PSBB

PSBB Tangerang, Kebijakannya Tidak Efektif dan Tidak Dipatuhi Masyarakat

Apa yang Diharapkan dari PSBB?

Negara tak pernah mengira pandemi corona akan selama ini. Atau setidaknya, negara lewat Badan Intelejen Negara pernah memprediksi jika puncak kasus pandemi corona akan terjadi pada bulan Juni, dan selesai beberapa bulan. Bahkan lembaga survei yang di-endorse negara menyatakan kalau perkiaraan berakhir pada bulan Juni juga telah terbantahkan.

Pandemi yang berkepanjangan ini membuat pemerintah pusat dan daerah terus waspada. Di Banten, misalnya, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masih diterapkan hingga berjilid-jilid. Terhitung pada awal oktober ini, PSBB sudah memasuki jilid kesebelas. Berdasar data, orang terjangkit Covid-19 masih tinggi dan cenderung meningkat. Kini tercatat 6.069 orang terkonfirmasi positif di Banten.

PSBB di Tangerang pada awalnya diterapkan cukup ketat. Mulai dari penutupan mal-mal, tempat hiburan hingga tempat-tempat kecil yang memancing kerumunan. Dua bulan lalu, PSBB pernah dilonggarkan, mengingat adanya penurunan. Namun, pelonggaran tersebut justru berbuah kenaikan statistik yang signifikan.

Meski begitu, di Tangerang sendiri sebenarnya tak banyak orang mematuhi aturan PSBB bahkan sejak awal diberlakukan. Mungkin karena minimnya pengawasan hingga kurangnya sosialisali dari pemerintah. Ketidakpatuhan masyarakat juga menjadi faktor yang menambah tingginya angka positif di sini.

Selain itu, PSBB di Tangerang terlihat menginduk pada apa yang diterapkan oleh pemprov DKI Jakarta. Ketika pemprov DKI Jakarta menerapkan PSBB ketat, kebijakan Tangerang mengikutinya. Pun ketika pemprov DKI Jakarta melonggarkan kebijakan PSBB tersebut. Dan sekarang, ketika PSBB di Jakarta mulai memperketat PSBB lagi, Tangerang mulai menerapkannya.

Iya sih, wilayah Tangerang sangat dekat dan bersinggungan langsuung. Namun, kalau secara kebijakan hanya mengikuti apa yang Jakarta lakukan, bagaimana bisa pemerintah Tangerang Raya bisa menekan angka penyebaran virus ini.

Dari awal memang pemerintah sepertinya Tangerang tidak siap untuk menangani penyebaran virus ini. Maklum sih, pemerintah pusat juga tidak siap dengan datangnya virus ini. Namun ini bukan menjadi alasan untuk menelantarkan masyarakatnya. Mulai dari ribuan buruh yang di-PHK sepihak dan tidak ada perlindungan. Banyak pedagang yang merugi dan pemerintah tidak memberikan solusi.

Baca juga: Perkara PSBB Tangerang Dan Kewarasan Masyarakatnya

Satu kebijakan yang ditunggu-tunggu adalah tes masal yang dipelopori oleh pemerintah Tangerang. Jika pemerintah hanya menunggu hasil tes secara mandiri oleh masyarakat, virus akan terus menyebar. Pasalnya, banyak masyarakat memilih menggunakan uangnya untuk menyambung hidup ketimbang melakukan tes sepeti swab tes yang cenderung mahal.

Jika pemerintah niat untuk menghentikan penyebaran virus, dengan modal anggaran APBD, pemerintah mestinya bisa mempelopori swab tes secara masal. Minimal mensubsidi biaya swab tes lah. Tindakan seperti ini mestinya bisa menekan penyebaran virus ketimbang menyewa hotel untuk isolasi mandiri bagi pasien Covid-19 dengan status Orang Tanpa Gejala (OTG) yang dilakukan oleh pemerintah Kota Tangerang.

Setidaknya, pemerintah bisa menyampaikan dengan baik alasan mengapa PSBB di Tangerang masih dilakukan. Dengan sosialisai yang baik dengan melibatkan berbagai pihak, masyarakat dengan sendirinya menyadari bahwa Tangerang masih dalam zona merah. Saya yakin banyak masyarakat yang mulai acuh dengan virus ini dan lebih mementingkan bagaimana ekonomi mereka bisa kembali normal. Nah, situasi seperti inilah yang harus diperhatikan oleh pemerintah.

Kebijakan yang dilakukan pemerintah Tangerang Raya memang masih dipertanyakan dengan PSBB diperketat atau dilonggarkan. Yang pasti, pasien Covid-19 di Tangerang cenderung meningkat seiring dengan kenaikan pasien Covid-19 di bebrapa daerah lainnya. Sedangkan, Jakarta dan Tangerang saat ini adalah zona merah untuk penyebaran virus corona.

Oleh karena itu, masyarakat harus menyadari bahwa Tangerang menjadi wilayah yang rawan dalam penyebaran virus ini dan kita tidak bisa berharap lebih terhadap kebijakan pemerintah saat ini. Yang perlu kita lakukan saat ini adalah menyadari bahwa kesehatan itu paling utama. Memakai masker, physical distancing, dan beberapa protokol kesehatan lainnya harus tetap dilakukan.

PSBB yang berkepanjangan memang membosankan. Tapi bagaimana lagi, kita punya pemerintah yang tidak serius memberikan solusi. Kita sebagai masyarakat hanya bisa mencegah penyebarannya secara mandiri dengan protokol yang sudah ada.

Komentar

Bergembira sebelum negara api menyerang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *