Sosok Inspiratif Penulis Tunanetra

Beberapa minggu ini saya memang sangat tertarik untuk membahas tentang akses bacaan bagi penyandang tunanetra. Semakin saya ingin tahu lebih dalam, semakin juga saya dihadapkan fakta buruk nan menyedihkan bahwa mereka, penyandang tunanetra, terpaksa berjarak dengan ilmu pengetahuan.

Sebelumnya, saya membahas kenyataan bahwa pemerintah daerah tak serius akan akses bacaan untuk penyandang tunanetra. Penyandang tunanetra seakan tidak diberi kesempatan untuk mengakses buku, Jendela dunia yang diidamkan.

Kemudian timbul pertanyaan dalam benak saya, ‘mengapa kesempatan itu tak diberikan? Tak adakah harapan untuk mereka?’ Pertanyaan tersebut yang kemudian menjadi langkah awal untuk mencari tahu sambil meyakinkan diri bahwa mereka itu harapan, selayaknya kita bagi orang-orang tersayang.

Saya dipertemukan dengan tiga sosok yang berhasil membuktikan bahwa penglihatan mereka memang hilang, tapi bukan menjadi alasan mereka untuk berjarak dengan ilmu pengetahuan.

Ramaditya Adikara atau kerap disapa ‘Rama’ mendapatkan predikat sebagai The First Indonesian Blind Blogger. Ketika mungkin salah satu di antara kalian menganggap bahwa membaca saja adalah kesulitan bagi mereka (penyandang disabilitas), namun Rama membuktikan bahwa hal tersebut salah. Tak hanya membaca, Rama kini sudah menulis delapan buku.

Kata-kata meremehkan memang kerap didapatkan, namun itu bukan menjadi sebuah kegetiran bagi Rama. Dia terus membuktikan diri bahwa tak ada yang bisa menghambat seseorang untuk berkarya, biarpun dengan kekurangan yang dia miliki.

Sosok selanjutnya yaitu, Antonius Silalahi. Di dunia literasi dan kesusastraan, namanya sudah cukup dikenal. Beberapa karya yang lahir dari tangannya cukup mendapatkan tempat di hati beberapa orang. Anton berkarya dengan menerbitkan beberapa puisi. Karyanya pun sudah sering mengisi beberapa media cetak.

Baca Juga : Ketika Negara Minta Bantuan Facebook Untuk Tingkatkan Literasi Digital

Buku-buku kumpulan puisi Anton yang sudah terbit yaitu Matahari (2005) dan Bara Hati (2006). Daya juang dan kreativitasnya memang besar. Lagi-lagi, baginya kehilangan penglihatan bukanlah hambatan berarti. Ia masih mampu untuk berkarya. Yang hilang hanya penglihatannya, bukan semangatnya.

Sosok terkahir yaitu, Abdul Hadi. Sosok bapak dari keluarga kecil ini memang melalui banyak rintangan hingga akhirnya menemui jalan hidup sebagai penulis kontributor di website milik TNI AD.

Sebelumnya, ia mencoba mengadu nasib dengan berjualan kerupuk, produk herbal, hingga menjadi tukang pijat. Di sela-sela kesibukannya mencari rezeki, ia selalu menyempatkan waktu untuk mengisi tulisan di blog pribadi. Nasib untung dan kesempatan datang padanya di waktu yang tak disangka. Salah satu pelanggan menawari dirinya menjadi kontributor website milik TNI AD. Dari sana langkah dan babak baru hidupnya dimulai.

Pak Hadi sudah merilis hingga ratusan artikel dalam kurun waktu 2 tahun terakhir. Dirinya menulis lima artikel dalam sepekan. Ketika bercerita tentang pencapaiannya, ia berujar bahwa sebetulnya dirinya dan teman-teman (para penyandang tunanetra) hanya butuh diberi kesempatan. Iya, hanya kesempatan.

Ketiga sosok tersebut adalah bukti bahwa siapapun bisa berkarya, terlepas dari apa kekurangannya, itu bukanlah hambatan. Benar apa yang dikatakan oleh Pak Hadi, hanya butuh kesempatan saja.

Mereka adalah sosok yang berjuang walau akses untuk membaca masih sulit didapatkan. Mereka tak butuh dikasihani, mereka hanya butuh kesempatan. Seharusnya mereka masih bisa melihat dunia, melalui bacaan buku. Bahwa buku adalah jendela dunia, itu benar, dan semua orang berhak mendapatkan jendela itu.

Beruntungnya saya dipertemukan dengan sebuah website yang berisi karya-karya dari penyandang tunanetra. Membaca beberapa artikel di sana membuat saya kagum. Opini dan suara mereka diutarakan sangat nyaring bersamaan dengan hati yang tulus melalui tulisan. Kalian bisa kunjungi saja websitenya di http://www.kartunet.com/

Baca Juga : Membaca Derita Di Hiroshima

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *