Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi: Dendam Yang Begitu Dekat

Saat pertama kali saya memandang sampul, mengira bahwa buku ini akan menyuguhkan cerita-cerita bijak yang membosankan. Entah itu, soal kebijaksanaan para raja ataupun hal-hal lainnya yang memancarkan sifat jatmika. Bersampul sebuah latar langit senja yang samar. Ada perasaan tentram, walau sedikit.

Tapi dari sebuah keindahan yang terpancar malah justru terbantah, ketika saya melihat bahwa judul buku itu tidak ada sangkut pautnya dengan keindahan. Ya, buku itu berjudul ‘Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi’. Pemilihan judul yang janggal lantas membuat rasa penasaran saya menjadi-jadi.

Dengan harapan rasa penasaran saya dapat terobati tentang cerita di dalam buku itu atau paling tidak, pahit-pahitnya tak menemukan cerita-cerita membosankan khas novel sejarah yang berlatar kerajaan.
Saat menyapu beberapa halaman, saya agak dibuat terkejut. Saya pikir tokoh utama dalam novel ini tentu saja Raden Mandasia. Ternyata lain, novel ini memilih tokoh utama orang ketiga. Sungu Lembu, seorang pangeran dari kerajaan kecil jajahan kerajaan milik Raden Mandasia.

Penokohan dalam novel ini juga sangat kuat. Raden Mandasia, seorang pangeran dari kerajaan besar yang mempunyai kebiasaan ganjil yaitu kerap mencuri daging sapi; Loki Tua, seorang juru masak handal dan teliti yang terjebak dalam situasi ‘sial’, tokohnya dibuat amat sangat menyebalkan bagi tokoh utama; Prabu Watugunung, Raja dari kerajaan Gilingwesi yang mendobrak stigma sejarah tentang seorang raja harus mempunyai selir yang banyak; Dan, tokoh utamanya, siapa lagi kalau bukan si Sungu Lembu, seorang pangeran ambisius dan pendendam. Sungu Lembu adalah ‘kita’, sangat dekat.

Baca Juga: BUKU-BUKU UNTUK KAMU YANG SEDANG BERSEDIH

Novel ini menggambarkan tentang perjalanan membalas dendam. Dendam yang amat sangat mendalam, namun juga sedikit ragu-ragu. Kadangkala dendam itu muncul, namun bisa begitu saja seketika hilang. Dendam yang sebetulnya terkikis sedikit demi sedikit melalui sebuah perjalanan.
Bayangkan, anda mempunyai sebuah misi balas dendam yang amat sangat kuat, namun di tengah perjalanan sebetulnya anda bisa dengan mudah menuntaskannya.

Anda, sangat dekat dengan kemungkinan membalas itu, tak sepenuhnya terbalas, namun bisa dicicil sedikit demi sedikit dendam itu. Anda sangat dekat dengan seseorang yang sebetulnya dari kalangan yang anda benci. Namun, demi sebuah rencana yang matang, Anda lebih memilih untuk sabar dan menghabiskan waktu perjalanan panjang dengan orang itu. ‘Anda’ adalah Sungu Lembu dan ‘orang itu’ adalah Raden Mandasia.

Seiring berjalannya waktu, serta segala cerita perjalanan yang penuh suka duka. Perasaan dendam itu memudar, perlahan, sedikit. Perjalanan baik suka maupun duka, akan selalu terkenang, dalam ingatan, dengan siapapun itu. Dan, ketika momen mengharuskan berpisah, se-menyebalkan apapun orang itu, anda akan tetap merasa kehilangan.

Beberapa plot dalam novel ini menggambarkan bagaimana sifat manusia yang sesungguhnya. Rasa iri, dendam, jumawa, beringas, serta hawa nafsu begitu apik dikemas dengan penuturan yang mudah dimengerti. Prabu Watugunung, dalam kisah di buku ini menuliskan sedikit pesan yang tersirat tentang kepemimpinan. Bahwa, sesungguhnya tak ada yang agung, tak ada yang abadi. Setiap situasi ada masanya, ada gilirannya. Semua bisa berbalik tanpa bisa kita duga.

Dan agak sedikit aneh membaca cerita di bagian akhir buku Raden Mandasia. Agak tabu, dan diluar eskpektasi semua pembaca, mungkin. Akan tetapi di sisi lain, kamu setidaknya dapat mengantongi beberapa pengetahuan, yang diantaranya ilmu tentang pelayaran, rasi bintang, binatang, racun-racunan, dan ilmu-ilmu alam lainnya. Bagiku, cukup terlarut dalam berbagai suasana yang apik saja sudah lebih dari cukup. Lantas, kalau mendalami secara serius, bukan bermaksud buruk, bisa-bisa anda malahan memiliki aji-aji sendiri atau benda pusaka.

Menyelesaikan novel ini adalah perjalanan paling menyenangkan, merasa tenggelam dalam sejarah masa lampau, namun masih bisa dinikmati dari penuturan sang penulis yang apik. Oiya, kalau anda mengharapkan banyak kata-kata bijak dalam sebuah novel, maka jangan baca novel ini. Karena anda hanya akan menemukan umpatan-umpatan, bahkan bisa juga anda ikut ‘terajak’ untuk mengumpat. Selebihnya, novel ‘Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi’ sangat luar biasa. Dendam dibayar rindu.

Baca Juga: Literasi Dalam Jeruji

Judul                   : Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi
Penulis                : Yusi Avianto Pareanom
Tahun Terbit        : 2016
Jumlah Halaman : 450
Penerbit              : Banana
ISBN                    : 9-789791-079525

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *