Sepenggal Kisah Dari Toko Buku Bekas Milik Fajarudin Hutagalung

Sampai saat ini buku fisik terbilang masih menjadi komoditi utama bagi masyarakat dalam menggali ilmu pengetahuan. Ditambah dengan keberadaan toko buku yang menjajakan beragam jenis buku. Menjadikan buku semakin mudah untuk dimiliki. Jika kamu seorang pecinta buku namun berkocek pas-pasan, tentu membeli buku di toko buku sekelas Gramedia bisa jadi adalah pilihan yang berakibat fatal untuk biaya hidupmu barangkali sepekan kedepan. Kendati demikian, bukan berarti tak ada jalan. Alternatifnya adalah kamu tetap bisa membeli buku, walaupun hanya di toko buku bekas.

Namun, kini keberadaan toko buku bekas lumayan susah untuk dideteksi lokasinya. Mengingat sudah banyak toko buku bekas yang gulung tikar dan pemilik dari toko buku bekas pun telah banyak beralih profesi, bermata pencaharian lain. Mau dibilang bagaimanapun inilah tuntutan perkembangan zaman.

Kendati susah, bukan berarti tidak ada. Salah satu toko buku bekas yang saya temukan ini dinamakan Toko Buku Bekas Sibolga Nauli, milik lelaki tua bernama Fajarudin Hutagalung. Berdiri sejak tahun 90-an, toko buku bekas ini masih eksis berdiri hingga sekarang.

Pertemuan pertama saya dengan beliau selaku pemilik toko buku bekas ini bermula ketika hendak mencari toko buku sederhana di sekitaran Tangerang. Tentunya dengan berbekal infomasi dari mesin pencarian Google. Namun seketika perhatian saya tertuju ke toko buku bekas milik pak Fajarudin. Dengan mendatangi ke lokasinya yang bertempat di Jalan Ciujung Raya, Karawaci Kota Tangerang. Kesan pertama bertemu sang pemilik nampak disambut dengan hangat olehnya. Pria yang akrab disapa dengan banyak panggilan ini, tidak begitu mempersoalkan nama panggilan. Ia mengaku bahwa senang telah banyak mendapat julukan. Kadang sering dipanggil dengan ncang, amang hingga babeh dan masih banyak lagi nama panggilan lainnya. Saya selaku orang yang sejak kali kedua bertemu dengannya mengaku lebih nyaman untuk memanggil babeh. Dan rata-rata panggilan tersebut adalah orang-orang yang sudah menjadi langganan setianya, baik pembeli maupun penjual.

Baca Juga: Tips-Tips Meminjamkan Buku Kepada Teman

Sewaktu mendatangi kembali ke tempat toko buku bekas tersebut, banyak penggalan cerita yang diterangkan kepada saya. Pertama, ia menjelaskan tentang awal berdirinya toko buku bekas ini. Telah beberapa kali pindah tempat, dari kisaran tahun 2000 hingga 2006 namun tak jauh masih di area sekitar. Lantaran dahulu sewaktu mendirikan toko tersebut mendapat kecaman besar oleh pihak apartur sipil. Dari mulai Presiden, Walikota hingga Camat yang kala itu menjabat. Dengan dalih mensterilkan area tersebut. Ya, logis tidak logis sih sebenarnya karena tempat toko buku berdirinya itu dianggap mengganggu ketertiban area yakni tempat kawasan pendidikan. Sebetulnya yang mesti kita ketahui, kawasan pendidikan adalah tempat dimana para pelajar berkumpul di suatu tempat dan kawasan yang notabenenya adalah kawasan belajar yang kebetulan baiknya ada toko buku bekas. Artinya pelajar bisa dengan mudah mendapatkaan bahan bacaan. Kemudian berkat perjuangan yang tak henti-hentinya saat itu Babeh mendapat dukungan untuk tetap mendirikan toko buku bekas tersebut.

Toko buku bekas milik Babeh ini menerima segala macam jenis buku bacaan apapun. Dari mulai buku pelajaran, novel, cerpen, buku keagamaan, hingga koran dan majalah sekalipun. Dari beberapa penjual, Babeh kemudian memilah yang mana yang baik untuk dijual kembali dan sisanya untuk disimpan sementara, agar suatu saat ketika ada yang mencari buku tersebut, cukup tinggal mengeluarkannya saja.

Harga nya pun relatif murah, jauh dibanding toko buku ternama yang biasa menjajakan buku-bukunya yang bisa sampai dengan harga setinggi langit. Cukup bawa minimal 10 ribu rupiah kamu bisa mengantongi dua buah komik, buku pelajaran pun harganya masih cukup terjangkau. Yang jelas, Babeh tidak mematok harga yang mahal. Babeh mengutamakan keinginan mereka untuk datang dan membeli buku bekas miliknya. Sebab, bukan lagi berbicara ludes terjual, namun lebih kepada laku dan terpakai sehingga menjual akan menjadi sebuah keberkahan.

Kedua, ia menjelaskan dibalik alasan mengapa di toko buku bekas miliknya selalu memutarkan radio. Menurut Babeh, bukan hanya buku saja yang dapat menuangkan sebuah informasi dan ilmu pengetahuan akan tetapi pada sarana media macam radio pun bisa didapat. Dan hal ini sudah ia gemari sejak kecil hingga sampai sekarang terus dilakukan.

Nah, bagi kalian yang ingin mengunjungi Toko Buku Bekas SiBolga Nauli ini, beliau buka setiap hari dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore. Jangan sungkan, merasa nyaman saja seperti saya yang nyaman saling bercerita dengan Babeh. Ya, cukup katakan buku apa yang ingin dicari maka Babeh akan siap membantu kamu untuk mencari buku-buku yang kamu inginkan. Selamat berburu buku bekas~

Baca Juga: 3 Toko Buku Bekas Di Tangerang Untuk Kamu Para Books Hunter

Komentar

Benci feodal namun juga bukan patriotik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *