Senyap yang Lebih Nyaring: Membaca Eka Kurniawan dengan Lebih Sederhana

Selama ini Eka Kurniawan dianggap sebagai penulis/sastrawan berbakat yang bisa mengimbangi kehebatan Pramoedya di mata dunia. Novel dan kumpulan cerpen yang diterbitkannya mendapatkan sambutan baik dari publik pembaca, buku-buku itu diulas dan didebat sebagaimana karya berkualitas lain. Dengan segala torehan itulah, boleh dibilang, Eka Kurniawan mulai dianggap seperti setengah dewa buat sebagian orang.

Namun, setelah membaca Senyap yang Lebih Nyaring, kumpulan tulisan di blognya yang kemudian dibukukan, saya menemukan gambaran berbeda dari kebanyakan imaji atas Eka yang muncul lewat karya-karyanya. Di buku ini, saya melihat Eka sebagaimana saya melihat manusia lain. Punya idola, gagasan, dan cara pandang yang sebenarnya; sederhana. Sesederhana tulisan-tulisan yang ada di buku ini.

Kumpulan tulisan di buku ini memang sederhana, hanya terdiri dari sekian ratus kata per tulisan, tapi memberikan satu hal yang jarang diberikan penulis lain kepada pembacanya, yakni keseharian. Ya, membaca ini bisa membuat saya membayangkan buku-buku apa yang Eka baca, penulis-penulis mana yang Eka gemari karyanya, dan keseharian aktifitas apa saja yang dapat membuatnya bisa berkembang hingga seperti sekarang.

Baca Juga: 4 Gerakan Literasi Menggunakan Perahu

Jika boleh menyimpulkan, Senyap yang Lebih Nyaring bisa dibilang seperti Cerita Dibalik Dapur Tempo yang memberikan gambaran bagaimana proses kreatif/jurnalistik bekerja. Meskipun tidak sampai menyeluruh, tapi akhirnya saya tahu bagaimana Eka belajar dan bereksperimen melalui cerpen Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi untuk mendaur ulang cerita penulis lain sebagai kisah baru yang memikat.

Atau, bagaimana cerita Eka ketika memulai karirnya sebagai penulis (pemula) dan bagaimana cara Ia mampu menembus meja redaksi/penerbit. Hal ini Ia tuliskan hanya untuk menanggapi pertanyaan: bagaimana caranya penulis pemula bisa mendapatkan tempat di hadapan penerbit/redaksi. Serta ada banyak tulisan-tulisan lainnya yang bisa kita temukan di buku ini, yang didasarkan dengan sebuah pertanyaan.

Tulisan-tulisan di buku Senyap yang Lebih Nyaring dikategorikan berdasar tahun pembuatannya. Jadi, Anda dapat membaca bagaimana tulisan Eka Kurniawan pada tahun 2012 hingga 2014. Saya agak heran sih, kenapa hanya dibatasi hingga tahun 2014. Apakah karena itu adalah tahun politik yang memecah belah kehidupan bernegara masyarakat kita? Saya langsung membuang jauh pikiran itu ketika ingat, lantaran hampir tidak ada tulisan tentang politik di buku ini, kecuali pilihan/gagasan politik para penulis yang Ia ceritakan di buku ini.

Baca Juga: Jaksa Agung Muhammad Prasetyo Yang Mengidap Fobia Komunis

Dari 107 tulisan yang ada di buku Senyap yang Lebih Nyaring, ada beberapa tulisan yang menjadi favorit saya. Pertama adalah Es Krim, tulisan yang menceritakan dengan sangat sederhana bagaimana hierarki pengetahuan dan relasi kuasa bekerja melalui perbedaan pandangan orangtua dan anak tentang es krim. Sungguh isu yang ‘berat’ tapi bisa dibahas dengan amat sederhana.

Kemudian ada Pesan Moral yang menggambarkan bagaimana setiap orang di dunia ini memiliki ukuran nilai/moral berbeda dan tak bisa dipaksakan sama. Dan kegilaan seseorang untuk melulu menampilkan pesan moral dalam setiap karya tak ubahnya menjadikan para “penulis bertabiat ugal-ugalan seperti sopir angkutan umum di Jakarta” yang hanya kejar setoran saja. Begitu kira-kira interpretasinya.

Ada banyak tulisan menyenangkan di buku ini, walau ya ada juga yang biasa saja. Karena memang seperti yang sudah saya katakan di atas, membaca buku ini seperti melihat keseharian penulis. Kadang ada hal yang mendebarkan, kadang ada juga yang biasa saja. Dan memang seperti itulah hidup berjalan. Tidak bisa seseorang menuntut orang lain untuk terus berlaku sempurna.

Mungkin, dengan buku inilah, Eka Kurniawan mencoba menjawab segala pertanyaan tentang bagaimana proses kreatif yang dilalui serta perjalanan karirnya. Meski memang tidak ditulis dengan benar-benar sistematis, mungkin memang dengan cara seperti itulah kita mampu belajar dari Eka Kurniawan dengan sederhana-sederhana saja.

Komentar

Bukan siapa-siapa, bukan apa-apa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *