Potret Dunia Pendidikan di Tengah Pandemi Corona

Pandemi corona masih jadi persoalan yang tak kunjung usai. Penyebaran virus yang terkesan masif ini membuat setiap orang jadi selalu dihantui kekhawatiran. Demi memutus rantai penyebaran virus Covid-19 atau corona, pemerintah menghimbau kepada masyarakat Indonesia untuk melakukan social distancing. Agenda-agenda yang bersifat publik, mengundang massa banyak juga terpaksa dibatalkan bahkan diberhentikan secara paksa. Adapula sebagian perusahaan hari ini telah memberlakukan sistem WFH (work from home) bagi para karyawanya untuk sementara waktu.

Semua demi menekan angka penyebaran virus corona. Di sektor pendidikan kini bisa kita lihat turut jadi imbasnya, alhasil kegiatan belajar mengajar mau tidak mau harus berbasis online. Entah ini langkah efektif atau tidak, yang jelas dengan adanya kelas online yang diadakan oleh beberapa kampus dan sekolah diharap siswa mampu terus mendapat akses belajar yang memang sudah menjadi hak primer mereka.

Akibat pandemi yang sudah menyebar ke 156 negara, setidaknya ada 22 negara dari tiga benua yang menutup sekolah-sekolah mereka akibat pandemik corona. Tentunya jelas ini menjadi kekhawatiran besar, sektor pendidikan yang terkena imbas atas virus corona ini menyebabkan terganggunya proses belajar mengajar. Menurut data Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO), setidaknya ada kurang  lebih 290 juta siswa di seluruh dunia yang aktivitas belajarnya menjadi terganggu akibat sekolah yang ditutup.

Sebenarnya penutupan sekolah untuk sementara waktu dengan alasan kesehatan atau lainnya memang bukan pertama kali terjadi, selain terpengaruh dari bencana alam serta negara sedang mengalami perang yang dapat mengancam kehidupan warganya. Namun, terkait wabah pandemi ini kiranya sudah jadi persoalan serius secara global, yang dampak penyebarannya begitu cepat dan luas.

Berbagai negara pun punya cara masing-masing dalam mengatasi sistem pendidikan yang ada demi terus memberikan pendidikan yang layak bagi warganya. Ini memang sudah jadi tugas negara untuk bertindak cepat dalam menghadapi berbagai masalah yang terjadi, seperti kasus corona. Termasuk bertindak cepat di ranah pendidikan yang memang sangat penting karena menyangkut masa depan bangsa.

Di Indonesia, proses belajar sudah dilakukan secara daring. Bahkan Presiden Jokowi beserta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim sudah memutuskan untuk meniadakan UN di SD, SMP, SMA tahun ini lantaran diminta untuk fokus lebih dahulu pada keselamatan dan kesehatan rakyat.

Sementara untuk pengganti UN sendiri masih dalam proses pengkajian, Presiden dan Mendikbud bekerja sama dengan komisi X DPR RI juga tengah membahas pengganti UN. Ada dua opsi yang ditawarkan, yaitu mengadakan UASBN (Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional) dilakukan secara online dan menggunakan metode hitung nilai kumulatif akhir siswa dari 4 semester kebelakang dalam penentuan kelulusan.

Baca Juga : Bersikap Bodoamat: Mengubah Masalah Menjadi Masalah Lebih Baik

Menurut saya yang sangat memungkinkan dilakukan adalah menggunakan menghitung metode nilai kumulatif akhir siswa, karena untuk melaksanakan UASBN secara online, saya rasa Indonesia belum siap, kalau dibilang bisa, Indonesia sendiri tentu bisa-bisa saja melakukannya, tetapi hasilnya belum tentu memuaskan. Terlebih, pasti akan banyak kebutuhan untuk menyiapkan itu semua, belum lagi kondisi perekonomian Indonesia saat ini sedang tidak stabil. Meski demikian, walau secara keputusan belum sah, kita sama-sama berharap saja semoga Pak Presiden dan Mendikbud bisa berkordinasi dengan baik untuk mengeluarkan kebijakan terkait pengganti UN.

Itu di negeri kita, lalu bagaimana dengan negara lain yang sektor pendidikannya terkena imbas juga, misal Italia. Di negara Italia saat ini sedang berjuang mati-matian melawan corona. Pasalnya Italia merupakan negara dengan angka kematian tertinggi terkait virus ini.

Kebijakan Lock Down sudah diberlakukan di negara tersebut, semua fasilitas umum ditutup tak terkecuali sekolah-sekolah di negara tersebut. Semua sekolah di Italia ditutup secara nasional untuk menekan penyebaran virus. Dan sebagai alternatifnya pemerintah italia menggantinya dengan sistem belajar daring yang kurang lebih sama dengan Indonesia.

Sementara di China, dimana kita sama-sama tahu virus corona berasal, lewat Kementrian Pendidikan China memutuskan untuk memperpanjang libur imlek mereka untuk sekolah dan kampusnya. Tentu, ini merupakan langkah yang berat, tetapi apa boleh buat, keputusan ini harus cepat diambil, mengingat pemerintah tak ingin kembali salah dalam mengambil langkah.

Lalu di Amerika, mereka menutup sekolah-sekolah yang ada dan memilih untuk menghentikan pertukaran mahasiswa antar negara. Terlebih untuk mahasiswa-mahasiswa yang ada di Italia diminta untuk pulang karena mereka khawatir dengan besarnya angka penyebaran virus di negara tersebut.

Pandemi corona seakan jadi penutup jalan untuk sektor pendidikan, hampir 300 juta siswa di seluruh dunia dipaksa terganggu pendidikanya dan hal yang sangat dikhawatirkan adalah mereka terancam hak-hak pendidikannya di masa yang akan datang.

Semoga setiap negara punya jalan terbaik untuk terus memberikan pendidikan yang layak kepada warganya, karena mereka adalah harapan bangsa yang harus terus didorong untuk menempuh pendidikan sebaik mungkin agar tercerahkan masa depan bangsa dan negara.

Sebagai orang tua pun, wajib kiranya memberikan pemahaman kepada anak-anak terkait wabah pandemik yang sedang terjadi sekarang ini, mereka nyatanya tidak diliburkan. Mereka harus terus belajar, mendapat pendidikan yang layak agar tidak ketinggalan kurikulum yang ada. Sistem e-learning merupakan salah satu jawabanya untuk sementara ini. Semoga dengan adanya e-learning semua siswa yang terkena dampak dari pandemi bisa terus belajar dan mengembangkan diri meski harus dilakukan dari rumah.

Baca Juga : Waktu Membaca Yang Asyik Untuk Kalian Si Super Sibuk

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *