Kekerasan Seksual

Predator Seksual di Tangerang dan Pentingnya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual Segera Disahkan

Predator seksual itu nyata adanya, dan kini mereka masih berkeliaran di Tangerang. Setidaknya, beberapa waktu lalu, terjadi sebuah kasus kekerasan seksual di Kawasan bintaro. Pelaku kejahatannya, adalah seorang Pak Ogah, sebutan umum untuk seseorang yang membantu mengarahkan lalulintas.

Kejadian tersebut bermula tatkala korban tengah mengendarai motornya menuju arah Pondok Jaya. Naas, di jalan raya, kekerasan seksual tersebut terjadi setelah penjahat itu meremas payudaranya secara brutal hingga Ia terjatuh dari sepeda motornya. Parahnya, ini adalah upaya kejahatan yang sudah dilakukan sebanyak tiga kali.

Saya geram, namun tidak kaget. Banyak kejadian seperti ini di jalan raya. Koreksi, pelecehan seksual ada itu terjadi di mana-mana,  bukan hanya jalan raya. Di transportasi umum, ruang public, bahkan di lingkungan sekolah atau tempat kerja. Pelakunya juga bervariasi; dari orang asing, bahkan orang terdekat.

Kejadian menyedihkan seperti ini banyak terjadi pada korban yang tidak memakai pakaian terbuka. Seperti yang terjadi pada korban kekerasan di Bintaro tadi. Maka, kebiasaan orang menganggap kekerasan seksual terjadi karena korban memakai pakaian terbuka adalah tidak benar. Itu sih cuma upaya menyalahkan korban agar pelaku terhindar dari penegakan hukum saja.

Yang lebih parah, ada juga yang memiliki anggapan kalau kejahatan seksual ini terjadi karena si perempuan tidak ditemani oleh suami/keluaganya. Bitch please, bajingan, tai, bangsat orang-orang berpikiran sempit kayak gitu. Tolong lah, bagaimana nasib perempuan-perempuan yang mencari nafkah untuk anaknya sendiri, sementara pasangannya sudah tidak ada atau malah sibuk bergumul dengan perempuan lain. Menjadi orangtua tunggal itu sulit, sudah harus menjadi tulang punggu anaknya, eh masih saja dilecehkan martabatnya dengan pandangan busuk seperti ini.

Lalu, ada hal lain yang mengganggu saya terkait peristiwa kekerasan seksual tadi. Entah kenapa, kepolisian dan pemberitaan lebih memilih menggunakan bahasa begal payudara terhadap kasus ini. Padahal, menurut KBBI pengertian begal atau pembegalan adalah: proses, cara, perbuatan membegal; perampasan di jalan; penyamunan. Sementara, apa yang dilakukan oleh para brengsek pelaku kekerasan seksual ini tidak setara dengan kasus pembegalan. Tidak, ini lebih dari sekadar begal belaka. Ini adalah kejahatan seksual. Kriminal yang harus dihukum seberat-beratnya.

Saya merasa penggunaan istilah “begal payudara” secara tidak langsung menjadikan tindakan kriminalnya terdengar lebih ringan. Padahal efek yang ditimbulkan dari kekerasan seksual itu bisa lebih parah dari sekadar pembegalan. Ada banyak korban yang bisa saja mengalami keterguncangan secara mental dan trauma yang mendalam. Saya, sebagai orang yang pernah menjadi saksi mata dari salah satu tindakan pelecehan seksual sangat tidak setuju penggunaan istilah ini. Ini adalah tindakan kriminal, peristiwa yang lebih pantas disebut sebagai PELAKU kekerasan seksual atau predator seksual. Bukannya begal.

Melihat kejadian ini, ada baiknya Dewan Perwakilan Rakyat segera mengesahkan Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual. Sebab, regulasi dan hokum yang ada saat ini belum bisa melindungi para perempuan dari kekerasan seksual. Apalagi, dalam beberapa kasus, orang yang menjadi korban kekerasan seksual justru dijadikan sebagai tersangka seperti yang dialami Baiq Nurul beberapa waktu lalu. Untung saja, Presiden Jokowi mau memberikan amnesti baginya, walau sebenarnya pada kasus tersebut terlihat jelas jika hukum tidak memihak pada para korban kekerasan seksual.

Mohon, sudah terlalu banyak kasus kekerasan seksual yang terjadi. Tidak hanya kepada Baiq Nurul, korban di Tangerang, atau pekerja perempuan berbusana muslim di Mojokerto yang secara brutal diremas payudaranya ketika bekerja di toko pakaian. Ya, Ia yang berbusana muslim itu dilecehkan secara seksual, dihantam dengan kekerasan secara seksual. Maka dari itu, sekali lagi, RUU PKS ini HARUS SEGERA DISAHKAN AGAR PEREMPUAN INDONESIA TIDAK LAGI MENJADI KORBAN DARI PARA PREDATOR SEKSUAL.

Sialnya, anggota dewan kita yang terhormat itu agaknya lebih suka membahas busana Youtuber Kimi Hime ketimbang mengesahkan RUU PKS. Janji pengentasan RUU ini masih saja mandek, yang lancar adalah obrolan soal busana perempuan. Sudah RUU PKS ini dikritik karena anggapan penyetujuan LGBT yang jelas-jelas tidak ada di draf, disebut regulasi yang menyuruh orang untuk seks bebas, ditolak pria bajingan karena tak mau ada sebutan memperkosa istri padahal mah begitu, eh mau berharap sama legislatornya kok kayaknya mereka nggak ada gunanya.

Janji DPR untuk melanjutkan bahasan RUU PKS setelah pemilu selesai pun belum pernah terlaksana hingga hari ini. Apakah memang sesulit itu nasib para perempuan di negara dengan mayoritas muslim ini?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *