SOE HOK GIE DAN KATA- KATA

Kalian pasti pernah memposting kutipan-kutipan dari penulis buku di media sosial. Jika kalian seorang mahasiswa maupun aktivis sosial pasti pernah memposting kutipan dari buku karya Soe Hok Gie, atau jika kalian seorang yang sedang dilanda asmara kutipan dari buku karya Fiersa Besari seringkali mampir di beranda kalian. Mungkin karena kata-kata mereka mampu mewakili perasaan atau memotivasi, sehingga tertarik jika kutipan mereka menghiasi media sosial kalian.

Saat membaca buku kita harus mencermati tulisan demi tulisan yang disampaikan penulis. Ketika membaca buku pastinya akan menemukan kalimat yang sangat menyentuh hati dan menggambarkan kenyataan yang kita alami. Tanpa basa-basi langsung posting di media sosial kita. Kalimat itu juga pastinya tersimpan di memori pikiran. Kalian merasa pernah melakukan itu?

Mengenal lebih jauh sosok si penulis juga menjadi kebiasaan para pembaca. Sederhanya kita mengenal lebih dekat lagi sosok si penulis karena tulisannya sangat berkesan di hati. Itu sebuah hal yang baik, karena kita bisa mengetahui maksud dan gaya tulisan itu, sebab kita telah mengenal sosok penulisnya.

Kali ini kita akan membahas kalimat-kalimat dari karya Soe Hok Gie yang berkesan dan seringkali menjadi langganan beranda para pengguna media sosial :

  1. “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.”

Maksud dari kata-kata Soe Hok Gie adalah untuk tidak menjadi manusia yang munafik. Membaca kalimat ini, menyadarkan saya bahwa kemunafikan masih marak terjadi baik itu di kalangan atas maupun kalangan bawah. Dan hal itu harus dilawan. Kata-kata darinya menggambarkan bahwa ia merupakan sosok yang sangat benci dan ingin melawan segala bentuk kemunafikan yang marak terjadi, bahkan ketimbang menyerah pada kemunafikan lebih baik memilih untuk diasingkan. Dan itu berhasil meyentuh hati dan menyadarkan saya. Maka jadilah manusia merdeka yang enggan dijajah oleh siapapun dan apapun itu.

  1. “Makin redup idealisme dan heroisme pemuda, makin banyak korupsi.”

Perkataan ini masih dari Soe Hok Gie yang tertuangkan dalam buku “Orang orang dipersimpangan kiri jalan” idealisme merupakan kekayaan terbesar yang dimiliki oleh manusia. Jangan sampai kita menjual idealisme hanya karena ingin mendapatkan kemewahan hidup. Sebagai manusia kita harus memegang teguh idealisme di dalam diri. Apalagi tahun ini tahun politik, biasanya banyak kalangan muda yang menjual idealisme nya. Dan itu merupakan hal yang sudah sepatutnya dihindari

  1. “Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau.”

Perkataan Soe hok Gie kali ini lebih menjurus kepada pendidikan. Sebagai pelajar dan mahasiwa, kita tidak boleh takut menyuarakan kebenaran, sekalipun itu pendapat guru yang kita lawan. Ketika ‘mindset guru selalu benar’ tertanam pada pikiran kita, apa yang dikatakan guru hukumnya menjadi mutlak. Padahal belum tentu semua yang dikatakan adalah kebenaran. Mesti kita pahami bahwa sudah sepatutunya pola pikir ini dirubah dan guru harus siap dikritik jika memang salah.

Itulah 3 kalimat yang paling berkesan dan teringat di memori saya. Tentunya masih banyak lagi kalimat lain yang sebenarnya berkesan dalam setiap buku yang saya baca. Teruntuk para pemuda, jangan lagi ada kata malas dalam membaca. Bacalah lebih banyak buku dan temukan kalimat-kalimat yang berkesan serta mampu membuat dirimu ketagihan membaca.

Komentar

Banyak buku, sedikit nyender, tapi tidak oleng.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *