Sepak Bola Akhirnya Pulang ke Tangerang

Langit sore itu agak mendung. Dari arah selatan, terlihat langit makin gelap. Sementara di utara, langit menampakkan terangnya. Kondisi sore itu persis seperti perasaan saya, dan (mungkin) sebagian pendukung Persita lainnya.

Oktober tahun lalu adalah masa-masa yang kelam. Persita gagal lolos ke Delapan Besar Liga 2. Yang menambah perih, pada laga penentuan, Persita dikalahkan PSMS Medan lengkap dengan dimatikannya seorang saudara kami bernama Banu Rusman oleh para suporter ‘arahan’ milik PSMS Medan. Gagal lolos mungkin bisa dicoba kembali, tapi hilangnya nyawa Banu, siapa bisa hidupkan kembali?

11 Oktober lalu tepat satu tahun kematian Banu. Setahun yang suram tanpa ada kejelasan siapa matikan Banu dan siapa mau bertanggungjawab atas nyawa yang hilang. Protes dan tuntutan telah dilayangkan, tapi siapa bisa (atau mau) adili tentara, eh pendukung ‘arahan’ PSMS Medan, lah Ketua PSSI saja dari militer dan jadi pembina PSMS. Sejauh apa yang telah terjadi hingga kini, kematian Banu agaknya tak bakal membuat siapapun dihukum.

Langit makin mendung, harapan tetap dipupuk

Sore itu (15 Oktober 2018) di rumah yang baru, setelah setahun penuh mendung dan kabung, Persita mengusung asa lolos ke Delapan Besar Liga 2 pada laga pamungkas di Wilayah Barat. Menghadapi Perserang, Persita harus mendapatkan setidaknya 1 poin agar bisa mengamankan posisi 4 besar sebagai syarat lolos ke Delapan Besar.

Pada akhirnya, awan mendung sore itu tidak menumpahkan hujan. Langit tak mau melulu dirundung mendung. Pun duka kematian Banu yang tidak terobati itu harus segera dienyahkan. Harapan harus terus dipupuk. Dan lolos ke Delapan Besar bakal menjadi hadiah manis untuk peringatan setahun kepergiannya.

Persita berada di posisi yang sedikit menguntungkan. Bermain di rumah sendiri, berlaga di hadapan ribuan pendukung, memiliki selisih gol yang cukup dan rekor kandang tandang yang lebih baik dari para pesaingnya. Meski begitu, kemenangan menjadi target yang harus dicapai untuk mendapatkan hasil akhir paling manis. Menang, dan mutlak lolos ke Delapan Besar.

Sayangnya, permainan Persita memang masih begitu-begitu saja. Lini tengah masih mudah kehilangan bola, operan kadang salah sasaran, dan lini depan yang masih mentok dengan pertahanan ketat Perserang. Beruntung, tim lawan juga tidak mampu menampilkan permainan yang baik, setidaknya hingga babak pertama berakhir.

Koreo tribun utara, demi promosi ke Liga 1

Masuk ke paruh kedua, Persita makin menekan. Serangan demi serangan dilancarkan. Satu dua tembakan berhasil digagalkan kiper lawan. Dan akhirnya sebuah tendangan sudut dari Egi Melgiansyah berhasil ditanduk oleh Ryan Kurnia pada menit ke-50. Satu gol Persita unggul.

Hasrat menang mutlak membuat Persita melulu menyerang. Kebiasaan semacam ini sering membuat mereka lupa akan satu hal, pertahanan yang diperagakan Persita juga tidak baik-baik amat. Ledi Utomo sudah mulai tua, Rio Ramandika sekali dua membiarkan penyerang lawan melewatinya. Egi yang menjadi gelandang bertahan sekaligus kapten pun makin kesulitan bergerak dan mencari ruang.

Hal ini kemudian dimanfaatkan Perserang untuk mencuri angka dalam satu kesempatan. Hanya satu kesempatan. Mendapatkan operan di ruang kosong yang tak dijaga pemain Persita, pada menit ke-82 Suwandy melakukan tendangan jarak jauh yang membentur tiang dalam. Meski bola kembali ke lapangan, tetapi pantulan bola telah melewati garis gawang. Skor 1-1 kemudian bertahan hingga akhir laga.

Saat pertandingan berakhir, para permain terduduk lesu. Aceh United dan Persiraja mendapatkan poin penuh. Artinya, poin yang dimiliki 4 tim yang bersaing sama-sama 35. Itu pun kalau Persis Solo tidak berhasil dikalahkan oleh Semen Padang. Beruntung, Semen Padang berhasil menang mutlak atas Persis dan memuncaki klasemen wilayah barat.

Begitu pengumuman ini disampaikan, yang artinya Persita berhasil lolos ke Delapan Besar, seluruh stadion bergemuruh. Pemain, pengurus klub, dan para pendukung larut dalam kebahagiaan. Ini adalah kado yang membahagiakan buat para pendukung Persita. Walau jalan menuju Liga 1 amat berat, setidaknya kita masih bisa memupuk asa untuk melangkah.

Apalagi, keberhasilan ini tersaji di rumah sendiri. Ya, ini adalah laga keempat Persita di Stadion Benteng Taruna (atau Sport Center Kelapa Dua, belum jelas mana yang nama resmi). Maklum, setelah 6 tahun menjadi musafir akibat Fatwa Haram MUI Tangerang yang mengharamkan pertandingan sepak bola di Stadion Benteng (lama), Persita juga Persikota harus menjadikan stadion lain sebagai kandangnya. Selama itu juga, tidak ada lagi pertandingan resmi yang berlangsung di Tangerang.

Satu hal yang masih mengganjal hati saya hanyalah, seandainya sejak musim lalu Persita diperbolehkan main di Tangerang mungkin saja nyawa Banu tidak perlu melayang. Ya, selama bertahun-tahun para pendukung Persita tetap setia menyaksikan laga kandang yang dilakukan, entah di Stadion Mini Cibinong atau Singa Perbangsa Karawang. Seandainya laga lawan PSMS Medan tahun lalu dilangsungkan di Tangerang, akankah ada orang yang berani mengerahkan aparat untuk mendukung PSMS dan berhadapan dengan puluhan ribu Benteng Viola? Entahlah.

Tapi satu hal yang patut kita syukuri adalah, sepak bola Tangerang telah pulang ke rumah. Persita tak lagi perlu berlaga di kota orang, para pendukung pun tidak perlu takut mendukung tim kesayangannya. Kini, kita sudah bermain di rumah sendiri, kini kita bisa bergembira di rumah sendiri. Semoga dengan hal ini kejadian yang menimpa Banu tidak lagi terulang. Dan yang sama pentingnya, semoga Persita bisa lolos ke Liga 1 walau tentu saja, tim harus segera berbenah jika memang mau berharap promosi.

Komentar

Bukan siapa-siapa, bukan apa-apa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *