Semanggi Foundation : Penggusuran Bukanlah Akhir Dari Segalanya, Ruang Seni Dapat Hidup Dimanapun

“Jika seandainya nasib Penggusuran harus diterima, Semanggi bakal berlaku biasa saja. Paling tidak nanti akan bermutasi dalam bentuk lain, entah secara pergerakan dan lain sebagainya.” – Miing (Ketua Semanggi Foundation)

Bulan Juni mungkin adalah masa-masa paling berat yang dialami Semanggi Foundation. Komunitas yang menjadi wadah bagi para penggiat seni dan kebudayaan itu, ternyata mendapat paksaan dari pemerintah untuk mengosongkan lahan yang telah cukup lama mereka tempati.

Area yang berada di daerah Cikokol, Tangerang itu berdiri di atas tanah milik Pemkab Tangerang. Setelah sekarang pemindahan aset tanahnya diserahkan kepada Pemkot Tangerang. Sebenarnya persoalan seperti ini sudah seringkali dialami oleh mereka, kurang lebih telah merasakan empat kali menerima nasib penggusuran.

Menurut salah satu media yang mewawancarai dua punggawa penting di Semanggi yaitu, Kang Edi dan Kang Miing, keduanya menyampaikan bahwa mereka percaya bahwa selain pencipta, ada makhluk. Dan makhluk tentunya memiliki batasan waktu atau usia yang nanti akan mati. Jadi sama hal nya dengan komunitas atau organisasi ini. Tapi setelah mati ada perubahan bentuk. Itu berarti Semanggi tidak akan mati hanya saja bermetamorfosis ke dalam bentuk lain.

Bagi mereka ruang adalah hal penting yang selayaknya sebagai tempat bernaung. Lebih dari itu Semanggi adalah tempat bagi setiap orang yang ingin mengistirahatkan jiwa dan pikirannya sejenak dari beban penat yang dialami.Kalau kata Kang Miing “Lu pusing sama kerjaan, ya mampir kesini. Sekadar ngobrol, curhat, gosip, ngomongin underground, pokoknya bebas gapapa. Karena kota ini gak punya cukup ruang untuk beristirahat sejenak. Mau ke mall nanti malah tambah pusing lagi.” Selain itu juga Semanggi hadir sebagai ruang kreatif untuk membuat kerajinan, berbagai karya seni, serta tempat aktifitas budaya urban.

Dan kini, kabarnya sudah dua kali Semanggi menerima surat yang isinya meminta area serta bangunan yang digunakan sebagai Sekretariat Semanggi Foundation itu untuk dikosongkan. Namun setelah mengirimkan surat balasan belum ada tanggapan lagi dari pemerintah. Sebelum pemindahan aset itu terjadi Semanggi merupakan tempat yang mendapat perijinan dari Bupati Tangerang, diperbolehkan selagi dipergunakan sebagai wadah budaya yang positif dan bermanfaat.

Nyatanya, Semanggi Foundation berhasil membuktikan, bisa menjadi tempat berkumpulnya penggiat seni, literasi, sociopreneur yang punya kecintaan besar terhadap Tangerang. Tetapi, jika dari akses tempatnya saja sudah dibatasi, bagaimana bisa nantinya mereka terus tumbuh dan membangun creative hub.

Pihak Semanggi pun telah menempuh berbagai macam cara negosiasai, dari buka obrolan secara personal hingga komunikasi lewat berkirim surat. Sampai sekarang, nyatanya hasil keputusan pemerintah belum muncul. Apakah tempat itu benar digusur atau direlokasi. Sebab, jika tidak demikian, langkah pahit pun mesti mereka ambil untuk berpindah tempat, memilih wilayah adminstratif Tangerang mana yang sekiranya bisa diajak kerjasama membangun peradaban budaya dan kesenian.

Baca juga : PELANGGARAN HUKUM TERHADAP MEREKA YANG DITUDUH ANARKO SINDIKALIS TANGERANG

Entah, saya sendiri kurang paham tentang cara pandang Pemkot yang malah lebih memilih jalur menutup ruang kreatifitas tersebut. Memang, secara legalitas tanah itu milik pemerintah, tapi mau gimana otak pemerintah kadang memang sukanya mengakuisisi, seperti merampas tanah untuk sekadar memperluas landmark dan bisa meraup untung sebanyak-banyaknya.  Atau memang begini, asumsi saya, selagi itu bukan kerja keras dari pemerintah, enggan untuk melirik satu tempat penting yang punya sisi historis dan manfaat banyak. Bukan dalam waktu jangka waktu singkat, Semanggi telah ada sejak 9 tahun lamanya, dan kini main gusur begitu saja seenak jidat tanpa pikir panjang?

Amat disayangkan apabila Semanggi terpaksa harus digusur. Karena telah ada banyak program yang berhasil dijalankan, baik itu dalam kegiatan yang bertemakan seni, edukasi maupun sosial. Yaitu diantaranya program pendidikan gratis jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD) dan taman kanak-kanak serta program pelatihan pemuda.

Tak hanya itu saja, Semanggi sebagai creative hub atau penghubung telah memberi keleluasaan dalam mewadahi berbagai macam acara seperti Internasional event yaitu Expedition Camp yang tahun lalu sukses berhasil terselenggara, serta mini acara lainnya yang bertempat di Semanggi.

Ya, mau dikata apa, pemerintah mungkin lebih suka menaikan rating destinasi wisata atau taman-taman yang telah mereka bangun, ketimbang yang selama ini pegiat seni atau komunitas bergerak itu lahir secara alami dari sukarela.

Sedikit cerita, di masa-masa aktif kuliah, bagi saya Semanggi merupakan tempat  yang lumayan sering disambangi, sekadar melepas penat sembari asyik ngopi dan ngobrol dengan kawan kampus. Bahkan, di kala itu juga karena Semanggi saya bisa kenal dengan salah satu pegiat seni kenamaan asal Tangerang, Edi Bonetski. Namun, mendengar kabar bahwa Semanggi akan digusur seakan membuat hati kita dipaksa untuk menahan banyak rindu. Karena tidak sedikit orang yang punya setumpuk kenangan manis di tempat tersebut,termasuk saya.

Jika nanti Pemkot berubah haluan untuk tidak mengambil alih lahan, setidaknya keluarkan surat izin prinsip agar semuanya jelas. Agar ruang seni dan budaya juga bisa terus hidup berlestari. Namun jika seandainya pemerintah tetap bersikeras, bagi Kang Miing dan Kang Edi tidak menampakkan raut wajah kekhawatiran, karena mereka berprinsip begini “Tempat ini adalah amanah dari Tuhan, bila tidak dikasih tempat, mungkin kami belum dipercaya  untuk ngurusin Semanggi.”

Komentar
Dhani Arief Wicaksono

Benci feodal namun juga bukan patriotik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *