Dangdut

Putu Wijaya dan Balada Dangdut yang Dibuatnya

Kekuasaan dan kekayaan bisa membuat siapapun menjadi kotor dan tidak bisa dipercaya. Begitu juga dengan rasa cinta, yang bisa membuat seseorang melakukan tindakan yang irasional.

Mungkin itulah kesimpulan yang saya dapat ketika membaca novel Dangdut karya Putu Wijaya. Selain memang dibuat kesal dengan jalan ceritanya, saya juga dibuat terkesima dengan kejuatan-kejutan di dalam novel tersebut. Setidaknya, saya sering bergumam ketika membuka lembar demi lembar buku itu.

Novel Dangdut adalah novel pertama dalam Tetralogi Dangdut. Buku pertama yang saya baca dari Putu Wijaya ini berkisah tentang percintaan, persahabatan, politik, juga jurnalistik yang membumbui kehidupan tokoh-tokoh didalamnya.

“Sinetron Balada Dangdut yang saya buat bersama Persari membuat saya melihat betapa semaraknya berbagai emosi berpendaran dalam gejolak dangdut yang membuat hidup menukik. Terkadang sedih sekali, kadang-kadang bahagia sekali. Mimpi dan kenyataan baur,”

Begitulah menurut si penulis. Pengalaman estetika itulah yang menggerus kisah Nara dan Mala dalam novel Dangdut.

Kisah ini bermula ketika Nora, si gadis lugu, tak sengaja melihat Mala kencing berdiri di rerumpun bunga. Kejadian aneh tersebut membawa kedua pemuda tersebut ke dalam kisah cinta yang singkat. Kisah keduanya seperti lagu dangdut yang terkesan receh, tapi ternyata tidak sesederhana itu.

Mala adalah seorang pemimpin redaksi di sebuah media masa terkemuka. Dia dihadapkan dengan masalah tak tahu apa penyebabnya. Tiba-tiba dia dituntut untuk menikahi seorang gadis polos, terkesan bodoh dan saya kira tingkahnya cukup menjengkelkan. Selain itu, ada tuntutan perayaan budaya yang diperdebatkan oleh orangtua Nora sebagai syarat pernikahan.

Jujur. Baru beberapa bab membaca buku ini, saya sudah kesal dengan dialog yang terkesan alot dan menjengkelkan. Drama percintaan Mala membuat siapapun, jika mengalami hal yang sama, mungkin akan merasa sangat jengkel. Saya sebagai seorang gadis pun sangat jengkel dengan Nora yang menjadi penyebab masalah Mala.

Tapi beruntung Nora bertemu dengan Mala. Lelaki baik, sabar dan dewasa yang melihat sisi kepolosan dan kebodohan Nora sebagai seseorang yang patut dicintai.

Dan seperti yang disebutkan di atas, persoalan uang adalah masalah lain yang menarik. Bermula dari tawaran Dori, sahabat Mala, meminta bantuan untuk menerbitkan sebuah buku kliennya. Mala berpendapat bahwa buku tersebut berbau sara dan subversif. Mala tahu buku ini berbau politik. Makanya, dia tidak ingin terjebak dalam persoalan politik praktis.

Segalanya menjadi berubah ketika Mala mendapati uang 400 miliar di dalam rekening. Dia tak tahu dari siapa dan tanpa persetujuan terhadap proyeknya. Masalah politik yang dialami Mala terlihat klasik seperti lagu dangdut yang remeh-temeh, tapi ternyata tidak sesederhana itu.

Kira-kira begitulah jalan ceritanya yang cukup rumit dan banyak masalah yang dimunculkan. Walaupun agak geregetan membacanya, tapi cukup membuat penasaran untuk cepat-cepat menyelesaikan. Yah, rasanya saya tidak sabar untuk membaca buku-buku lanjutan dari Tetralogi Dangdut ini. Dengan cerita yang menarik, hanya ada satu kata untuk penulis novel ini: Cerdas!.

 

Penulis : Putu Wijaya

Penerbit: Basabasi

Tahun Terbit: 2017

Tebal: 332 halaman

ISBN: 978-602-6651-37-2

Komentar
Nuryeti

Never stop learning, because life never stop teaching

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *