Sistem pendidikan yang semrawut

Sistem pendidikan yang semrawut

Selama menjadi mahasiswa di IKIP Bandung, Roem Topatimasang aktif terlibat dibeberapa organisasi kemahasiswaan dan termasuk sering mengikuti unjuk rasa. Ia tipikal mahasiswa yang aktif, kritis, dan vocal dalam menyuarakan pendapatnya.  Roem Topatimasang dilahirkan di Masamba, Sulawesi Selatan pada tanggal 20 Mei 1958.

Lewat Sekolah itu Candu, Roem Topatimasang memberikan gambaran mengenai sekolah dan lembaga pendidikan baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Dia menggunakan gaya bahasa semi cerpen dalam penyampaiannya. Melalui tokoh Sukardal yang datang dari tahun 2222, ia mendeskripsikan potret sekolah dari berbagai belahan dunia. Tokoh Sukardal ditampilkan dibagian awal dan di bagian akhircerita. Di bagian tengah, Sukardal sama sekali tidak ditampilkan. Bisa dibilang diabaikan sepenuhnya.

Terlepas dari diabaikannya Sukardal, buku ini memberikan wawasan yang dalam tentang bagaimana seharusnya sekolah. Ia sebagai lembaga pendidikan belum 100% menghasilkan SDM yang terdidik.

Di bab Sekolah Di sana-Sini, Roem menyinggung tentang sekolah yang tidak punya mata pelajaran baku, tidak punya jadwal, tidak punya kelas resmi, tidak ada ujian kolektif, namun banyak menghasilkan lulusan-lulusan ilmuwan jago kelas dunia dan juga peraih nobel. Uniknya, nama universitas ini justru tidak begitu terkenal.

Sungguh disayangkan saya tidak membaca buku ini ketika sekolah dulu  sampai akhirnya segala menset belum terbuka dan selalu mengikuti arus yang pendidikannya hanya mencekoki siswa/siswi, jadwal terisi padat, masuk jam 06.30-15.00, membuat saya jenuh bukan maen.

Secara kurikulum yang di buat pemerintah, seperti ktsp sampai K13 menuntut saya belum bisa memaksimalkan siswa mengespor lebih banyak, karena secara sistemnya kita hanya diajarkan untuk sampai batasan meniru bukan sebagai pencipta.

Taragis sekali saya sebagai siswa. Selama 12 tahun lamanya diisi dengan kegiatan mencatat, mendengarkan ceramah guru, mengisi lks dan soal yang diberikan guru, yah walaupun sesekali saya  bermain.

Sekolah menjadi ladang bisnis, mencari uang bukan lagi menceerdaskan kehidupan bangsa. Siswa yang di butuhkan hanya uangnya, bukan mengajarkan siswa mengekspor dirinya lebih baik lagi.

Kita di tuntut mempunyai buku, seragam, dan sepatu yang sama. Yang hasil keuangan kita juga dituntut harus sama. Karna sekali lagi pendidikan merupakan lading usaha yang menghasilkan uang yang banyak. Belum lagi saya harus ikut bimbel, bukannya tambah pinter melainkan membosankan dan menghabiskan uang orang tua saja.

Sampai sistemnya matang dan mapan, memang sekolah akan tetap menjadi topik pembahasan yang menarik disela-sela cangkir teh dan kopi. Hingga Indonesia berusia lebih dari setengah abad, sekolah belum menjadi lembaga pendidikan yang seharusnya. Malahan tampak menjauh dari hasil yang diharapkan.

Saya rasa buku ini perlu dibaca oleh pelaku dunia pendidikan kita, para guru dan dosen bahkan mentri pendidikan, agar sistem pendidikan jauh lebih mapan dan matang dari sekarang. Yah saya berdoa agar pendidikan di Indonesia bisa cepat baik sesuai yang kita harapkan.

Suuueerrr….. ternyata buku ini memang sangat bagus. Sungguh menyesalkan kenapa saya tidak membacanya dari dulu-dulu. Buku itu adalah kumpulan tulisan tentang kritik sistem pendidikan kita. Kumpulan tulisan aktivis pendidikan jaman dulu Roem Topatimasang.  Tulisan-tulisan yang bersikap kritis bahkan memberontak terhadap sistem pendidikan kita.

Judul : Sekolah itu Candu

Penulis : Roem Topatimasang

Jumlah Halaman : 129 halaman

Penerbit : INSISTPress

Isbn : 6028384607

Komentar

Banyak buku, sedikit nyender, tapi tidak oleng.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *