Review Buku Jungkir Balik Pers: Kita dan Media Sama-Sama Jungkir Balik

 

Hanya liputan yang kuat dan editing matang yang akan menjadikan semua tulisan bernyawa, bertenaga dan akhirnya menginsipirasi. Begitu salah satu poin yang diulas sang penulis dan sekaligus mengawali review buku kali ini.

Bagi saya, buku yang berjudul “Jungkir Balik Pers” merupakan salah satu buku yang mengawali ketertarikan saya dalam hal tulis menulis. Sebagai pemula, saya hanya memahami bahwa menulis hanya mengurangi rasa stres dan bisa memberikan manfaat bagi orang lain melalui informasi. Tapi, setelah membaca buku ini beragam pemikiran baru terbentuk. Mulai memiliki keinginan untuk menulis dengan beragam ‘warna’ dan memperkuat ‘nyawa’ dalam tiap kalimat di dalam sebuah tulisan layaknya seorang jurnalis. Jika diberi angka 1 hingga 10, buku ini memiliki rating 9 bagi saya.

Buku ini menjelaskan bahwa jurnalisme unggul hanya lahir dari pelatihan yang ketat, disiplin yang kuat, wawasan yang dalam, keteguhan sikap, independensi, dan keterampilan tinggi. Tradisi tak lahir seketika. Ia lahir dari keseharian di rel jurnalisme sejati dan ketekunan dalam memahami dunia tulisan.

Baca Juga: Xenoglosofilia: Membiasakan Untuk Berbahasa Indonesia

Buku ini menarik. Karena dibumbui dengan data empiris dan disampaikan dengan diksi yang renyah khas seorang jurnalistik. Gambaran terhadap masa depan pers turut menjadi pembahasan yang menggelitik seakan tak hanya jurnalistik yang akan menemukan banyak tantangan tapi semua orang yang menggeluti dunia tulis.

Buku ini menjelaskan tentang bagaimana kemajuan zaman dan kemajuan teknologi yang begitu pesat. Penulis dalam buku ini berpesan bahwa butuh wartawan andal dan berkarakter untuk bisa survive di tengah arus teknologi.

Media harus bisa beradaptasi dan membuat inovasi atau terobosan baru yang relevan sesuai dengan kebutuhan zaman. Demkikian kalimat yang dinyatakan sang penulis dan berhasil ‘menampar’ saya sebagai seorang insan pers dengan status sebagai kaum milenial ditengah kencangnya  arus teknologi.

Jika di masa lalu Homo Sapiens berhasil menaklukkan dunia. Maka di masa depan manusia menjadi tak dominan ketika big data menjadi paradigma, menggantikan humanisme. Masa depan teknologi bisa mengungguli manusia. Kecepatan, kecerdasan dan beragam perubahan akan sangat signifikan mengalami perubahan. Semua point di atas dibahas dengan kemasan kalimat yang menarik dan begitu menginspirasi untuk berpikir tentang masa depan.

Selain itu, penulis buku juga menceritakan tentang pers di Era Post Truth. Diawali dengan perkembangan media di era reformasi, terjadi booming media. Mulai dari munculnya tabloid hingga berkembangnya media cetak. Seiring dengan munculnya internet, media cetak mulai menderita dengan menjamurnya media online. Pers terdisrupsi media sosial. Banyak media cetak yang gulung tikar. Bahkan ada yang menutupnya. Masa pandemi memperhebat penderitaan pers.

Hasil pengalaman penulis juga menjadi hal yang menarik. Perjalanannya sewaktu mengikuti program Internasional Visitor Leadership bidang media cetak atas undangan departemen luar negeri Amerika Serikat. Pada bagian ini terbagi menjadi 3 judul tulisan yang berisikan tentang perkembangan media di Amerika yang dilengkapi dengan data pendukungnya.

Baca Juga: Apakah Masa Sekolah Menyenangkan?

Sesuai dengan judulnya “Jungkir Balik Pers”, buku ini berhasil memberikan gambaran nyata tentang kompleksitas persoalan yang dihadapi dunia pers, baik di dunia maupun di Indonesia. Mulai dari sejarah pers dari masa ke masa, ramalan tentang masa depan bersama teknologi, pada kesimpulannya bait demi bait yang disampaikan buku ini bertujuan untuk mengkonstruk para penulis awal agar bisa berjibaku, berintegritas dan konsisten dalam dunia pers.

Judul Buku         : Jungkir Balik Pers

Penulis                : Nasihin Masha

Penerbit               : Republika Penerbit

Jumlah Halaman  : xxiv + 187 hlm

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *