SISI LAIN ‘BUNG’ FIERSA BESARI

Musisi sekaligus penulis, dua predikat yang melekat erat pada Fiersa Besari yang hingga saat ini masih hangat sekali terdengar di telinga anak-anak muda. Bukannya apa-apa, Keberadaannya kian digandrungi lewat kutipan-kutipan nan puitis nya yang seolah mewakili perasaan anak muda. Termasuk juga lewat lirik-lirik lagunya yang mendalam nan penuh makna.

Lewat lagunya yang berjudul Waktu Yang Salah membuat nama Fiersa Besari semakin melonjak dan digilai banyak remaja perempuan—maka tak heran kalau banyak perempuan yang kian kemari menjadi Kawan Mengagumkan (sebutan bagi mereka yang menggolongkan dirinya sebagai pengagum Fiersa Besari).

Bukan hanya lagu-lagunya yang laris manis dipasaran, karya buku-bukunya pun turut serta diminati. Terhitung telah ada lima buku yang diterbitkan oleh pria kelahiran Bandung, 3 Maret 1984, yang akrab disapa ‘bung’ tersebut. Buku terbarunya yaitu Albuk 11:11, dan karya-karya yang sebelumnya: Arah Langkah, Catatan Juang, Garis Waktu, Konspirasi Alam Semesta.

Bisa dibilang bahwa bung merupakan sosok multitalenta, penyanyi indie serta penulis yang berhasil sukses di pasaran.

Selain sebagai musisi dan penulis, Ia juga aktif di kanal youtube. Channelnya yang juga diberi nama Fiersa Besari, banyak mengunggah tentang perjalanannya selama mendaki gunung ataupun menyusuri alam—sisanya beberapa tanggapan tentang sebuah peristiwa.

Baca Juga: 4 Buku Yang Pernah Dilarang Beredar Di Indonesia, Sudah Tahu?

Mungkin, para pengagum dadakan si bung, yang hanya kenal lewat lagu hitsnya maupun buku best sellernya jarang yang mengetahui sisi lain si bung. Misalkan, lewat lagunya yang diputar lebih dari jutaan kali, seperti: Waktu Yang Salah, April, Juara Kedua dan masih banyak lagi, sehingga orang banyak mengira bahwa karya lagu-lagunya hanya berbau melankolis—mungkin hanya segelintir yang tahu bahwa si bung pernah merilis lagu yang berjudul Semua Anak Bangsa. Yap, dari judulnya memang mengingatkan kita tentang karya tetralogi dari Pramodya Ananta Toer.

Lagu yang saya pikir layak untuk didengar di zaman serta kondisi bangsa yang saat ini bisa dibilang sedang kacau. Lagu tentang memaknai sebuah perbedaan sebagai suatu keindahan. Jadi jangan kira bahwa dirinya hanya mencipta karya yang berbau melankolis saja, ia juga pernah mencipta karya yang bertajuk nasionalis.

Tak heran jikalau si bung merilis lagu dengan judul demikian, karena memang sebetulnya dirinya pun menyukai hal-hal yang berkaitan dengan literasi. Bahkan ia merupakan salah satu pendiri Komunitas Pecandu Buku. Mula-mula berangkat dari keresahan minat baca masyarakat Indonesia yang terbilang rendah, mulailah Fiersa dan Aulia Angesti memprakarsai berdirinya Komunitas Pecandu Buku, mencoba atau setidaknya mengurangi hal buruk tersebut kian marak terjadi, khususnya pada tempat tinggalnya di Bandung. Didirikan pada tanggal 18 Juli 2015, hingga kini Komunitas tersebut telah berhasil menggaet banyak pengikut.

Di kanal jejaring Instagramnya saja kini telah menyentuh angka seratus ribu lebih pengikut. Dan untuk keanggotaannya sendiri, kini sudah mencapai lima ratus lebih, semuanya tersebar di beberapa daerah. Dalam segi perekrutan anggotanya pun tak begitu rumit, mereka cukup mengirim sebuah ulasan tentang buku yang telah usai di baca.

Baca Juga: Hanya Ada Satu Kata Untuk Pelecehan Seksual: Lawan!

Sudah banyak kegiatan yang dilakukan, mulai dari sering mengadakan kajian buku, membuka lapak baca gratis, hingga untuk di media sosial biasanya mereka mengadakan sayembara menulis surat, ‘Surat Untuk Februari’, yang kemudian pemenang dari sayembara tersebut hasil karyanya akan dibukukan.

Dalam skala komunitas literasi, Komunitas Pecandu Buku memiliki kemajuan yang sangat pesat. Setidaknya, ke depan besar harapan mereka agar komunitas tersebut tetap konsisten menjadi wadah anak-anak milenial untuk terus mengenyam dunia literasi.

Beranjak dari harapan itulah, kita sama-sama sadar bahwa bung tidak ingin meraih popularitas semata, namun garis perjalanannya tersebut menuntun untuk ingin selalu memberi manfaat dan kebaikan pada semua.

Begitupun pada caption yang saya temui dalam postingan di Instagramnya, “Maka, jika kelak aku berpulang, jangan kenang aku sebagai penyanyi. Kenang saja aku sebagai seseorang yang ingin membawamu ke arah kebaikan”. Maka itulah sisi lain dari seorang ‘bung’ Fiersa besari yang mungkin tak banyak diketahui. Dibalik karya-karyanya yang populer ternyata ada hal lain yang justru semakin menunjukan bahwa dirinya layak sebagai seorang yang patut diidolai.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *