Potret Kerusuhan 98 Di Tangerang Hingga Upaya Penindasan Etnis Tionghoa

Tragedi 98 merupakan sejarah yang tak akan pernah dilupakan oleh masyarakat Indonesia. Tragedi memilukan dimana banyak terjadi kasus penjarahan, kerusuhan hingga pemerkosaan terhadap etnis Tionghoa yang juga menyeret bersamaan dengan mundurnya sang bapak pembangunan “Presiden Soeharto” yang berkuasa selama 32 tahun. Semua ini menjadi rentetan sejarah peristiwa kelam Indonesia kala itu

Walaupun yang menjadi sorotan adalah Jakarta, karena memang ibukota negara yang juga sekaligus menjadi pusat perekenomian Indonesia. Akan tetapi, salah satu daerah pinggiran Ibukota macam Tangerang turut merasakan dampaknya. Tangerang mengalami dampak kerusuhan yang sangat besar. Beberapa toko, pasar hingga Mall yang ada di wilayah Tangerang menjadi sasaran kerusuhan.

Sejumlah kawasan yang ada di Tangerang habis dijarah dan dibakar, diantaranya Mega Mall Lippo Karawaci, Mall Diamond yang ada di Jalan MH Thamrin, pasar-pasar, serta pusat perniagaan yang berada di wilayah Cimone.

Supermall Karawaci yang dahulu bernama Mega Mall Lippo Karawaci, baru beberapa tahun berdiri menjadi sasaran amukan massa pada saat itu. Penjarahan terjadi dan hampir setiap sudut Mega Mall ludes dijarah oleh massa. Dan parahnya lagi, terjadi tragedi pembakaran di dalam Mall yang merenggut banyak korban jiwa. Pasca kejadian pembakaran Mega Mall Lippo saat itu, perekonomian di Tangerang sangat memprihatinkan.

Peristiwa kelam ini tidak akan pernah lekang oleh waktu. Para warga Tangerang masih mengingat betul tragedi tersebut. Kini gedung yang telah berubah wajah itu menjadi saksi bisu reformasi di tahun 1998.

Baca Juga: 4 Gerakan Literasi Menggunakan Perahu

Di lokasi lain, Jalan Kisamaun nampak aman dari sekian banyaknya akses jalan di Tangerang yang penuh akan kerusuhan. Mencegah kerusuhan di lokasi tersebut, para pemilik toko menyiasati toko nya dengan menuliskan “Milik Pribumi dan Pro Reformasi”. Tulisan ini sendiri menandakan bahwa sang pemilik toko bukanlah etnis Tionghoa dan memiliki makna agar tak diserbu massa pribumi yang beringas. Walaupun aslinya sebagian toko dimiliki juga oleh orang tionghoa, namun siasat ini kemudian diperkuat dengan penjagaan oleh Akamsi.

Tempat tersebut ialah Pasar Lama yang sekarang kita nikmati sebagai tempat wisata kuliner, maka itu hingga sampai saat ini masih banyak kita jumpai warga Indonesia keturunan Tionghoa yang menetap di sana.

Pada saat kerusuhan 98, tak hanya penjarahan dan pembakaran yang terjadi di Tangerang. Pemerkosaan terhadap perempuan etnis Tionghoa turut marak sekali terjadi. Lantaran Etnis Tionghoa dianggap sebagai orang yang mampu menduduki posisi ekonomi yang cukup strategis dan itu hanya salah satu dari sekian alasan mereka menjadi sasaran amukan serta kekerasan seksual. Kalau dirunut ke waktu sebelumnya, peristiwa pengganyangan komunisme saat rezim Soeharto berkuasa mungkin jadi latarbelakang ini semua.

Baca Juga:  Warga Tangerang Lebih Butuh KRL Ketimbang Kereta Bandara

Potret rasa cemas, trauma dan takut mungkin saja masih menghantui etnis tionghoa yang kini bermukim di Tangerang, atau bahkan di seluruh penjuru tanah air. Hanya saja, titik balik sekarang, perubahan kehidupannya menjadikan rumah-rumah atau toko nya bertraliskan besi, menandakan bahwa etnis tionghoa selalu mengunci ingatan atas pemandangan yang memilukan tersebut.

Mei 1998 yang mengawali semangat reformasi ini ternyata masih meninggalkan banyak kenangan pahit dan tugas yang mestinya dituntaskan. Kekerasan masih saja terus terjadi sesudahnya. Begitu juga pada kasus penembakan empat mahasiswa Trisakti dan dua mahasiswa Atmajaya oleh aparat yang hingga kini tak kunjung diungkapkan dalang atas peristiwa tersebut.

Sudah 21 tahun peristiwa itu berlalu dan seiring pula pemilihan presiden berganti, akan tetapi janji mereka untuk mengusut tuntas kasus ini hanyalah sebatas janji belaka yang terus memudar. Teruntuk bagi para petinggi negara yang turut menerangkan kasus berdarah ini mestinya sadar bahwa para korban tak lebih dari sekumpulan angka-angka, melainkan nyawa yang harus dibayar impas dengan keadilan dan kebenaran.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *