Senja Demokrasi ala Mochtar Lubis

Senja di Jakarta.  salah satu novel yang memberikan gambaran politik di Indonesia. Dinamika politik dalam novel ini mengambil latar pada tahun 50-an. Kehidupan yang sangat sulit untuk rakyat kecil, sedangkan untuk para pejabat negara, mereka semakin di-enakkan oleh kekuasaan yang memberi segalanya. Ini seperti gambaran dari sisi gelap perpolitikan pada masa itu. Mungkin sekarang, praktek-praktek politik gelap masih ada,  dimana kekuasaan menjadi ajang memperkaya diri. Untuk saya pribadi, novel ini sedikit membuka mata saya, akan drama politik. Dan segala gambarannya seolah-olah sering terjadi di negeri ini. Negeri yang tidak pernah dewasa tentang politik.

Senja di Jakarta dikarang oleh penulis legendaris kelahiran Padang, 7 maret 1922; Mochtar Lubis. Latar belakang novel ini  berkisah dari berbagai elemen masyarakat pada masa itu.

Elemen yang paling di tonjolkan disini adalah kehidupan politik. Pada saat itu, sesudah revolusi, pejabat negara menjadi sosok yang di sorot dalam berbagai kebijakan untuk mengatur negara. Dalam novel ini menjabarkan secara gamblang bagaimana kotornya pejabat yang menyelewengkan wewenang untuk memperkaya diri dan bagaimana mereka lebih mementingkan kepentingan partai dari pada kepentingan rakyat. Mereka memakai berbagai cara untuk kaya dan berkuasa lama.

Elemen yang kedua adalah kaum intelektual yang yang selalu mendiskusikan berbagai masalah negara dari ideologi hingga kebijakan-kebijakan pemerintah. Tapi sayang, mereka melakukannya hanya sebatas diskusi yang tidak mendapat titik temu untuk menemukan solusi akibat dari latar belakang ideologi yang berbeda.

Dan, kehidupan dari masyarakat kecil pada saat itu juga disorot. Masyarakat kecil sebagai objek dari para politikus digambarkan sebagai masyarakat yang tidak diperlakukan adil oleh bangsanya sendiri. Sehingga ketimpangan antara yang kaya dan yang miskin digambarkan dengan jelas dalam novel ini.

Di dalam novel ini juga ada kisah asmara yang menarik. Suryono, sebagai tokoh utama novel ini, memiliki segala hal. Harta dan tahta. Dia mudah sekali meniduri wanita yang dia mau. Tapi satu hal, dia tidak bisa merasakan cinta yang sesungguhnya. Ada tiga gadis yang dekat dengan dia. Pertama, ibu tiri yang masih muda lebih suka tidur dengan  Suryono dari pada ayah Suryono. Kedua adalah wanita bersuami yang ia temui di toko bunga. Keduanya sering melakukan hubungan intim. Dengan berlatarbelakang suami berpenghasilan kecil, wanita kedua ini cukup senang dengan uang pemberian  Suryono setiap kali bertemu. Wanita yang ketiga adalah wanita yang benar-benar Suryono cintai. Tapi wanita itu tidak membalas cintanya.

Walaupun novel ini mengisahkan lebih dari satu sisi kehidupan, namun inti dari cerita ini tersampaikan dan saling berkaitan satu sama lain. Ini terlihat bagaimana tindakan koruptor mengancam masyarakat kecil dan membuat keadaan tidak aman. Atau pengusaha yang mengambil keuntungan dari kedekatannya dengan pemerintah.

Mochtar lubis seolah-olah dalang yang tahu kisah-kisah wayangnya. Dia menceritakan dengan fulgar tanpa aling-aling dengan memposisikan penulis sebagai dalang dari setiap latar suasana, dari berbagai elemen masyarakat pula. Selain itu, bahasa yang digunakan ringan, tidak berbelit-belit, dan tidak mengurangi kualitas berceritanya. Novel ini sangat layak dibaca. Setidaknya, agar kita tahu kehidupan pejabat negara seperti apa.

Tapi sayang, novel ini adalah novel langka yang mungkin tidak akan di ulang. Padahal, dalam isinya banyak kata-kata yang salah ketik dan perlu diperbaiki.

Judul: Senja di Jakarta

Penulis: Mochtar Lubis

Penerbit: Yayasan Obor Indonesia

Tahun: 2009

Tebal: 406 halaman

Genre: Novel

ISBN: 978-979-461-115-9

Komentar

Bergembira sebelum negara api menyerang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *