Perilaku Book Shaming, Memangnya Kenapa Kalau Beda Selera?

Apa sih book shaming? Siapanya body shaming?

Banyak orang mungkin masih asing dengan istilah book shaming. Sadar atau tidak kita pernah mengalaminya entah menjadi pelaku atau korban. Misalnya nih kamu suka sastra dan sudah membaca banyak buku dari penyair-penyair terkenal, lalu ketika kamu melihat orang membaca komik, kamu jadi merasa tinggi hati dan mengaggap pembaca itu pembaca dengan selera rendah. Nggak hanya itu sih, ketika kamu anggap orang yang membaca buku filsafat atau politik cuma buat nggaya, itu sudah termasuk book shaming.

Intinya, menganggap remeh orang yang sedang membaca dan berakibat pembaca merasa terintimidasi adalah perilaku book shaming. Perilaku seperti ini sama halnya body shaming. Bedanya, perilaku ini menyasar pada selera membaca, sedangkan body shaming menyasar pada tubuh seseorang.

Perilaku sok superior seperti ini belum disadari oleh banyak orang tapi saya sering menemuinya. Sempat hangat seorang admin di salah satu platform media sosial merendahkan orang-orang yang membaca jenis buku tertentu. Hal ini membuat saya miris ketika tingkat literasi kita masih rendah, perkara beda selera bacaan ternyata juga dianggap rendah.

Pembaca boleh menyukai jenis buku yang mereka mau juga mengidolakan penulis yang menginspirasinya tanpa diganggu atau dianggap jelek. Namanya juga selera, masa iya mau diperdebatkan. Mau sampai simpanse nemu jodoh di Tinder juga nggak bakalan selesai.

Nah, supaya kamu terhindar dari perilaku book shaming ini, kamu perlu tahu ciri-cirinya. Berikut adalah ciri-ciri book shaming:

  1. MengidolakanPenulis Tertentu dan Menganggap yang Lain Adalah Jelek

Kamu boleh-boleh saja mengidolakan penulis tertentu, tapi jangan menganggap penulis lain tidak pantas disukai. Kalau sudah begitu, kamu akan menilai sebuah karya dengan subjektif, karena kamu tidak akan melihat bagaimana isi karya tadi.

  1. Merendahkan Kategori Buku Tertentu

Iya deh tau, kamu suka baca buku filsafat, politik, atau analisis ekonomi. Pokoknya buku yang sulit dan bikin segan gitu. Cuma karena kamu membaca buku yang nggak mudah dipahami semua orang, bukan berarti kamu bisa anggap rendah orang yang lebih suka baca cerpen lucu atau novel cinta-cintaan. Nggak. Orang membaca buku untuk menambah pengetahuan, ada juga orang yang membaca buku untuk mencari hiburan, dan bukan hanya untuk terlihat seram biar disegani tongkrongan ya, lur~

  1. Mengatur Bacaan Orang Lain

Pernah nggak nemu orang yang melarang orang lainnya untuk membaca suatu buku terus dia yang memilihkan bacaan untuk orang tadi? Atua pernah punya pengalaman yang sama? Kamu pelaku atau korban nih? Ngaku!

Orang sudah punya minat membaca itu sudah bagus. Susah payah orang-orang membuat gerakan agar minat baca di Indonesia meningkat, eh ini malah diatur harus baca yang mana aja. Posesif banget ih, nggak suka~


Sadar atau tidak sadar, perilaku book shaming tadi dapat membuat orang merasa terintimidasi. Bayangkan, ada orang yang mau membaca komik di tempat umum tapi karena pernah diejek temannya yang lebih suka membaca karya sastra lawas jadi merasa malu dan tidak berani membaca komik di tempat umum, atau bahkan yang lebih parah yaitu berhenti membaca sama sekali.

Kita pernah terpukul ketika tahu bahwa minat baca di Indonesia rendah, banyak orang-orang sudah bersusahpayah menaikkan minat baca di Indonesia. Mulai dari penulis hingga pegiat literasi. Eh, malah dihancurkan oleh golongan book snob ini. Tidak ada yang salah dengan pilihan bacaan apapun ya. Ingat itu.

Bukan sebuah dosa kalau ada orang yang lebih menyukai buku-buku sastra, filsafat, atau buku-buku bergambar. Memangnya kenapa kalau mereka suka buku sastra, filsafat atau buku bergambar? Nggak akan membuat berantakan rute penerbangan maskapai kan? (loh)

 

Komentar
Puspita Anggraini

constantly posting about cats on her socmeds.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *