Pulang : Kisah Para Pengelana Yang Tersingkirkan

Pada suatu hari saya sedang mencari novel yang berkisah tentang perjalanan sesorang yang sedang mencari jati diri. Saya pun tidak berniat untuk membaca novel yang berhubungan dengan politik, sejarah, ataupun hal-hal lain yang berhubungan dengan itu. Awal ketertarikan saya membaca novel ini karena berjudul “Pulang”. Kebetulan saja saya mendapati novel ini dengan cover terbitan tahun 2017 yang tidak begitu nyentrik. Awalnya cover novel ini bergambarkan tangan yang sedang mengepal. Namun saat ini telah diperbaharui bergambarkan seseorang yang sedang berdiri di ujung jalan beserta bayangannya berwarna merah, dengan kata “Pulang” yang setiap hurufnya membentuk formasi zig-zag, itu memiliki daya tarik tersendiri bagi saya.

Awal mula membaca buku ini, saya kira akan mendapatkan kisah tentang pencarian jati diri seseorang yang berkelana menyusuri tempat-tempat antah-berantah, yang didampingi dengan rasa kegelisahan di dalam dirinya dan memutuskan untuk pulang. Konfliknya pun tidak perlu terlalu berat. Ambil saja contoh seperti perpecahan keluarga, percintaan yang retak, ataupun karena kehidupan yang membosankan. Akan tetapi novel ini bercerita lebih daripada itu. Di dalamnya menyuguhkan kisah yang lebih dalam. Menggelontorkan kegelisahan yang lebih “menusuk” serta menghadirkan konflik yang lebih mencekam dan mengharukan.

Novel karya Leila S. Chudori yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia ini dilatarbelakangi peristiwa bersejarah 30 September 1965 di Indonesia, Mei 1968 di Prancis, dan Mei 1998 di Indonesia. Cerita di dalamnya bercampur aduk antara sejarah, drama keluarga, pengkhianatan, percintaan, dan persahabatan. Singkat cerita, novel ini mengisahkan Dimas Suryo bersama ketiga kawannya Nug, Tjai, dan Risjaf yang berkelana ke Paris. Dengan dalih ditugaskan oleh kantor berita tempat mereka bekerja. Sebenarnya mereka lebih bisa dibilang “menyelamatkan diri” dari pemburuan para tentara karena dianggap masuk ke dalam golongan “kiri” pasca peristiwa 30 September 1965. Novel ini lah yang mengantarkan Leila memenangi penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa pada kategori prosa.

Saat tengah membaca buku ini, saya ingin menyudahi saja karena sudah cukup jauh diluar dari ekspektasi awal saya membaca buku ini. Akan tetapi entah mengapa saya merasa terjerat dalam alur cerita yang penuh dengan kejutan dan romansa-romansa yang apik. Ah sial! Novel ini mengipnotis saya. Sempat bingung apakah benar ini fiksi? Sajian ceritanya tampak seperti nyata sekali. Seandainya ini nyata, betapa kejamnya peristiwa saat itu. Akhirnya, dengan rasa penasaran saya memutuskan untuk membaca novel ini sampai habis.

Novel ini kaya akan sudut pandang. Di awal, novel ini menceritakan dari sudut pandang Dimas Suryo. Lalu merambat ke sudut pandang Vivienne Deveraux sebagai istri dari Dimas Suryo. Ada juga disuguhkan dari sudut pandang Lintang Utara selaku anak dari hasil pernikahan Dimas Suryo dengan Vivienne Devaraux. Menurut saya, sudut pandang yang paling seru ialah saat menceritakan dari sudut pandang Lintang Utara. Singkat cerita Lintang utara ini wanita dengan wajah blasteran Indonesia dan Prancis yang ingin menuntaskan tugas akhirnya di salah satu Perguruan Tinggi di Paris. Penelitian dari Tugas Akhirnya itu mengenai Indonesia, daerah yang tidak bisa terjamah lagi oleh sang Ayahanda. Agar penelitiannya mendapatkan hasil yang maksimal, Lintang pun harus pergi ke Indonesia. Melihat keadaan negara yang hanya ia tahu dari cerita ayahanda dan sahabat-sahabatnya. Hal ini bukan sesuatu yang mudah bagi Lintang, dengan mengantongi status anak dari eksil politik bergolongan “kiri”. Banyak perjuangan yang terjadi disini, Lintang mendapat banyak dukungan dari Ayahanda, sahabat-sahabat seperjuangan Ayahnya, teman satu Universitasnya, dan teman-teman lainnya.

Dari novel yang berjudul “Pulang” ini saya sangat terhanyut dengan tokoh Dimas Suryo yang sangat rindu akan tanah airnya, pikiran saya pun terbuka. Disaat banyak orang yang secara status sah sebagai Warga Negara Indonesia, malah benci dengan negaranya sendiri. Terlebih lagi memuja-muja negara yang sudah jelas bukan negaranya hingga ingin menetap disana. Kini saya melihat sosok Dimas Suryo, seseorang yang disingkirkan oleh negaranya sendiri. Malah lebih memiliki rasa cinta yang lebih mendalam terhadap Indonesia. Hingga bersikeras untuk kembali ke tempat ia terlahir. Agar bisa merasakan keindahan sebuah “Rumah”. Tempat yang sangat ia nantikan untuk “Pulang”.

Komentar
Arianto Darma Putra

Gua kece dari lahir, ya beginilah sudah takdir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *