para pendukung memenuhi hampir seluruh stadion. Apalagi jika derbi berlangsung, gemuruh dan panasnya laga bakal menjalar ke seluruh penonton.

Stadion dengan kapasitas 20 ribu penonton ini menjadi saksi bagaimana rivalitas kedua klub dan pendukungnya berlangsung. Laskar Benteng Viola yang setia mendukung Persita, dan Benteng Mania yang menjadi barisan pendukung Persikota. Dengan dua kelompok yang selalu bersitegang ini, stadion Benteng terbelah warnanya menjadi ungu dan kuning.

Namun pemandangan itu sudah lama tidak terlihat. Dua klub kebanggaan kini tak lagi bermain di liga utama. Persita kini hanya bermain di Liga 2, sementara Persikota tak lagi terdengar kabar dan kejelasannya. Setelah periode terbaik kedua klub di awal 2000-an berakhir, kini tinggallah cerita yang tersisa dari stadion Benteng.

Meski masih aktif berlaga, Persita tak lagi menggunakan stadion ini sebagai markasnya. Alasannya sederhana, stadion ini tidak layak digunakan oleh klub yang berlaga di liga. Akhirnya, Persita harus menjadi klub musafir yang berpindah markas dari stadion satu ke stadion yang lain. Kabarnya, tahun depan mereka bakal menggunakan stadion baru di Kelapa Dua ketimbang memugar kembali stadion Benteng yang bersejarah ini.

Penggunaan stadion Benteng sebagai markas klub memang banyak ditentang oleh masyarakat. Seringnya terjadi bentrok antar suporter menjadi alasan utama. Bahkan pada tahun 2012, Majelis Ulama Indonesia setempat mengeluarkan fatwa haram menonton pertandingan di stadion ini karena sering terjadi bentrok antar pendukung.

Kini stadion tersebut telah beralih fungsi. Setelah tak lagi digunakan sebagai tempat bermain sepakbola, lapangan pun berubah ladang rumput. Warga sekitar memanfaatkannya untuk memberi makan kambing mereka. Dan hal ini pernah benar-benar terjadi.

Bangunan stadion makin rapuh, kumuh, dan mungkin sudah siap untuk dirobohkan. Pintu stadion berkarat, halamannya menjadi tempat parkir truk dan angkot. Bau pesing menyengat tercium dari sekitaran tembok. Kesan angker benar-benar tampak kala malam tiba. Angker yang benar-benar angker, bukan karena tim lawan susah dapat poin di tempat ini.

Ironis, memang. Mengingat stadion ini terletak di tengah-tengah Kota Tangerang dan berada di samping Pusat Pemerintahannya. Sebuah duri dalam daging karena kesan bobrok hadir di tengah kokohnya gedung-gedung di dekat stadion ini.

Memang stadion ini dimiliki oleh Pemerintah Kabupaten, yang agaknya masih berat untuk melepas kepemilikan tempat bersejarah ini. Sempat terdengar kabar kalau Pemerintah kota siap mendandani stadion ini jika kepemilikannya sudah diberikan penuh pada mereka. Meski akhirnya Pemerintah Kota malah merencanakan untuk membangun stadion baru di daerah Pinang untuk markas Persikota.

Entah bagaimana nantinya nasib stadion ini. Bakal dipugar atau dirobohkan, kita semua belum bisa memastikan. Hanya ada satu hal yang kini bisa dipastikan, yakni cerita indah dua klub sepakbola kebanggaan kita tinggallah kisah masa lalu yang cuma bisa dikenang.

Komentar

Penyuka karya Dewi Lestari dan berhasrat ingin bertemu sang Supernova

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *