Sepiring Nasi Uduk dengan Pilihan Lauk yang Kelewat Banyak

Malam ini saya, Aditia, dan Furqon bertemu di seberang Pusat Pemerintahan Kota Tangerang. Kami memang sering bertemu untuk berbincang- bincang, tentang apa saja. Mulai dari kusutnya pemerintahan sampai kisah cinta Furqon yang mengenaskan. Setelah jenuh mendengarkan keluh-kesah dari kisah cinta Furqon yang tak kunjung menemukan kekasih impian, kami memutuskan untuk pulang saja.

Di perjalanan, Adit mengajak kami untuk mampir makan di Nasi Uduk Jatiuwung. Ya berhubung perut saya juga lapar, kami menerima ajakan tersebut. Ini bukan kali pertama saya mampir di lapak ini. Karena memang nasi uduk ini beda dengan yang lainnya, menu yang ditawarkan lebih banyak macamnya. Dan inilah salah satu lapak nasi uduk yang banyak dikunjungi oleh masyarakat Tangerang.

Lapak ini diberi nama Nasi Uduk Jatiuwung karena terletak di pinggir jalan di Jatiuwung. Lebih tepatnya di seberang Restoran Remaja Kuring. Sesampainya di sana, sudah banyak motor-motor yang telah terparkir, sehingga kami harus parkir sekitar 15 meter dari lapak tersebut. Saat kami tiba waktu telah menunjukkan pukul satu pagi, dan sialnya, tempat ini masih saja ramai. Lapak ini memang tidak pernah sepi dari pengunjung.

Tak kurang dari dua puluh jenis lauk yang tersaji membuat saya bingung untuk memilih. Mau ambil banyak, kok ya nggak enak sama yang traktir. Mau pakai telur doang, kok ya tanggung. Akhirnya saya memutuskan untuk memilih lauk rica-rica ayam dengan ditemani bihun serta orek tempe lalu dilengkapi kerupuk dan sambal. Asal tahu saja, sambal yang disajikan warung ini bisa menggoyang lidah karena rasa pedasnya. Sementara itu, Adit memilih lauk ayam sambal dan Furqon pakai telur puyuh.

Soal minuman, di lapak ini kita disediakan dua termos besar teh tawar panas. Dari dulu, memang tempat ini hanya menyediakan satu jenis minuman. Baru-baru ini saja, tersedia satu termos besar air putih untuk para pelanggan. Setelah mengambil minum kita bisa memilih tempat duduk sesukanya. Dengan model lesehan, kita bisa duduk di alas tikar yang membentang di depan toko-toko yang sudah tutup.

Nasi uduk yang satu ini memang lezat. Semua menu yang disajikan bisa membuat pengunjung menelan ludah. Dengan varian menu yang bervariasi, tempat ini membuat saya tidak bosan untuk mampir lagi dan lagi. Porsinya pas untuk perut yang sedang lapar, jadi kita tidak perlu nambah kalau memang tangki perut tak besar-besar amat. Cukup mengeluarkan uang  Rp15.000, kita sudah bisa kenyang dan puas karena cita rasa, dan yang terpenting, tidak membuat kantong kempis.

Lapak nasi uduk ini telah ada sejak tahun 2009. Pemiliknya adalah Suparti, meski kini lapak tersebut lebih sering dikelola oleh adik iparnya. Walau berpindah tangan, cita rasa yang dimiliki serta konsep dari warung ini tidak banyak berubah. Hanya varian menu yang di tawarkan saja yang makin banyak.

Setiap harinya, warung ini menghabiskan 1 karung beras untuk disajikan ke pelanggan. Dan jika nasi serta lauknya habis sebelum jam 1, pemilik warung bakal memasak lagi makanan untuk malam itu. Dengan 9 orang yang bekerja di warung ini, melakukan hal itu agaknya sangat mungkin dilakukan. Menurut penuturan si pengelola, setiap harinya mereka bisa mendapatkan omset setidaknya Rp 7 juta per hari. Itu pun kalau sepi, kalau ramai bisa sampai Rp 9 juta hingga Rp 10 juta.

Karena konsep jualan yang menyajikan banyak menu inilah, warung tersebut mampu bertahan hingga saat ini. Memiliki menu makanan enak memang jadi resep untuk bertahan di belantara bisnis kuliner. Tapi si pengelola tahu, hal itu saja tidak cukup. Maka ditambah dengan varian menu yang beragam serta harga yang tidak menguras kantong, Nasi Uduk Jatiuwung telah mampu merebut hati masyarakat untuk kembali ke warung ini. Buat masyarakat Tangerang yang belum mencoba, kalian harus mampir ke tempat ini.

Komentar

Banyak buku, sedikit nyender, tapi tidak oleng.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *