Review Buku Childfree and Happy : Semua Orang Memiliki Pilihan Hidupnya Masing-Masing

Menikah muda, agaknya sudah menjadi sebuah fenomena baru. Saking banyaknya yang melakukan itu. Bukan masalah sih sebenarnya, jika kalian sudah dirasa siap dan mantap dengan keputusan ini ya silakan saja lakukan.

Seiring dengan maraknya pernikahan usia muda, ada sebuah buku yang menyita perhatian saya. Sebuah buku yang berjudul Childfree and Happy. Topik yang dibahas adalah tentang keputusan untuk tidak memiliki anak. Victoria Tunggono mahir sekali memancing rasa penasaran saya dengan tulisannya.

Saya sempat kaget dengan isinya, karena tidak pernah terfikirkan sedikitpun mengenai menikah dan memutuskan untuk tidak memiliki anak (Chlidfree). Karena menurut saya, ini lumayan tabu jika dikaitkan dengan hal yang banyak dianut mayoritas yang cenderung konservatif: Memiliki anak adalah hal mutlak yang harus dilakukan setelah menikah.

Baca Juga : Review Buku Jika Kucing Lenyap Dari Dunia: Esensi Menikmati Kehidupan Itu Penting

Agaknya saya kagum dengan sang penulis mengenai pilihan hidupnya. Keputusan ini tampaknya bukan keputusan yang mudah. Pasti rasanya sulit, berat dan tentu dilandasi banyak pertimbangan dan pengalaman. Pertama kali saya mendengar konsep hidup Childfree ini, saya langsung menarik kesimpulan bahwa hal tersebut adalah egois.

Bagaimana bisa hidup sepanjang umur tapa memiliki anak. Banyak pertanyaan-pertanyaan besar yang berkelut dalam fikiran saya mengenai konsep hidup ini. Namun buku ini justru membuat saya mengenal lebih dalam secara personal konsep hidup childfree dari kacamata penulis. Banyak perspektif baru yang saya dapatkan dari buku ini.

Dari buku ini, saya mendapatkan perspektif baru. Para penganut Childfree memiliki alasan masing-masing terkait keputusan mereka tanpa memiliki anak. Mulai dari trauma masa lalu atau tidak ingin membebankan anaknya kelak dengan banyak beban yang sudah ditanggung. Menurut saya berbagai alasan tersebut masuk akal.

Alasan lainnya adalah, populasi manusia sekarang yang sudah semakin banyak, jika semakin bertambah maka nantinya akan lebih banyak kesulitan dan perlombaan di dunia yang semakin menyusut kecil ini. apalagi persebaran penduduk juga masih belum merata. Jadi saya rasa dengan banyak pertimbangan matang, keputusan untuk tidak punya anak bisa diterima sebenarnya.

Oh iya, ada juga yang menyamakan konsep hidup Childfree dengan Childless. Padahal kedua hal tersebut berbeda ya. Kalau Childfree  merupakan sebuah konsep hidup yang dipilih untuk tidak memiliki anak. Sedangkan Childless merupakan suatu keterpaksaan di luar keyakinan hidup, seperti penyakit sebagai contohnya.

Banyak hal yang tidak bisa dipaksakan dalam kehidupan terutama dalam pernikahan. Serta pilihan untuk menjalani konsep hidup Childfree. Pertimbangan besar dan matang sudah pasti dipikirkan sebelum orang-orang akhirnya memilih untuk tidak memiliki anak. Karena, hidup adalah kumpulan dari banyaknya pilihan yang secara tidak sadar yang sudah kita jalani.

Jadi kesimpulan menurut saya adalah, setiap manusia memiliki pilihannya masing-masing dalam menjalani kehidupan. Seama tidak merugikan satu sama lain, kita tidak harusnya menghujat hanya karena keuputusan yang diambil orang lain ini berbeda.

Ada banyak faktor yang bisa membuat orang memilih keputusan sendiri, seperti konsep tidak mau memiliki anak ini. bukan karena ini tidak terjadi kepadamu, bukan artinya ini tidak ada. Jangan egois untuk memaksa orang lain hidup dengan standar yang kita punya. Asalkan mampu bertanggung jawab atas pilihannya, mengapa kita sebagai pihak ketiga malah jadi ribut?

Baca Juga : Konspirasi Alam Semesta, Saat Romansa Namun Pelik Terhubung Menjadi Satu

Lagipula dengan adanya konsep kehidupan seperti ini, rasanya bisa jadi bukti bahwa kasih sayang tidak harus melulu disalurkan ke darah daging saja. Bisa dengan orang sekitar, peliharaan, dan makhuk hidup lainnya yang lebih membutuhkan.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *