Polemik Cerpen yang ‘Dianggap’ Porno Di Universitas Sumatra utara

Universitas Sumatra Utara(USU) menjadi perbincangan hangat beberapa hari belakang. Seluruh anggota Lembaga Pers Mahasiswa SUARA USU dipecat dari kepengurusan secara sepihak oleh rektornya karena dianggap mempublikasikan konten yang mengandung prornografi.

Pemberhentian seluruh anggota SUARA USU terjadi setelah mereka menolak menghapus sebuah cerpen yang berjudul Ketika Semua Menolak Kehadiran Diriku di Dekatnya karya Yael Stefani Sinaga, sebuah cerpen yang(katanya) berbau LGBT dan kata-kata toilet kotor. Sebelumnya Rektor USU, Prof. Runtung Sitepu, telah memperingatkan mereka untuk menghapus cerpen tersebut. Namun seluruh anggota berkeyakinan bahwa cerpen tersebut tidak mengandung unsur pornografi seperti apa yang telah dituduhkan kepada mereka.

Penolakan untuk mencabut kembali cerpen berbuntut pada pemecatan seluruh anggota, suspensi situs web(suarausu.co), hingga intervensi susunan keanggotaan SUARA USU yang baru. Banyak orang yang prihatin akibat tindakan rektor yang dianggap semena-mena ini, termasuk saya.

Saya tak ingin menjadi bagian dari golongan dengan taraf kebodohan 4.0—alias gampang terpengaruh pemberitaan tanpa ingin mencari tahu kebenaran. Hal yang pertama saya lakukan adalah dengan mencari tahu isi cerpen kontroversial tersebut. Tak sulit rupanya untuk mencari tau isi cerpen kontroversial tersebut—saya kira bakal sesulit seperti mencari dalang penyerangan Novel Baswedan, Hehe.

Setelah saya baca dengan seksama, ternyata memang benar bahwa cerpen tersebut berkisah tentang LGBT—sebuah rasa cinta sesama jenis yang bertepuk sebelah tangan. Rasa cinta yang tumbuh dalam benak Dewi kepada Laras.

Terkait dengan penyataan dari pihak Rektorat bahwa cerpen tersebut mengandung unsur pornografi dan kata-kata toilet kotor, menurut informasi, terletak pada bagian;

“Kau dengar? Tidak akan ada laki-laki yang mau memasukkan barangnya ke tempatmu itu. Kau sungguh menjijikkan. Rahimmu akan tertutup. Percayalah sperma laki-laki manapun tidak tahan singgah terhadapmu,”

Ketika saya cari tahu tentang makna kata pornografi, kemudian muncul bahwa pornografi itu penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu berahi. Nah, di sinilah letak permasalahannya.

Pengertian pornografi yang dituduhkan oleh rektor, menurut hemat saya, tidak tergambar pada cerpen tersebut. Tak ada penggambaran tingkah laku secara erotis maupun membangkitan nafsu birahi dalam seks. Bagi saya karya tersebut hanyalah sebuah penggambaran realitas sosial yang dikemas dengan sastra.

Ada dua perspektif yang akan tercipta ketika Anda membaca cerpen tersebut. Pertama, saat Anda memahami cerpen tersebut hanya sebagai tulisan, maka hanya akan menemukan sebuah cerita tentang cinta terpendam Dewi untuk Laras yang secara realitas kehidupan merupakan perilaku menyimpang.

Namun ketika Anda memahami cerpen tersebut sebagai sebuah karya sastra, maka Anda akan menemukan sebuah makna tersirat di balik cerpen tersebut. Ada realitas sosial yang disajikan dalam cerpen tersebut dimana sering terjadi sebuah tindak persekusi di kalangan masyarakat terhadap kaum minoritas. Di Indonesia LGBT sangat ditentang karena negara kita memegang kuat prinsip agama yang melarang hal tersebut. Saya pikir teman-teman SUARA USU ingin menyampaikan hal tersebut melalui cerpennya. Walaupun ujung-ujungnya cerpen tersebut dianggap kontroversial.

Baca juga: Puisi Sebagai Simbol Perlawanan

Saya sepakat dan mendukung penuh dengan teman-teman SUARA USU yang tetap berada pada pendrian mereka bahwa karya mereka memang bukan karya pornografi. Cerpen mereka hanyalah bentuk dari kebebasan berekspresi melalui sastra.

Setiap orang mempunyai hak berekspresi dan berkarya. Keputusan yang diambil oleh rektor USU terlihat sangat tidak adil dan gegabah. Ia membatasi mahasiswa untuk berekspresi dan terlalu jauh mengintervensi organisasi mahasiswa.

Namun saya selalu percaya bahwa sastra adalah bentuk kebebasan berekspresi, ada sebuah energy kuat dalam setiap kata yang disampaikan—tak akan ada yang mampu membendung kekuatan kata sekalipun itu orang yang bertahta.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *