Puisi Perlawanan

Puisi Sebagai Simbol Perlawanan

Puisi selalu mempunyai daya ‘magis’—setiap kata serta makna dapat mempengaruhi hati, pikiran serta perilaku setiap pembacanya. Puisi adalah kata yang dipadukan sedimikian rupa oleh sang penulis sehingga bisa menjelma tak ubahnya bunga yang membahagiakan, pohon rindang yang meneduhkan bahkan bisa menjadi pisau yang menyakitkan bagi setiap pembacanya.

Seperti yang terjadi pada Revolusi Perancis—penyair menunjukan sikap respon sosial-politik pada keadaan yang terjadi dalam bentuk puisi. Gejolak perlawanan masyarakat di kala itu sangatlah besar, seluruh Kota Paris diguncangkan oleh sebuah puisi anonim yang tersebar di setiap penjuru yang berbentuk selembaran. Bukan lagi berupa slogan atau propaganda, namun itu adalah upaya dalam menarik simpati warga disana agar menyadari kenyataan yang tengah hinggap di negara yang berjuluk kota mode tersebut. Dibalik tersebarnya selembaran, juga terdapat peranan masyarakatnya yang saling bahu-membahu dalam diam merindukan sebuah perlawanan.

Menegaskan kepada seluruh masyarakat melalui ‘suara’ para penyair bahwa ideologi apatis bukanlah jalan yang tepat, penyair menciptakan seni dan itu harus dapat dinikmati dengan indah—artinya: rakyat dapat bahagia tanpa memikirkan soal menderita dan kemelaratan

Rentetan sejarah puisi perlawanan juga dapat kita temukan pada masa kolonialisme di Indonesia—Chairil Anwar memulai melalui karangannya. Berangkat dari seruan semangat perlawanan dengan melihat realitas moral di kota metropolitan Jakarta, hadirlah sebuah puisi berjudul Binatang Jalang. Dan di sisi lain, seruan menggelora terus dikumandangkan lewat sentuhan kata sederhananya Bung, Ayo Bung. Dapat diyakini bahwa ini juga merupakan sebuah representasi perlawanan masyarakat untuk memperjuangkan kemerdekaan dari segala masalah kemanusiaan.

Berlanjut pada pasca revolusi kemerdekaan—puisi perlawanan masih terus dinyalakan. Kala itu, hegemoni idealisme menjadi lahan basah sebagai ajang memperebutkan kekuasaan. Tongkat estafet perjuangan Chairil Anwar diteruskan W.S Rendra. Uniknya pria yang dijuluki Burung Merak itu dalam ranah perlawanan menambahkan sebuah unsur seni teater—dikemas dalam bentuk pagelaran. Tak lupa, dalam setiap konser W.S Rendra dan tim yang tergabung di dalamnya selalu menyertakan kritik lewat puisi yang dibawakan. karya yang diciptakannya memberi pengaruh luar biasa pada perspektif masyarakat, hingga sebagian kalangan mahasiswa kerap kali memperdengungkan puisinya pada setiap demonstrasi, menunjukan sebuah interpretasi atas ketidakpuasan pada kebijakan penguasa.

Selepas W.S Rendra dengan kumpulan puisinya yang menentang kebijakan ‘dzalim’ yang dirasakan  pada masa rezim Orde Baru turut menyertakan hadirnya tokoh sastrawan muda, bernama Wiji Thukul. Kumpulan karyanya mengalir diantara massa aksi yang berdemonstrasi menuntut pergantian rezim kala itu. Kumpulan karya yang begitu fenomenal itu, salah satunya yaitu yang berjudul “Peringatan”—tertulis penggalan kalimatnya: Hanya Ada Satu Kata Lawan.

Baca juga:  Jalan Sastra Seno Gumira Ajidarma

Tak aman disitu saja, puisi perlawanan yang diciptakannya mendapat serangan dari pihak elit politik, karena memang setiap kejayaan tentu akan berimbang dengan kecaman. Ia terlegitimasi, menjadi ‘buruan’ penguasa pada masa rezim Orde Baru karena tajamnya kata-kata dari puisi yang dibuatnya. Hingga raganya lenyap dari penglihatanpun tetap lahir puisi perlawanan, dengan judul: Aku masih utuh dan kata-kata belum binasa

Kiranya, kaleidoskop perlawanan puisi mungkin belum berhenti sampai disitu saja, belum berhenti sampai pada penyair dan sastrawan progresif dahulu yang masyhur dan mendapat sekelumit penindasan. Tentu, masih banyak diluaran, para penyair yang terus menggemakan puisi sebagai simbol perlawanan. Berbekal bait-bait untaian kata yang dikeluarkan berelevansi dengan dinamika keadaan sekarang.

“perlawanan akan terus menggema sejauh puisi sebagai senjata dan kata sebagai peluru”

Komentar

Benci feodal namun juga bukan patriotik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *