PSBB

Perkara PSBB Tangerang dan Kewarasan Masyarakatnya

Virus Corona sudah menjadi momok yang dibenci satu bumi. Yang awalnya mau nonton konser, nongkrong, sampai ke ranah pekerjaan pun terganggu karena muculnya si Covid-19. Mau tidak mau, semua orang terpaksa harus beradaptasi agar mampu bertahan menghadapi wabah ini.

Sudah banyak upaya yang dilakukan dari berbagai pihak, mulai dari lockdown sampai keasadaran diri untuk karantina mandiri. Lalu bagaimana dengan yang terjadi di Tangerang?

Sebenarnya sudah dilakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Tangerang Selatan yang sudah dimulai sejak 18 april 2020. Yang kemudian disusul oleh wilayah lainnya di Tangerang.

Walaupun sebenarnya, saya sendiri belum melihat efek signifikan dari kebijakan tersebut. Banyak cafe yang masih buka sampai malam dan orang masih bebas berkumpul tanpa menghiraukan jarak dan jumlah.

Hanya beberapa kali terdapat razia masker di sejumlah titik. Kalau melanggar, dikenakan sanksi yang beragam: mulai dari menyapu jalanan hingga dikenakan denda Rp. 250.000.

Tak heran kalau berita PSBB yang terus diperpanjang di sejumlah media sosial sebagian besar mendapatkan respon negatif atau bahkan reaksi skeptis dari banyak netizen.

Banyak dari mereka juga yang berkata ini seperti omong kosong karena tidak ada perbedaan signifikan dari adanya PSBB atau tidak. Masih ada juga yang malah bervakansi keluar kota ketika libur panjang atau akhir pekan. Seperti nyawa mereka sudah punya banyak cadangan.

Baca juga: Mastini Hardjoprakoso: Perjalanan Kepala Perpustakaan Pertama Di Indonesia

Ini juga banyak terjadi di kota lainnya yang ada di Indonesia, tak hanya terjadi pada masyarakat Tangerang saja. Seperti contohnya yang terjadi pada akhir pekan lalu, banyak orang dari Jakarta yang malah melancong ke puncak sebelum diberlakukannya PSBB ketat pada 14 September—closingan, katanya.

Sempat ada lelucon juga di jagat maya yang berkata wajar kalau tanggal kiamat itu sengaja dirahasiakan oleh Tuhan, karena kalau manusia tahu kapan terjadinya kiamat, mereka akan meluangkan waktunya sehari atau dua hari sebelumnya untuk pergi ke puncak.

Saya paham, mungkin banyak dari kita yang penat dan muak dengan aktivitas sehari-hari belakangan ini. Namun apa itu bisa menjadi alasan dimakluminya untuk pergi bervakansi, haha hihi keluar kota, misalnya?

Sebelum pandemi ini datang juga bisa dikatakan saya ini adalah salah satu penonton acara musik yang cukup rajin hadir. Karena hal tersebut saya jadikan sebagai jalan keluar dari penatnya rutinitas harian. Namun ini gak menjadikan acara musik adalah hal yang wajib terus saya lakukan apalagi di tengah wabah seperti sekarang.

Rasanya tak lucu kalau saya tertular atau menulari orang lain sepulang gigs. Saya yang tadinya bisa saja ketawa dan menyanyi bersama banyak penonton lainnya harus menangis atau meringis sakit sesudahnya.

Jadi, menurut saya harus ada kesadaran pribadi masing-masing. Sebab di antara semua keanehan ini dan kebijakan dari pemeriantah yang masih abu-abu, kita harus dipaksa waras sejak dalam pikiran.

Oh iya, hal lucu lainnya yang juga muncul adalah golongan orang yang percaya konspirasi dan gak percaya tentang wabah ini. ya terserah sih itu mah, yang jelas jika kalian percaya banget sama adanya sebuah rencana jahat beberapa pihak yang ada di balik ini untuk rencana lainnya, terserah. Asal jangan mematikan simpati kalian saja.

Terserah deh mau bikin es kopi dalgona eposide dua, mau nonton series sampai akhirnya diulang lagi lima kali, atau melakukannya hal lainnya yang membuat kalian bisa betah di rumah.

Dan kalau untuk orang-orang yang mau tak mau harus menyambung hidup dengan keluar rumah setiap hari, jangan lupakan protokol kesehatannya, ya. Pakai masker, bawa handsanitizer.

 

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *