Peringatan Hari Buku Anak Sedunia : Momentum Menyadarkan Untuk Lebih Peduli Kepada Buku dan Anak

Hari buku anak sedunia atau kata lain dari International Children’s Book Day adalah sebuah peringatan di kalender yang lumayan jarang terdengar. Paling biasanya yang umum kita tau, hari anak nasional atau tanggal–tanggal merah yang jadi momentum sebagai hari libur. Tapi tahukah kalian yang mungkin sebagian lupa atau  bahkan malah baru tau kalau sebetulnya ada hari buku anak sedunia?

Nah, hari buku anak sedunia ini tidak akan muncul tanpa adanya Hans Christian Andersen, seorang pengarang buku anak yang terkenal menghasilkan karya-karya di bidang cerita, drama hingga puisi. Tidak hanya itu, beliau juga menulis cerita fiksi kerajaan atau kisah tentang peri. Jika kalian mungkin tau cerita Little Mermaid, The Snow Queen atau The Ugly Duckling. Itulah karyanya, dan masih ada banyak karya terkenal lain yang juga berhasil beliau buat. Dari situ, makanya dunia menobatkan ia sebagai bapak buku anak yang jatuh bertepatan sesuai dengan tanggal lahirnya, yaitu tanggal 2 April.

Jika membicarakan tentang buku anak, saya langsung terpikir dengan buku cerita dongeng klasik luar negeri yang dulu ayah saya suka belikan. Pokoknya bermodel sampul tebal, kertasnya licin, dan gambarnya bagus penuh warna. Disitu minat baca saya berawal, seiring dengan seringnya membaca buku sejenis itu.

Namun entah kenapa, jika kita berkaca pada buku cerita anak dalam negeri sepertinya jarang ada yang bentuknya semenarik itu. Ada sih yang bagus tapi tidak terlalu banyak jumlahnya. Di toko buku pun lebih sering dipajang buku-buku anak yang menyajikan cerita dari luar negeri. Bila dibanding secara kemasan, buku cerita anak yang berisi dongeng lokal masih kalah menarik dengan buku ciptaan dari luar. Mungkin bagi banyak orang hal itu jadi persoalan, tapi bagi saya itu tidak jadi masalah selagi ceritanya seru dan banyak gambarnya. Yang jelas bisa menarik minat anak untuk tertarik membaca.

Baca Juga : Penyebab Mengantuk Saat Membaca

Di sisi lain, perpustakaan sekolah juga menurut saya kurang bisa menaikkan minat baca anak lewat koleksinya. Dulu seorang murid les saya pernah bertanya terkait buku bacaan dan beberapa hal di luar pelajaran sekolahnya. Setelah saya jawab dan menyarankan dia untuk lebih banyak cari tau di perpustakaan sekolahnya, sebab siapa tau saja fasilitas buku disana juga lengkap. Namun ia menjawab, siswa tidak diperkenankan untuk mencari tau dan membaca buku yang di luar mata pelajarannya. Seketika, hati saya merasa miris melihat kenyataan pahit seperti itu.

Kalaupun ada sekolah yang menyediakan buku bacaan umum, maksudnya adalah buku cerita anak. Ya, mungkin ada, tapi jarang ada perpustakaan sekolah yang memiliki banyak buku menarik untuk muridnya. Sekalinya ada, itupun tidak terawat. Sepengalaman saya mengajar di beberapa sekolah, terlihat perpustakaannya kurang terawat, sumpek, berdebu, dan panas. Koleksi bukunya juga paling banyak hanya sebatas buku mata pelajaran saja. Kalau sudah begini caranya bagaimana anak mau punya minat baca besar?

Di waktu sekarang, banyak dari generasi kita yang sudah tidak berstatus murid lagi, banyak yang sudah menjadi guru atau bahkan orangtua muda yang sudah memiliki anak. Mungkin ini terdengar klise, tapi ini benar adanya bahwa masa depan dunia ada di tangan kita sebagai generasi muda. Cara kita mengajar dan mengasuh sangat berpengaruh untuk pandangan mereka melihat segala sesuatu.

Kelak, ketika usia kita semakin lanjut, janganlah menjadi generasi tua yang menyebalkan tapi jadilah generasi bijak yang menyenangkan. Kita bisa menumbuhkan minat baca anak-anak dengan selalu mendukung bacaan mereka. Apapun yang mereka suka baca, bebaskan saja bahkan kalau bisa bimbing dari belakang.

Hal seperti itulah yang dulu ayah saya pernah terapkan. Padahal waktu kecil saya cuma suka membaca buku yang ada gambarnya, atau komik. Udah itu aja. Bahkan saya bacanya sampai sambil tiduran dan akhirnya terkena miopi. Namun dengan cara membebaskan baca buku yang disukai seperti itu, terbukti bisa menumbuhkan minat baca saya dan seiring bertambahnya umur bisa menyukai membaca buku tebal yang hurufnya banyak sekali seperti kumpulan semut berbaris.

Di peringatan hari buku anak sedunia, saya berpesan untuk kita semua agar tidak perlu kiranya berharap muluk dapat mengubah keadaan besar, seperti menggeser minat baca masyarakat Indonesia. Lakukanlah dari hal kecil terlebih dahulu dengan menumbuhkan minat baca anak sejak dini, sediakan selalu tempat dan akses buku bacaan yang layak kepada anak serta fasilitasi beragam buku cerita anak yang menarik. Dengan begitu, kepedulian kita terhadap buku dan anak berhasil terpenuhi.

Baca Juga : Apakah Masa Sekolah Menyenangkan?

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *