Upaya Rumini Dalam Membongkar Pungli Di Pendidikan

Kasus pengungkapan pungli oleh guru honorer SDN Pondok Pucung 2 bernama Rumini kembali terangkat di jagat media. Nyatanya bahwa kasus mengungkap dalang siapa dibalik semuanya itu masih jadi hal tabu, meski telah berangsur-angsur.

Terhitung kurang lebih 6 bulan lamanya, kasus ini terjadi. Disaat itu dirinya membongkar fakta bahwa sekolah tempatnya mengajar ternyata melakukan sebuah praktik pungli. Melakukan dana iuran kepada murid; iuran les komputer, pembelian buku sekolah, dan lain-lain. Yang mustinya sudah tercover dengan bantuan dana dari pemerintah.

Rumini adalah satu dari sedikit orang yang berani. Yang ia inginkan tentu membetulkan hal yang keliru kembali pada jalur semestinya. Minimal, setidaknya bisa memperbaiki sistem pendidikan yang hari ini jauh dari kata ideal.

Namun, melihat kenyataan bahwa yang ia lawan bukan hanya pihak SDN Pondok Pucung 2 ataupun aktor dibalik pungli—melainkan budaya pungli yang sudah mengakar. Lebih jauh lagi, iya melawan kebobrokan sistem pendidikan.

Pungli merupakan sebuah kejahatan, bahkan bisa dibilang racun yang terus menerus jadi kebiasaan. Seringkali kegiatannya dilakukan secara bekerjasama. Pihak yang terlibat saling topang, saling jaga, sambil sesekali membagi untung dengan rata. Inspektorat yang diutus untuk menyelidiki kasus ini hanya jadi juru selamat bagi oknum. Seakan diutus bukan untuk menjadi pembongkar kasus, melainkan hanya jadi penenang korban—seraya berkata, “Sudahlah, jalan kekeluargaan saja.”

Baca Juga: 4 Teknik Membaca Yang Efektif

Rumini tadinya cukup punya tenaga ekstra untuk melawan. Tenaga tambahan itu datang dari orang tua murid yang mendukungnya. Juga dari berbagai lembaga masyarakat hingga pegiat anti korupsi. Mereka ramai-ramai mendukung keberanian Rumini untuk membongkar satu dari sekian banyak praktik pungli yang langgeng terjadi di ranah pendidikan Indonesia. Mereka siap mendampingi Rumini secara hukum.

Hingga akhirnya Rumini kian berani, dan sangat yakin. Usaha tak akan mengkhianati hasil—begitu kalau kata orang bijak. Apalagi kalau itikad baik ini semoga berbalas dengan berbuahkan hal yang baik pula. Namun apa mau dikata, intimidasi dari pihak berkuasa kian keras. Rumini lambat laun kehilangan dukungan tersebut, yang semula ramai sekarang diam.

Bahkan Rumini mengalami doxing yang cukup membuatnya merasa jadi pihak yang seakan bersalah. Kesalahannya diungkit, dicari-cari, hingga dibuat-buat. Opini digiring seakan menjadikan Rumini sebagai sosok yang buruk. Sistem mengajar dia (yang katanya buruk) diungkit, hingga membuat kita lupa akan point utamanya—yaitu, pungli.

Dan kini pemberitaan tentang pembelaan Rumini mulai redam—atau mungkin sengaja diredam. Akan tetapi, Rumini justru mendapatkan dampak buruk atas keberanian yang ia lakukan. Dirinya kini kesulitan mendapatkan pekerjaan karena riwayat pengungkapan kasus pungli tersebut.

Upayanya meminta bantuan kepada Walikota Tangsel, Bu Airin Rachmi Diany tak mendapatkan tanggapan serius. Beberapa kali usahanya untuk menemui pemangku jabatan tersebut tak menemui hasil. (Mungkin), Bu Wali Kota sedang sibuknya-sibuknya. Atau malah sudah lupa dengan janji kampanyenya soal pemberantasan pungli.

Bu Airin Rachmi Diany jelas bukan sosok yang musti disalahkan dalam kasus ini. Toh dirinya kan bukan pelaku dari pungli tersebut. Beliau tak salah. Ia mungkin hanya sebatas mengikuti jejak para politisi kebanyakan yang kerap mengingkari janji mereka saat terpilih. Itulah yang dilakukan pemimpin tertinggi di negara ini.

Rumini mungkin tak merubah apapun. Praktik pungli masih masif di segala aspek kehidupan, mungkin sangat dekat di sekeliling kalian. Dan, sistem pendidikan pun mungkin akan melulu seperti itu, bobrok kalau harus dibalut sistem pungli. Namun, Rumini mengajarkan kita untuk tetap berusaha melawan, meskipun dihadang untuk menang. Setidaknya, segala pergulatan layak untuk dicoba. Keberanian harus tetap dirawat. Sebab diam, tak akan merubah keadaan.

Baca Juga: Kecap Benteng : Si Hitam Manis Yang Melegenda Di Tangerang

 

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *