Proyek ‘Jurrasic Park Komodo’, Dosa Manusia Pada Alam

Bukan Jakarta yang akan disinggahi para komodo saat habitatnya mulai rusak. Bukan Jakarta yang akan merasakan sulitnya menjadi nelayan ketika dihimpit kawasan premium. Sekali lagi, bukan Jakarta yang akan menanggung beban dosa pada leluhur akibat tak bisa menjaga warisan alam. Tapi, semua akibat dari keputusan di Jakarta. Yang jauh dari kata paham membaca karakter alam di sana.

Taman Nasional Komodo di tangan pemerintah mulai masuk dalam salah satu daftar proyek besar Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Tujuan utama dari proyek ini adalah menggenjot beberapa kawasan pariwisata nasional agar bisa mendatangkan devisa lebih besar. Selain Taman Nasional Komodo, ada juga beberapa wilayah lain Toba, Borobudur, Kepulauan Seribu, Wakatobi, hingga Morotai.

Kerusakan adalah hal pasti yang ada pada setiap pembangunan. Tapi, yang tak termaafkan adalah saat pembangunan tersebut bukan hanya merusak lingkungan, juga mengancam kelangsungan hidup hewan endemik Indonesia yaitu komodo.

Tahun 1991, Taman Nasional Komodo ditetapkan sebagai situs warisan dunia. Para ilmuan beranggapan bahwa komodo adalah salah satu hewan yang sudah ada dan berkeliaran sejak zaman purba. Banyak ilmuan yang akhirnya melakukan penelitian ke Indonesia untuk mempelajari evolusi dari hewan tersebut.

Kekhawatiran besar muncul dari masyarakat adat hingga beberapa organisasi setempat akibat adanya proyek ‘Jurrasic Park’. Orientasi pemerintah pada proyek ini, jelas bukan untuk menjaga lestarinya daerah konservasi. Tapi untuk mengejar devisa agar setara dengan Bali. Targetnya tentu saja adalah turis-turis kelas atas.

Memang ada aturan tentang zonasi wilayah konservasi, tentang mana saja ruang yang bisa dimanfaatkan dan yang tak boleh tersentuh manusia. Tapi aturan hanya sekedar permainan hitam diatas putih segelintir pihak. Selalu ada saja alasan untuk mengotak-atik, dan saya pikir bukan sekali dua kali kita sebagai masyarakat dikelabui.

Penolakan banyak pihak masyarakat setempat selalu tak digubris. Hingga pada akhirnya perlawanan mulai dan menyita perhatian dunia saat viral sebuah foto yang menggambarkan seekor komodo sedang menghalang laju dari truk proyek. Foto itu diunggah pada salah satu akun media sosial yang juga aktivis penolakan proyek tersebut. Banyak argumentasi muncul di kolom komentar postingan yang secara garis besar mengkhawatirkan keberlangsungan hidup Komodo sebagai hewan endemik Indonesia.

Sebagian besar dari kita mungkin diperkenalkan dengan hewan bernama Komodo dari buku RPAL/RPUL maupun dari buku kurikulum sekolah. Dan saat ini, keberadaan habitat hewan itu mulai terancam.

Kita tak pernah tahu akan sampai kapan bisa menyaksikan kehidupan hewan bersejarah itu.
Peringatan keras sudah sering didengungkan pihak masyarakat adat setempat tentang potensi kerusakan besar yang akan terjadi. Kalaupun proyek ini tetap berlangsung dan dalam potensi kepunahan hewan tersebut makin tinggi, kita tahu siapa yang harus disalahkan.

Baca Juga: Sudahkah Sistem Belajar Daring Efektif Atau Sebatas Sarana Alternatif?

Proyek ‘Jurassic Park’ pulau komodo hanya akan memperpanjang dosa kita pada alam. Kurangi plastik, perbanyak ruang terbuka hijau, hemat-hemat energi, dan ajakan ‘taik kucing’ lainnya dari pemerintah untuk menjaga alam serasa tak benar-benar tulus.

Apakah kita sebagai manusia benar-benar berkeinginan untuk menjaga alam? Atau hanya sekedar ingin menambal kerusakan yang padahal terjadi akibat faktor kita juga?

Padahal manusia tak benar-benar punya kuasa untuk menjaga alam ini. Dan mungkin, tak akan sanggup. Rasanya alam hanya bisa lestari saat tak ada lagi satupun makhluk bernama manusia di muka bumi. Hitungan mundur kehancuran alam barangkali terasa sejak saat manusia muncul.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *