Pinjam Buku via Aplikasi Bobookit, Inovasi Digital di Dunia Literasi

Ketika pertama kali terlibat dalam gerakan literasi, salah satu ide yang pernah muncul di kepala saya adalah sebuah aplikasi untuk saling meminjam buku via digital atau aplikasi smartphone. Namun, semua hal itu hanya berujung wacana. Hingga kemudian, ide dan harapan tersebut terealisasi lewat Bobookit, aplikasi peminjaman buku yang dibuat para pemuda asal Tangerang.

Adalah Fauzan Haqi Lukita dan Muhammad Bayi Prakoso yang membangun platform digital peminjaman buku online ini. Mereka berdua adalah mahasiswa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang berasal dari Tangerang. Keinginan untuk membantu masyarakat yang gemar membaca tapi tak mampu beli buku menjadi dorongan mereka untuk membangun platform ini.

Sebagai seseorang yang masih ber-KTP Tangerang, saya tentu senang melihat ide yang pernah saya punya dulu akhirnya bisa diwujudkan oleh orang lain. Walau jelas saja kami, saya dan mereka berdua tidak saling mengenal, tapi saya tetap menaruh harapan besar atas lahirnya Bobookit.

Apalagi, ketika dulu memikirkan ide ini, saya punya banyak keraguan atas platform digital seperti Bobookit.
Pertama, sebagai seorang penggemar buku, tentu saya ingin agar buku-buku saya dipinjam dan dibaca oleh orang lain. Namun, saya belum punya jawaban atas kemungkinan buku-buku tersebut dibawa lari oleh orang yang meminjam buku. Cara berpikir yang negatif, memang, tapi potensi atas persoalan ini sangat besar terjadi.

Apalagi jika kemudian buku yang dipinjamkan tersebut adalah buku langka dengan tingkat kesulitan tinggi untuk menemukannya. Tentu saja saya akan sangat menyayangkan, dan kemungkinan tidak bisa ikhlas, semisal buku Merahnya Merah karya Iwan Simatupang yang saya miliki harus dibawa lari oleh seorang peminjam buku. Ini perkara yang belum saya temukan jawabannya.

Dulu saya berpikir untuk saling menukar buku dengan mereka yang meminjam agar potensi kehilangan buku setidaknya bisa diminimalisir. Sialnya, saya lupa, orang-orang yang meminjam juga kemungkinan buku-buku mereka tidak sepadan dengan apa yang saya inginkan. Karena itu, hal ini juga tidak bisa jadi jawaban atas permasalahan yang saya kerap pikirkan. Semoga pengembang aplikasi ini bisa menemukan solusi atas permasalahan itu.

Persoalan kedua adalah target atau pasar dari aplikasi ini akan berkisar pada kelas menengah saja. Suka atau tidak, platform digital seperti Bobookit biasanya digemari oleh kelompok masyarakat yang minimal kelas menengah. Ya tidak pasti selalu begitu, tapi agaknya mereka yang awalnya menjadi sasaran dari pencipta platform bakal lebih sedikit ketimbang kelas menengah.

Apalah ini masalah, bisa dibilang iya juga tidak. Tentu tidak masalah ketika ada orang lain yang ikut bergabung untuk meminjamkan buku atau menjadi peminjam buku. Semakin banyak orang tentu akan semakin bagus untuk pertumbuhan platform. Namun, tidak boleh dilupakan kalau mereka yang tak punya uang untuk beli buku itu belum tentu tersasar. Dan ini menjadi satu masalah tersendiri.

Dan terakhir, plarform seperti ini hanya bisa berkembang di lingkaran komunitas saja. Agak sulit sepertinya membayangkan seseorang yang tinggal di Malang harus bersusah payah meminjam buku dari warga Tangerang. Kalau pun bisa dikirim via jasa ekspedisi, tapi tetap saja itu merepotkan dan harus mengeluarkan ongkos kirim yang belum tentu kecil.

Baca Juga: 3 Hal Yang Membuat Saya Gemar Membaca

Paling, perkembangan platform ini harus ditopang komunitas-komunitas di masing-masing daerah. Mereka yang tinggal di Malang, harus menemukan orang Malang juga agar bisa saling meminjam buku. Namun jika kemudian tidak berkembang di satu lingkup wilayah, platform seperti ini kemungkinan tidak bisa berkembang di wilayah itu.

Apa pun itu, persoalan dan masalah ini akan menjadi tantangan dari para pengembang Bobookit. Setidaknya, upaya yang mereka lakukan sudah merupakan satu langkah untuk memajukan literasi masyarakat. Karena langkah demi langkah yang dilakukan pegiat literasi akan menjadi catatan perjuangan.

Saat ini, Bobookit telah memiliki belasan orang yang bergabung untuk saling meminjamkan buku. Jumlah buku yang telah bisa dipinjamkan juga sudah mencapai ratusan. Tentu menjadi langkah awal yang bagus dari para pengembangnya untuk tetap bersemangat dalam mengembangkan platform peminjaman buku via online ini.

Komentar

Bukan siapa-siapa, bukan apa-apa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *