PSBB? Kebijakan Setengah-Setengah yang Diusung Pemerintah

Sudah empat hari PSBB (Pembatasan Sosial Bersekala Besar) diterapkan di Kota Tangerang, Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang. Program ini menciptakan pembatasan kegiatan pendidikan, pekerjaan, moda transportasi, peribadatan, kegiatan sosial dan budaya yang sebagaimana tertuang pada PP Nomor 21 Tahun 2020.

Namun pertanyaan sederahananya seberapa efektifkah kebijakan PSBB bisa memutus rantai penyebaran virus corona di Tangerang Raya? Sampai detik ini mungkin belum ada dampak yang begitu signifikan. Kenyataannya orang-orang masih bebas berkeliaran kemana saja sesuka hati mereka.

Saya memang bukan pengamat kebijakan publik atau sejenisnya. Namun dari kacamata masyarakat awam seperti saya, diterapkan PSBB atau tidak justru tidak ada bedanya. Keadaan masih ramai dari pagi hingga malam. Meski pembedanya hanyalah, apabila kita menyusuri sepanjang jalan akan ada banyak orang memakai masker. Itupun tidak semuanya, masih saja banyak masyarakat yang membandel, enggan memakai masker untuk melindungi diri mereka.

Jelas, seperti dipontang-pantingnya protocol aturan pengguna masker, dulu saja bilang masker hanya diperuntukan bagi orang yang mengidap corona ataupun PDP, sekarang justru semua masyarakat yang dipaksa untuk memakai masker. Jika kedapatan ada yang tidak memakai masker saat berkendara maka diminta untuk kembali ke rumah.

Baca Juga : Istilah Kata Yang Sering Dipakai Saat Wabah Virus Corona

Selain itu pemerintah pusat maupun kota seolah permisif dalam menanggapi PSBB, padahal kita sama-sama tahu batas maksimal berkumpul adalah lima orang, sedangkan faktanya, banyak pabrik yang masih memperkejakan ribuan buruh saat PSBB diterapkan yang pasti rentan tertular virus corona, pedagang kaki lima yang masih berjualan dipinggir jalan dan mengundang keramaian, tempat makan serta tempat-tempat umum dan pasar yang masih dikunjungi banyak orang. Bahkan penerapan pembatasan transportasi pun terkesaan belum efektif, beberapa check point yang sudah ditentukan nyatanya belum memberikan efek jera kepada masyarakat hingga saat ini. Lalu sisi sebelah mana yang bisa dikatakan pembatasan sosial berskala besar?

Pemerintah seolah main-main dalam memitigasi pandemi corona. Saya tidak habis pikir sampai kapan kita berada di keadaan seperti ini. Saya yakin banyak masyarakat yang sebenarnya sudah geram atas langkah pemerintah yang terkesan setengah-setengah.

Saya sangat menyesali kenapa pemerintah selalu memberi kebijakan dengan istilah-istilah seperti social distancing, psychal distancing dan PSBB yang hari ini sedang berjalan nyatanya belum ada kemajuan dalam menekan angka penyebaran virus corona. Angka penularan dan kematian setiap hari semakin bertambah, artinya setiap orang pasti rentan terjangkit Covid-19.

Apa sih yang sebenarnya ditakutkan pemerintah dalam mengambil kebijakan yang lebih serius dari ini? Sebenarnya kita bisa pakai model karantina wilayah atau hal lain yang dapat mempercepat penanggulangan virus corona dengan catatan dilakukan pengawasan secara ketat setiap waktunya. Perihal kondisi ekonomi negara, sudah banyak negara yang mengambil langkah preventif yang lebih serius dan siap menanggung resiko. Cina, Spanyol, Italia sudah menerapkan langkah tersebut dan terbukti dapat menekan angka penyebaran, bahkan di kota Wuhan, Cina atas memberlakukan karantina wilayah kota yang jadi awal mula adanya virus corona, kini sudah tidak ada kasus di kota tersebut dan masyarakat sudah bisa kembali menjalani aktivitas seperti biasanya.

Lalu di Indonesia, kita harus menunggu sampai kapan terhadap kebijakan PSBB yang hanya setengah-setengah ini? Harus berapa banyak korban lagi hingga pemerintah mau memberi kebijakan tegas dalam mengentaskan pandemic corona. Saya rasa masyarakat mulai jenuh berharap kepada pemerintah. Bantuan tak kunjung turun, kebijakan setengah-setengah, kejadian-kejadian tidak masuk akal terus dilakukan sebagai upaya penggiringan opini agar publik terpecah fokus dan pemerintah bisa berleh-leha.

Tentunya kita sebagai masyarakat lebih baik sadar untuk kepentingan diri sendiri, tidak bisa berharap penuh pada pemerintah akan diterapkannya PSBB yang hanya mungkin  cuma berguna bagi selgelintir aparat gabungan supaya terlihat lebih ada kerjaannya. Sekarang yang bisa kita lakukan adalah mentaaati protocol, berdiam diri di rumah, atur pola hidup sehat,  meskipun belum berdampak apapun untuk kita, itulah cara sebaik-baiknya.

Baca Juga : Penyebaran Buku PDF Bajakan: Niat Mulia Tanpa Menimbang Lagi Efeknya

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *