Problematika Moda Transportasi Umum Di Kota Tangerang

Beberapa hari lalu transportasi Kota Tangerang diramaikan dengan aksi beberapa supir angkutan kota yang menyandera Bus Rapid Transit (BRT) Trans Kota Tangerang. Hal ini merupakan bentuk protes para supir angkutan kota yang menganggap adanya BRT khususnya koridor 2 (Terminal Poris Plawad – Cibodas) sebagai penyebab utama pendapatan mereka menurun.

Trans Kota Tangerang sendiri sudah mulai beroperasi pada Desember 2016 dengan melayani satu dari empat koridor yang direncanakan oleh pemerintah Kota Tangerang dengan rute Terminal Poris Plawad – Jatiuwung dengan tarif awal Rp 3.000 untuk umum, Rp 1.000 untuk pelajar dan ditahun 2017 dikenakan tarif flat sebesar Rp 2.000. pada akhir desember 2017 rute koridor ini resmi diperpanjang 3 kilometer sampai Jatake (Perumahan Puri Jatake).

Kemudian pada Juni 2018 koridor kedua mulai beroperasi, rute ini melayani rute dari Terminal Poris Plawad – Cibodas. Pemerintah berharap dengan dibukannya koridor ini akan membuat masyakarat dijalur koridor ini beralih dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum.

Beberapa bulan beroperasi dikoridor dua, Trans Tangerang sangat membantu masyarakat dalam berpergian terutama masyarakat yang bekerja diwilayah Jakarta. Dengan adanya koridor dua ini masyakarat hanya perlu membayar Rp 2.000 untuk menuju Terminal Poris Plawad atau stasiun kereta yang dilewati Trans Tangerang.

Disisi lain, Trans Tangerang mendapat protes yang cukup keras dari supir angkutan umum disekitar rute yang dilaluinya. Buntut masalah ini adalah aksi yang dilakukan beberapa hari lalu. Para supir angkutan umum menuntut pemenrintah agar memberhentikan operasional BRT dikoridor dua. Saat ini pihak kepolisian hanya mengalihkan rute Trans Tangerang tidak sampai dipemberhentian akhir CIbodas demi menghindari gesekan yang lebih keras lagi antara supir angkutan umum dengan Trans Tangerang.

Menurut saya ada baiknya semua moda transportasi umum di Kota Tangerang perlu dibahas dan dikaji ulang oleh pemerintah, dinas perhubungan, pengemudi online, organda, dan pihak pihak terkait. Jauhnya jarak tempuh angkutan umum juga tidak baik jika kita melihat banyaknya transportasi umum yang ada di Kota Tangerang. Jarak tempuh angkutan umum harus diperpendek agar tidak saling berebut penumpang demi menghindari hal yang tidak diinginkan.

Para pemilik usaha angkutan umum pun harus dapat memperbaiki kualitasnya demi dapat bersaing dengan transportasi umum lainnya. Masih banyak supir angkutan umum yang ugal-ugalan, kendaraan yang kurang layak, tarif yang tinggi dan hal-hal lain yang membuat masyarakat kurang nyaman. Hal-hal tersebut harus jadi perhatian para pengusaha angkutan umum guna menaikan kualitasnya.

Pemerintah pun harus ikut ambil andil dalam persoalan yang ada pada angkutan kota sendiri. Karena mau tidak mau hal ini melibatkan masyarakat Kota Tangerang juga yaitu dari supir angkutan umum itu sendiri dan juga penumpang.

Rute koridor dua saat ini hanya melayani rute Terminal Poris Plawad sampai Palem Semi saja sampai adanya putusan hasil koordinasi dari berbagai pihak. Hal ini tentu dirugikan oleh masyarakat yang biasa menggukanan transportasi ini. Semoga dari pertemuan tersebut ada hasil yang dapat membahagiakan semua pihak agar tidak ada satu pihak pun yang kembali merasa dirugikan.

Komentar
Mochamad Anthony

Bakar Kalori dan Berbahagia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *