Review Buku Sesekali Kita Butuh Sepi

Saya tidak Ingat persis kapan terakhir kali saya menamatkan sebuh buku. Terkadang memang kita merasa harus berhenti di halaman awal, tengah, atau bahkan baru membaca judulnya pun sudah tak menarik perhatian. Kira-kira begitulah yang saya rasakan saat membaca buku Sesekali Kita Butuh Sepi. Sampai dipertengahan, buku ini tidak mampu menghadirkan sesuatu yang menarik bagi saya. Saya memutuskan untuk menamatkan buku ini, karena saya mendapatkan jatah mereview sebuah buku. Tidak lebih dan tidak kurang.

Saya punya beberapa alasan kenapan buku Sesekali Kita Butuh Sepi tidak menarik. Tapi sebelum saya jelaskan alasanya, saya akan mengulas terlebih dahulu gambaran besar tentang buku ini. Dari judulnya saja, sebenarnya buku karangan Ikhsanudin ini mempunyai daya tarik yang kuat. “Sesekali kita butuh sepi” tentu saat kita membaca judulnya, dapat menyilaukan mata dan menggerakan hati untuk membacanya.

Buku Sesekali Kita Butuh Sepi terdiri dari dua bab: Kita Ini Ibarat Langit dan Kisah Ini Tentang Kita. Buku setebal kurang lebih 200an halaman ini benar-benar menceritakan bagaimana kita tidak boleh berlarut dalam kesedihan dan memaafkan segala yang terjadi pada diri sendiri. Ada banyak judul yang ada pada bab awal, tapi secara simpul, semua mengerucut kepada satu hal: pasrahkan kepada-Nya dan percaya pada apa yang digariskan oleh-Nya.

Secara penuturan saya rasa biasa saja. Permainan diksi yang Mas Ikhasn tulis cenderung hanya itu-itu saja. Namun kalian akan tetap mendapatkan kesan dari buku ini. Tetap akan ada banyak quote menarik yang bisa kalian jadikan caption, atapun insta story di media sosial. Setidak-tidaknya perkontenand duniawi tetap jalan, seperti yang saya lakukan sekarang.

Baca juga : 5 Jenis Dongeng Yang Wajib Diketahui

Saya tidak menghitung ada berapa banyak cerita di buku Sesekali Kita Butuh Sepi yang ujung-ujungnya berkesimpulan “pasrahkan saja pada Tuhan” atau “Kehendak TuhanItu pasti”. Dengan penuturan kata yang biasa saja, dan semua akhirnya dibuat seperti itu, justru menghilangkan dayatarik saya sebagai pembaca. Jika sajacerita-cerita diakhirnya agakdiperluas, saya kira buku ini tak akan jadi semembosankan ini.

Bab kedua juga sama, tidak lebih baik tapi tidak lebih buruk. Cara bercerita penulis tetap sama, dan diakhiri dengan cara yang sama pula. Jujur saja ketika membeli buku ini saya menempatkan harapan sangattinggi, jadi ketika ditampar oleh kenyataan buku ini “biasasaja” rasanya dada saya sangat sesak dan tiba-tiba saya memuntahkan banyak sekali umpatan kelangit-langit.

Tapiingat, buku yang membosankan belum tentu tidak memberi pelajaran jadi tetap ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil atau jika mau diresapi sekalian. Cerita seperti Jangan Digenggam Erat-Erat, Tentang Bahagiamu, dan Menghargai Dirimu Sendiri (serta cerita-cerita lain) mengajarkan banyak hal. Dan tentusaja, membawa saya tenggelam dalam berbagai ingatan yang suram, tentang kisah-kisah omong kosong soal cintamisalnya.

Membaca cerita-cerita itu membuat sedikit ingatan suram saya terangkat, serta percaya bahwa yang hilang akan digantikan dalam bentuk yang lain. Saya tentu sadar belajar menghargai usaha diri sendiri sangat sulit, demikian juga memaafkan semua kesalahan  yang  sudah diperbuat. Meski tidak sepenuhnya mengangkat beban pikiran itu, tapi setidaknya, buku ini membuat semuanya menjadi lebih baik.

Sesekali Kita ButuhSepi, bagisaya tentang memilih rehat jika sedang penat. Agar kita melepaskan dan tidak menggenggam sesuatu sangat erat, dan kerelaan-kerelaan lain yang pernah hilang di hidup kita. Oh ya, saya lupa satuhal buku ini juga mengajarkan kita tentang bertahan. Kau tahu, kadang kita memang kelelahan  pada  jalan yang kita pilih, tapi disamping itu kita juga punya banyak alasan untuk sbertahan.  

Komentar

Nggak bisa tidur kalau belum diucapin selamat malam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *