Program Membagikan Buku Untuk Pemudik Adalah Sebuah Kesia-Siaan

Sudah menjadi tradisi tahunan menjelang lebaran ketika beberapa orang dari kota pergi untuk menengok sanak-saudara di kampung halamannya, atau kita akrab menyebut kegiatan tersebut sebagai mudik. Berbagai sarana transportasi dari mulai darat, laut hingga udara digunakan oleh pemudik untuk pulang ke kampung halamannya.

Pemerintah pun selalu punya program-program dalam menyambut tradisi mudik lebaran. Dan yang baru pada tahun ini adalah adanya program bagi buku kepada para pemudik. Program dengan tema Mudik Asyik Membaca Buku adalah buah kerja sama dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dengan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI).

Rencananya, pembagian buku gratis tersebut akan diadakan pada 27-29 Mei 2019. Akan ada lima lokasi yang akan menjadi target program ini, yaitu Stasiun Gambir, Stasiun Senen, Terminal Bus Kampung Rambutan, Terminal Bus Kalideres dan Terminal Bus Pulo Gebang. Akan ada 1.000 buku yang akan dibagikan di tiap lokasi tersebut.

Baca Juga: Filosofi Burung “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Sebenarnya program yang dilakukan pemerintah cukup baik. Tentunya timbul harap dengan adanya program ini selain meningkatkan literasi masyakarakat, pemudik juga bisa terhibur selama perjalanan dengan buku-buku yang dibagikan.

Kita harus apresiasi atas upaya pemerintah meningkatkan budaya literasi kita melalui program yang dilakukan tersebut. Kendati demikian, mungkin pemerintah seperti sudah kehabisan ide sehingga segala upaya dirasa baik dilakukan tanpa ada riset terlebih dahulu.

Begini, membaca buku saat sedang dalam perjalanan di dalam kendaraan bukanlah suatu hal yang disarankan. Pasalnya itu akan menyebabkan pembaca merasa pusing serta mual. Pemerintah sepertinya tak memperhatikan hal tersebut atau kemungkinan lainnya mereka memang buta lapangan.

Mengutip dari womantalk.com, Menurut Dr. Joanne Feldman dari UCLA Department of Emergency Medicine, motion sickness atau mabuk kendaraan terjadi ketika tiga bagian tubuh kita , yaitu mata, telinga bagian dalam, dan saraf sensorik mengirim sinyal berbeda ke otak.

Tepatnya, motion sickness umum dirasakan ketika hanya satu dari ketiga bagian tubuh tadi (umumnya telinga bagian dalam) yang merasakan bahwa kita sedang bergerak, dalam hal ini berada di dalam mobil yang sedang berjalan. Dua bagian tubuh lain, yaitu mata dan saraf sensorik, tidak sadar bahwa kita sedang dalam kondisi bergerak. Hal ini membuat otak jadi ‘bingung’ hingga menjadi pusing, mual, atau ingin muntah.

Di sisi lain, jarak yang ditempuh para pemudik rata-rata jauh bahkan ada yang sampai luar pulau. Biasanya kalau dengan bus bisa memakan waktu berhari-hari di jalan. Rata-rata pemudik memanfaatkan waktu perjalanan untuk istirahat dengan tidur. Dan mudik adalah budaya yang rumit. Artinya mudik berbeda dengan perjalanan-perjalanan jauh seperti yang biasa kita lakukan. Iklim ruwet dan ramai hampir pasti ditemukan. Mungkin kalau perjalanan jauh di hari biasa, akan lebih mudah dalam menikmati perjalanan, atau sekedar punya waktu satu dua menit untuk membaca buku.

Baca Juga: Kenapa Toko Buku Online Terlihat Lebih Menarik?

Kita harus akui juga bahwa masyarakat Indonesia masih minim dalam memanfaatkan waktu luang untuk membaca. Apalagi dalam suasana lebaran, banyak orang memanfaatkan waktu untuk bersilaturahmi, bercengkrama dengan sanak saudara yang jarang ditemui daripada membaca buku.

Seharusnya pemerintah harus lebih jeli lagi dalam mencanangkan program. Tentunya harus melakukan riset terlebih dahulu untuk mengetahui situasi dan kondisi lapangan yang akan menjadi target program. Agar program tersebut tidak terkesan memaksakan, hingga akhirnya cuma jadi kesia-siaan.

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *