Perjuangan Para Sastrawan yang Coba Dibungkam Orde Baru

Masa orde baru adalah sejarah kelam Indonesia. Sepanjang 32 tahun rezim tersebut berkuasa, entah berapa banyak nyawa yang melayang karena kebijakan otoritarian yang dijalankan pemerintah. Pilihannya: tunduk atau kalian bakal tersiksa. Suatu pilihan yang berat mengingat beragam kasus kekerasan, penyiksaan, juga penghilangan paksa yang terjadi kala itu.

Meski begitu, nyatanya sikap represif tersebut tidak membuat rakyat gentar. Berbagai elemen rakyat terus melakukan perlawanan lewat beragam caranya masing-masing. Dan satu diantara mereka yang berani melakukan perlawanan adalah kelompok sastrawan yang menyerukan perjuangan lewat tulisan-tulisan mereka.

Sayangnya, sama seperti deretan kelompok juang lainnya, para seniman yang vokal menentang kebijakan rezim juga turut digelanggang ke jeruji besi. Tidak hanya itu, bahkan ada pula yang keberadaannya tidak diketahui hingga hari ini karena dihilangkan paksa oleh aparatur rezim. Meski begitu, mereka, para sastrawan yang melawan tetap diingat dan harum nama serta karyanya karena dua hal: karya yang baik serta perjuangan mereka.

Dan inilah sederet sastrawan yang dipenjarakan dan dihilangkan paksa pada masa Orde Baru:

Pramoedya Ananta Toer

Pram adalah salah satu penulis cum sastrawan paling besar yang pernah ada di Indonesia. Ia mengawali karir menulisnya ketika menjadi anggota militer dan dipenjara oleh Belanda. Sebagian karya yang Ia ciptakan adalah saksi bisu kekejaman Belanda di masa itu. Meski begitu, Belanda bukanlah musuh terbesar yang harus Pram hadapi. Adalah orde baru yang telah merenggut berbagai macam hal yang Pram miliki.

Karyanya yang paling besar; Tetralogi Bumi Manusia, lahir di Pulau Buru. Di tempat itu Ia diasingkan bersama ribuan orang lainnya karena dianggap memiliki keterikatan dengan Partai Komunis Indonesia. Kalaupun tidak, selama sudah dituduh komunis, maka rakyat bisa apa. Tanpa proses pengadilan sama sekali, setidaknya selama 14 tahun Ia harus menjalani hidup sebagai tahanan politik di Buru.

Baca Juga:  Bahayanya Buku Bajakan Dan Dampak Buruk Terhadap Penulis

Tudingan komunis lekat pada Pram karena Ia adalah anggota Lembaga Kebudayaan Rakjat, sebuah lembaga kesenian yang menjadi underbow PKI. Meski begitu, memang ada banyak orang yang terlibat di sana tidak punya hubungan langsung atau menjadi PKI. Pram sendiri adalah sastrawan yang cukup vokal bahkan sebelum orde baru berdiri.

Setelah keluar dari Buru, karya-karyanya serta buku-bukunya dibakar oleh militer. Karyanya dilarang, termasuk Bumi Manusia. Menghadapi kenyataan seperti ini, Pram tidak tinggal diam. Dalam beberapa kesempatan Ia terlibat dalam forum berisi anak muda yang mau berjuang. Bahkan, Pram sempat menyanjung para pemuda yang terlibat di Partai Rakyat Demokratik karena perjuangan mereka untuk kebebasan demokrasi.

Tanpa sastra kau hanya binatang yang pintar – Pramoedya Ananta Toer

W.S. Rendra

Bernama lengkap Wilibrordus Surendra Broto Rendra yang akrab disapa dengan nama WS Rendra ini adalah sastrawan, seniman serta budayawan yang memiliki karir lumayan gemilang. Sepulang dari Amerika Serikat, Ia membuat beberapa sajak yang menyinggung rezim orde baru secara langsung. Hal ini membuatnya mendapat ancaman teror hingga tahanan penjara.

Meski begitu, teror tak lantas membuat Rendra gentar untuk terus berkesenian dan membuat sajak. Ia juga pernah mendapat sepucuk surat yang mengancam dirinya dan keluarga pada saat pementasan di Taman Ismail Marzuki. Waktu itu ia membawakan sebuah puisi yang terlihat sebagai bentuk deklamasi serta agitasi yang dapat menganggu stabilitas keamanan nasional pada masa orde baru. Dan tiga hari pasca penyerangan di tempat pementasan tersebut WS Rendra akhirnya ditahan oleh aparat.

Di balik sosok kepenyairannya tersebut, WS Rendra tak hanya menulis sajak-sajak pamflet, atau yang berbau tentang kondisi perpolitikan Indonesia, melawan penguasa dan menyuarakan penderitaan rakyat tapi juga ia banyak menulis tentang cinta. Ya, walau yang lebih sering mengudara 3 hal tadi, seperti yang berjudul Sajak Sebatang Lisong, Balada Orang-Orang Tercinta.

Wiji Thukul

Wiji Thukul adalah seniman rakyat. Ia terlibat langsung dalam perlawanan terhadap rezim Orde Baru. Pria ini terkenal garang kepada penguasa dengan sajak kritiknya. Jika kita sering mendengar kata-kata singkat, ‘Hanya ada satu kata: Lawan!’ Itulah kata-kata milik dari Wiji yang sampai saat ini masih membekas di hati dan terus hidup di semangat para pejuang keadilan.

Dari sekian banyak karya sastra milik Thukul, ada tiga sajak yang begitu populer dan sering diperdengungkan dalam aksi-aksi massa, yaitu PeringatanSajak Suara, dan Bunga dan Tembok. Ketiganya ada dalam antologi “Mencari Tanah Lapang”

Karena perjuangan dan puisi-puisinya inilah, Thukul diburu oleh pemerintah orde baru. Ia harus melarikan diri dari Solo, ke Tangerang, lalu ke Kalimantan, hingga akhirnya Ia hilang tanpa jejak hingga hari ini. Berdasar laporan Komnas HAM, Thukul beserta belasan aktivis pro demokrasi dinyatakan hilang dengan dugaan penculikan oleh aparat militer.

Hingga kini, karya Thukul masih nyaring bersuara di hadapan rezim yang berkuasa. Dalam begitu banyak perjuangan rakyat, karya ciptaannya abadi bersama rakyat yang berjuang. Memang begitulah yang namanya seniman rakyat, walau raga tak bisa berjuang bersama, tetapi karyanya tetap membakar api perlawanan atas penindasan.

Baca Juga: Perjuangan Mpok Ris Dan Kayu Plawad

 

Komentar
Dhani Arief Wicaksono

Benci feodal namun juga bukan patriotik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *